Ratapan Insiyur Iran: 2 Tahun Bangun Jembatan Terbesar, Hancur 3 Jam Dibom AS
Jembatan B1, sehari setelah serangan Amerika Serikat yang menghancurkan jembatan terbesar di Iran sekaligus tertinggi di Timur Tengah itu, yang terletak di Kota Karaj, difoto pada 3 April 2026.(AFP/ATTA KENARE)
19:48
4 April 2026

Ratapan Insiyur Iran: 2 Tahun Bangun Jembatan Terbesar, Hancur 3 Jam Dibom AS

- Serangan udara Amerika Serikat (AS) menghancurkan jembatan tertinggi di Timur Tengah yang sedang dibangun di Karaj, Iran, dan menewaskan warga sipil serta memicu kecaman dari pejabat setempat.

Insinyur Iran, Roozbeh Yazdi, berdiri di antara reruntuhan proyek tersebut sambil menahan emosi.

"Jembatan ini seperti anak kami," katanya, dikutip dari AFP pada Sabtu (4/4/2026).

Baca juga: Usai Ancaman “Zaman Batu” Trump, AS Runtuhkan Jembatan Strategis Iran

Wartawan AFP mengunjungi lokasi itu pada Jumat (3/4/2026) dalam tur pers yang difasilitasi otoritas Iran di Kota Karaj, sebelah barat Teheran.

Seorang pejabat menyebutkan bahwa 12 bom dijatuhkan dalam serangan sehari sebelumnya.

Dua pilar utama jembatan masih berdiri, sedangkan tulisan “Iran” dalam kaligrafi tetap terlihat pada struktur yang tersisa.

Namun, ledakan besar membelah jembatan di bagian tengah sehingga struktur utama terputus.

Serangan lanjutan menghancurkan ujung-ujung dek jembatan, menyisakan balok baja bengkok dan potongan beton yang menggantung di atas jurang.

Para ahli belum dapat memastikan apakah jembatan tersebut masih bisa diperbaiki.

“Kami bekerja keras merakit bagian-bagian ini. Kami menangis, kami berkeringat deras,” ratap Yazdi.

Ia menjelaskan bahwa jembatan itu seharusnya dibuka pada musim panas tahun ini.

Dua crane yang masih berdiri di lokasi menunjukkan bahwa proyek tersebut belum sepenuhnya selesai.

Jembatan itu belum memiliki nama resmi dan untuk sementara disebut sebagai proyek B1.

“Kami menganggap jembatan ini sebagai anak kami dan kami sangat bangga melihatnya tumbuh,” kata Yazdi.

Baca juga: Belum Dibuka, Jembatan Besar Rp 9,3 Triliun Sudah Retak-retak

Digarap siang-malam

Jembatan yang menghubungkan Karaj dan ibu kota Iran, Teheran, runtuh dibombardir serangan AS.Tangkapan layar X @OSINTdefender Jembatan yang menghubungkan Karaj dan ibu kota Iran, Teheran, runtuh dibombardir serangan AS.Di lembah bawah jembatan, sejumlah keluarga sedang piknik ketika ledakan terjadi.

Wartawan AFP melihat vila dan bangunan tempat tinggal dengan jendela pecah di sekitar lokasi, tanpa indikasi adanya instalasi militer.

Berdasarkan data terbaru dari yayasan martir Provinsi Alborz yang dikutip kantor berita IRNA, serangan tersebut menewaskan 13 warga sipil dan melukai puluhan lainnya.

“Mereka (AS dan Israel) hanya menyerang infrastruktur negara dan rakyat,” kata insinyur lain, Hamed Zekri (41).

"Kami mengerjakan jembatan ini selama dua tahun... Siang dan malam... Pada akhirnya, usaha kami hancur dalam tiga jam," ujarnya.

Ia mengaku sangat terpukul hingga kesulitan mengungkapkan perasaannya.

Baca juga: AS-Iran Balapan Cari Pilot F-15 yang Jatuh, Kenapa Harus Adu Cepat?

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump secara terbuka mengeklaim serangan tersebut melalui media sosial.

"Jembatan terbesar di Iran roboh, tidak akan pernah dipakai lagi," tulis Trump di platform Truth Social.

"SUDAH SAATNYA IRAN MEMBUAT KESEPAKATAN SEBELUM TERLAMBAT, DAN TIDAK ADA YANG TERSISA DARI APA YANG MASIH BISA MENJADI NEGARA YANG HEBAT!" lanjutnya.

Trump juga menyatakan bahwa serangan tersebut bukan akhir dari operasi militer.

Dalam unggahan lain, ia menulis bahwa militer AS "bahkan belum mulai menghancurkan apa yang tersisa di Iran".

"Jembatan selanjutnya, lalu Pembangkit Listrik!" ujarnya.

Baca juga: Cara Media Israel Memberitakan Perang Iran: Glorifikasi Militer dan Samarkan Kerusakan Rudal

Semangat Iran tak akan goyah

Warga Iran mengibarkan bendera negara saat menghadiri pemakaman para komandan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) yang tewas dalam serangan Amerika Serikat-Israel, di Lapangan Enghelab, Teheran, 11 Maret 2026.AFP/ATTA KENARE Warga Iran mengibarkan bendera negara saat menghadiri pemakaman para komandan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) yang tewas dalam serangan Amerika Serikat-Israel, di Lapangan Enghelab, Teheran, 11 Maret 2026.Pernyataan tersebut memicu respons dari Pemerintah Iran.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa serangan terhadap infrastruktur sipil tidak akan mematahkan semangat rakyat.

"Menyerang bangunan sipil, termasuk jembatan yang belum selesai, tidak akan memaksa rakyat Iran untuk menyerah," tulisnya di platform X.

Menurut kantor berita ISNA, B1 merupakan salah satu proyek infrastruktur paling kompleks di Iran.

Jembatan itu dibangun dengan sistem “ekstradosed” yang menggabungkan kabel suspensi dan lengkungan untuk menopang dek.

Strukturnya memiliki ketinggian hingga 176 meter dan panjang mencapai 1.050 meter.

Baca juga: Tembak Jatuh 2 Jet AS, Iran Buktikan Strateginya Efektif meski Sedang Melemah

Pembangunan jembatan ini merupakan bagian dari proyek jalan raya besar yang bertujuan mempercepat perjalanan antara Teheran dan wilayah utara Iran.

Rute tersebut dikenal sebagai jalur favorit masyarakat untuk perjalanan akhir pekan ke kawasan Laut Kaspia.

Ketegangan semakin meningkat setelah kantor berita Fars merilis daftar jembatan di kawasan yang berpotensi menjadi target balasan Iran.

Jembatan Sheikh Jaber Al Ahmad Al Sabah di Kuwait sepanjang 36 kilometer disebut sebagai target utama.

Jembatan Raja Fahd yang menghubungkan Arab Saudi dan Bahrain juga masuk dalam daftar tersebut.

Baca juga: Iran Buru Pilot AS yang Jatuh, Janjikan Hadiah Jika Warga Berhasil Tangkap

Tag:  #ratapan #insiyur #iran #tahun #bangun #jembatan #terbesar #hancur #dibom

KOMENTAR