Lewat Selat Hormuz Harus Bayar Rp 33 M, Ini Berbagai Dampaknya
Ilustrasi kapal kontainer. Pemerintah Iran dilaporkan mulai menerapkan kebijakan tarif tol untuk kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz.(Freepik/Slon.Pics)
14:54
12 April 2026

Lewat Selat Hormuz Harus Bayar Rp 33 M, Ini Berbagai Dampaknya

- Penerapan tarif lintas di Selat Hormuz dapat menimbulkan risiko ekonomi dan geopolitik yang besar, menurut para ahli.

Seperti diketahui, Iran menutup dan mengendalikan Selat Hormuz sejak AS dan Israel melancarkan serangan gabungan pada akhir Februari 2026.

Pemerintah Iran mulai menerapkan kebijakan "tarif tol" untuk kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz dalam bentuk aset kripto atau yuan China.

Baca juga: AS Tuding Iran Tak Bisa Temukan Ranjau Laut yang Ditanam di Selat Hormuz


Hal itu menimbulkan kekhawatiran tentang potensi dampak ekonomi terhadap harga minyak dan bahan bakar.

Dikutip dari Kompas.com, Kamis (2/4/2026), tarif yang diusulkan adalah sebesar 1 dollar AS atau sekitar Rp 17.000 per barel minyak.

Adapun kapasitas kapal tanker raksasa atau Very Large Crude Carrier (VLCC) rata-rata mencapai 2 juta barrel.

Dengan demikian, satu kapal tanker VLCC diperkirakan harus merogoh kocek hingga 2 juta dollar AS atau sekitar Rp 33 miliar untuk sekali melintasi jalur tersebut.

Baca juga: AS dan Inggris Bahas Pemulihan Jalur Kapal di Selat Hormuz

Meskipun tarif dipatok berdasarkan nilai dollar AS, Iran dilaporkan mewajibkan pembayaran dilakukan menggunakan mata uang Yuan China dan aset digital stablecoin.

Dilansir CBS News, Jumat (10/4/2026), untuk saat ini, Iran belum secara resmi menerapkan pungutan tarif untuk selat tersebut.

Namun, Teheran mengindikasikan pekan ini bahwa berdasarkan kesepakatan perdamaian jangka panjang untuk membuka selat tersebut, mereka akan mengenakan biaya untuk menjamin keamanan jalur.

Baca juga: AS Kirim Kapal Perang ke Selat Hormuz, Trump Sindir Negara yang Butuh tapi Pelit

Tarif tol menimbulkan risiko ekonomi dan geopolitik

Menurut para analis dari Capital Economics, pengenaan bea masuk Selat Hormuz oleh Iran akan memberikan mereka kendali de facto atas jalur penting tersebut.

Kondisi tersebut dapat menjadi sumber risiko geopolitik baru bagi perekonomian dunia.

Kepala ekonom Capital Economics Neil Shearing mengatakan, biaya tambahan tersebut saja tidak akan secara signifikan memengaruhi harga minyak global secara keseluruhan.

"Hal itu tidak akan menambah banyak biaya produksi. Mereka tetap akan mendapatkan keuntungan besar per barel minyak." kata Shearing kepada CBS News.

Baca juga: 2 Kapal Perang AS Bersihkan Ranjau Selat Hormuz, Iran Respons Keras

Namun, dia memperkirakan harga minyak akan tetap tinggi selama berbulan-bulan jika Teheran mempertahankan kendali yang kuat atas selat tersebut, terlepas dari apakah akan diberlakukan tarif atau tidak.

Shearing juga menekankan adanya risiko bahwa Iran dapat menggunakan ancaman peningkatan tarif tol sebagai pengaruh terhadap negara lain.

"Masih ada pertanyaan terbuka apakah hal itu akan digunakan sebagai senjata ekonomi di masa depan," katanya.

Baca juga: Eropa Akan Hadapi Krisis Bahan Bakar Pesawat jika Selat Hormuz Tetap Ditutup

Asuransi dan kondisi infrastruktur memengaruhi biaya

Ilustrasi Selat Hormuz. Mirip Iran, Trump Sebut AS Bisa Tarik Biaya Tol untuk Melewati Selat HormuzGOOGLE MAPS Ilustrasi Selat Hormuz. Mirip Iran, Trump Sebut AS Bisa Tarik Biaya Tol untuk Melewati Selat Hormuz

Pungutan tarif di Selat Hormuz juga akan mendorong penyedia asuransi kapal untuk menaikkan tarif mereka, yang selanjutnya akan meningkatkan biaya energi.

"Akan butuh waktu lama bagi pemilik kapal dan perusahaan asuransi untuk merasa nyaman dengan model yang tidak biasa ini, dan tarif pengangkutan serta premi asuransi akan tetap tinggi," kata Artem Abramov, kepala bidang minyak dan gas di Rystad Energy.

"Mereka menambah biaya pada minyak, dan semua biaya ini dialihkan kepada konsumen," sambungnya.

Baca juga: Alasan Iran Tak Kunjung Buka Selat Hormuz: Tak Tahu Letak Ranjau yang Disebar

Terlepas dari itu, faktor penting yang juga memengaruhi biaya energi adalah tingkat kerusakan fasilitas minyak dan gas alam di kawasan Teluk.

"Masalah yang lebih besar bagi harga minyak adalah kerusakan infrastruktur, bukan biaya tol," kata Sassan Ghahramani, CEO SGH Macro Advisors.

Menurutnya, kondisi wilayah Timur Tengah yang babak belur saat ini yang akan mengubah pasar energi.

Tag:  #lewat #selat #hormuz #harus #bayar #berbagai #dampaknya

KOMENTAR