Berbalik Arah, Uni Emirat Arab Siap Ikut AS Lawan Iran demi Buka Selat Hormuz
Uni Emirat Arab (UEA) mengambil langkah drastis dalam konflik yang memanas di kawasan Teluk Persia.
Negara yang sebelumnya berhati-hati dan cenderung menjadi mediator itu kini menyatakan kesiapan untuk terlibat dalam upaya militer.
Targetnya adalah membuka kembali Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan energi dunia.
Baca juga: Dituduh Media Israel Serang Iran, Uni Emirat Arab Membantah
UEA dorong operasi militer
Para pejabat Arab, sebagaimana dilaporkan The Wall Street Journal pada Selasa (31/3/2026), menyebut UEA tengah mempersiapkan diri untuk membantu Amerika Serikat dan sekutunya membuka Selat Hormuz dengan kekuatan militer.
Jika terealisasi, UEA akan menjadi negara Teluk pertama yang secara langsung terlibat sebagai kombatan dalam konflik ini, setelah sebelumnya menjadi sasaran serangan Iran.
UEA juga melobi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa agar mengesahkan resolusi yang memberikan legitimasi pada operasi tersebut.
Selain itu, diplomat Emirat mendorong pembentukan koalisi internasional yang melibatkan negara-negara Eropa dan Asia untuk memastikan jalur pelayaran tetap terbuka.
Kementerian Luar Negeri UEA menyatakan, terdapat “konsensus global yang luas bahwa kebebasan navigasi di Selat Hormuz harus dipertahankan.”
Pernyataan itu merujuk pada resolusi PBB yang mengutuk serangan Iran terhadap kota-kota di UEA serta keputusan Organisasi Maritim Internasional yang mengecam penutupan selat tersebut.
Eskalasi serangan Iran ke UEA
Asap membubung dari Pelabuhan Zayed setelah serangan Iran di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, 1 Maret 2026. Perang Iran berkecamuk setelah serangan Amerika Serikat-Israel menghantam Teheran, memicu respons Iran menyerang pangkalan militer AS di kawasan Teluk.
Di tengah manuver diplomatik itu, Iran justru meningkatkan serangan ke wilayah UEA.
Dalam beberapa hari terakhir, serangan rudal balistik, rudal jelajah, dan drone meningkat tajam, termasuk hampir 50 serangan dalam satu hari.
Secara keseluruhan, Iran telah meluncurkan hampir 2.500 rudal dan drone ke UEA—jumlah yang disebut lebih banyak dibandingkan serangan ke negara lain, termasuk Israel.
Teheran juga memperingatkan akan menghancurkan infrastruktur vital negara Teluk mana pun yang mendukung operasi militer terhadapnya.
Serangan ini berdampak langsung pada ekonomi UEA. Lalu lintas udara dan sektor pariwisata menurun, pasar properti terdampak, serta terjadi gelombang cuti paksa dan pemutusan hubungan kerja.
Kondisi ini mengguncang citra UEA sebagai kawasan yang stabil di tengah lingkungan regional yang bergejolak.
Dari mediator ke sikap konfrontatif
Sebelum konflik pecah pada 28 Februari, UEA masih memandang Iran sebagai tetangga yang sulit tetapi rasional.
Bahkan, upaya mediasi sempat dilakukan, termasuk kunjungan pejabat keamanan Iran Ali Larijani ke Abu Dhabi.
Baca juga: Arab Saudi Bombardir Yaman, Targetkan Separatis yang Didukung Uni Emirat Arab
Namun, pecahnya perang mengubah persepsi tersebut. Seorang pejabat Teluk menyebut Iran kini dinilai berupaya menyebar kepanikan melalui serangan ke target sipil seperti hotel dan bandara di Dubai.
Perubahan sikap ini juga terlihat dari langkah-langkah domestik, seperti pembatasan masuk bagi warga Iran serta penutupan fasilitas yang terkait dengan Iran di Dubai.
Risiko besar UEA
Meski bersiap terlibat, langkah UEA mengandung risiko besar. Iran telah memperingatkan akan meningkatkan agresi terhadap negara-negara yang ikut dalam operasi militer.
Selain itu, keterlibatan UEA berpotensi memperpanjang ketegangan bahkan setelah perang berakhir.
Elizabeth Dent, peneliti di Washington Institute for Near East Policy, menggambarkan dilema tersebut.
“Mereka bisa masuk ke perang ini hanya untuk menghadapi Iran yang lebih agresif, terus menerima serangan terhadap infrastruktur penting, serta berpotensi kehilangan kepercayaan investor, lalu kesulitan memperbaiki hubungan dengan tetangga mereka, terutama jika Presiden AS Donald Trump memilih mengeklaim kemenangan sebelum membuka kembali selat atau melumpuhkan kemampuan rudal dan drone Iran,” ujarnya.
Di sisi lain, efektivitas operasi militer untuk membuka Selat Hormuz juga dipertanyakan. Analis militer menilai upaya tersebut tidak hanya membutuhkan penguasaan jalur laut, tetapi juga wilayah daratan di sepanjang selat.
Anggota DPR AS Adam Smith menyatakan skeptis. “Saya tidak berpikir kita bisa melakukannya. Iran hanya perlu menjaga ancaman terhadap selat, yang berarti mereka hanya butuh satu drone, satu ranjau, atau satu kapal kecil bermuatan bahan peledak,” katanya.
Taruhan besar di jalur energi dunia
Meski penuh risiko, negara-negara Teluk yang mendukung aksi militer menilai ancaman dari kontrol Iran atas Selat Hormuz terlalu besar untuk diabaikan. Jalur ini merupakan nadi ekspor energi, bisnis pelayaran, hingga pasokan pangan kawasan.
UEA sendiri memiliki sejumlah keunggulan strategis, mulai dari pangkalan militer, pelabuhan laut dalam di Jebel Ali, hingga kedekatan geografis dengan pintu masuk Selat Hormuz.
Negara ini juga memiliki angkatan udara yang cukup mumpuni serta persenjataan dari Amerika Serikat yang dapat mendukung operasi.
Baca juga: Situasi Terkini Banjir yang Lumpuhkan Uni Emirat Arab
Tag: #berbalik #arah #emirat #arab #siap #ikut #lawan #iran #demi #buka #selat #hormuz