4 Skenario jika Trump Tinggalkan Perang Iran Tanpa Buka Selat Hormuz
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dilaporkan bersedia mengakhiri perang dengan Iran tanpa memastikan Selat Hormuz kembali dibuka.
Selat yang menjadi jalur vital bagi sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia tersebut kini menjadi sumber kecemasan global.
Penutupan selat telah mendorong harga minyak mendekati level tertinggi empat tahun terakhir, berdampak pada konsumen dan bisnis di seluruh dunia.
Baca juga: Ambil Rute Tak Biasa, Kapal India Lolos dari Selat Hormuz
Sejumlah pakar dan pejabat internasional memprediksi beberapa skenario yang mungkin terjadi jika AS mundur dari konflik ini tanpa menyelesaikan masalah Selat Hormuz.
Iran tetap mengontrol Selat Hormuz
Skenario pertama adalah Iran mempertahankan kendali atas selat, dengan blokade selektif yang mengizinkan hanya beberapa kapal tertentu melintas.
Menurut Michelle Bockmann, analis maritim di Windward, blokade selektif tersebut diawasi ketat oleh IRGC.
“Banyak pelayaran bersifat ‘semi-gelap’, dengan kapal mematikan transponder mereka. Dan sifat kesepakatan antara Iran, pemerintah lain, dan perusahaan pelayaran tetap menjadi misteri,” kata Bockmann, seperti dikutip dari The Telegraph, Selasa (31/3/2026).
Dengan pengawasan ketat oleh IRGC, lalu lintas kapal menurun drastis dari sekitar 138 kapal per hari menjadi hanya beberapa unit.
Sejauh ini, hanya kapal-kapal tertentu, termasuk dari China, India, Pakistan, dan Bangladesh yang berhasil melintas melalui jalur yang disetujui.
Iran memungut biaya untuk transit
Skenario kedua, Iran bisa memonetisasi jalur Selat Hormuz. Alaeddin Boroujerdi, anggota komite keamanan parlemen Iran, menyebut pada 22 Maret bahwa Iran mengenakan biaya sebesar 2 juta dollar AS (sekitar Rp 34 miliar) per kapal yang melewati rute Larak.
“Skenario yang paling mungkin adalah mereka mengenakan biaya ini, dan mereka menghasilkan uang dari pelayaran jika Trump pergi sekarang,” ujar Bockmann.
Rencana ini bahkan telah disetujui oleh parlemen Iran, yang berencana membagi sebagian pendapatan dengan negara tetangga sebagai bagian dari upaya mendapatkan dukungan regional.
Namun, pengenaan biaya ini kemungkinan bertentangan dengan hukum laut internasional.
Baca juga: Berbalik Arah, Uni Emirat Arab Siap Ikut AS Lawan Iran demi Buka Selat Hormuz
Negara lain membuka selat tanpa bantuan AS
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer sedang mengorganisir 35 negara untuk memastikan keamanan maritim di Teluk dan membuka kembali jalur Selat Hormuz.
Skenario ketiga, jika AS mundur, negara lain atau aliansi internasional bisa mengambil alih untuk menjamin keamanan pelayaran.
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer dan pejabat lainnya sedang mengorganisir 35 negara untuk memastikan keamanan maritim di Teluk dan membuka kembali jalur Selat Hormuz.
“Alternatifnya, tentu saja, adalah menghancurkan kemampuan militer Iran yang menargetkan Selat Hormuz,” kata pakar Matthew Oresman, sebagaimana dilansir The Independent.
Selain itu, Marco Rubio, Menteri Luar Negeri AS, menyebut adanya rencana untuk membentuk konsorsium internasional yang mengelola selat dengan “tanpa biaya, dan sirkulasi bebas”.
Ada kemungkinan operasi ini mirip dengan koridor gandum Laut Hitam yang dibentuk PBB untuk memastikan jalur aman bagi kapal.
Gangguan jangka panjang di selat
Skenario keempat adalah AS mengakhiri operasi militernya tanpa kesepakatan apa pun mengenai selat, meninggalkan wilayah ini dalam ketidakpastian dan gangguan jangka panjang.
Dan Brouillette, mantan Menteri Energi AS, mengatakan, “Jika itu terjadi, Iran mendapat persis apa yang diinginkannya. Mereka mendapat gencatan senjata sambil tetap memegang kendali, dan ini lebih terlihat seperti jeda daripada kesepakatan.”
Dalam kondisi ini, harga energi akan tetap tinggi, dan negara-negara yang bergantung pada jalur tersebut harus menegosiasikan langsung dengan Iran.
Baca juga: Jika Iran Buka Selat Hormuz, Apakah Krisis Energi Dunia Langsung Reda?
Tag: #skenario #jika #trump #tinggalkan #perang #iran #tanpa #buka #selat #hormuz