Masih Mampukah Iran Ekspor Minyak Saat AS Blokade Selat Hormuz?
Ilustrasi kilang minyak Iran.(Reuters)
20:30
15 April 2026

Masih Mampukah Iran Ekspor Minyak Saat AS Blokade Selat Hormuz?

Blokade laut yang diberlakukan Amerika Serikat terhadap Iran resmi dimulai pada Senin (13/4/2026), sebagai upaya menekan Teheran agar menerima syarat penghentian perang.

Langkah ini langsung menuai kecaman dari Iran yang menyebutnya sebagai tindakan ilegal dan “setara dengan pembajakan”.

Meski Iran selama ini mampu bertahan di bawah sanksi, blokade laut dinilai berpotensi memberikan pukulan lebih besar terhadap ekonominya.

Baca juga: 24 Jam Blokade Selat Hormuz: Pelabuhan Iran Lumpuh, Negosiasi Berpeluang Lanjut

Dampak langsung pada ekspor minyak

Dilansir Al Jazeera, Selasa (14/4/2026), sebagian besar ekspor energi Iran bergantung pada jalur laut melalui Selat Hormuz, yang menjadi jalur vital bagi sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia. Sekitar 80 persen ekspor minyak Iran melewati selat ini.

Menariknya, selama fase awal konflik, Iran justru mencatat peningkatan pendapatan dari minyak.

Pada Maret, Iran mengekspor sekitar 1,84 juta barel per hari, dan sejauh April mencapai 1,71 juta barel per hari—lebih tinggi dibanding rata-rata tahun ini sebesar 1,68 juta barel per hari.

Dalam periode 15 Maret hingga 14 April, total ekspor mencapai 55,22 juta barel, dengan harga minyak Iran tidak pernah turun di bawah 90 dollar AS (sekitar Rp 1,5 juta) per barel, bahkan kerap melampaui 100 dollar AS (sekitar Rp 1,7 juta).

Dengan asumsi konservatif 90 dollar AS per barel, Iran meraup sekitar 4,97 miliar dollar AS (sekitar Rp 85 triliun) dalam sebulan terakhir—sekitar 40 persen lebih tinggi dibanding sebelum perang.

Namun, situasi berubah drastis setelah blokade diberlakukan. “Iran tidak akan bisa mengekspor minyak, setidaknya tidak pada tingkat yang sama,” kata Mohamad Elmasry, profesor di Doha Institute for Graduate Studies.

Ia juga menambahkan, “Iran juga tidak akan bisa mendapatkan pemasukan dari biaya yang dikenakan pada kapal yang melintas.”

Pendapat serupa disampaikan Frederic Schneider dari Middle East Council on Global Affairs. Ia menilai periode sebelumnya merupakan keuntungan bagi Iran, namun kondisi itu tidak akan bertahan.

“Iran memiliki cadangan berupa minyak mentah di tangki terapung, yakni kapal tanker yang diparkir, yang diperkirakan sekitar 127 juta barel pada Februari. Tetapi itu tidak berarti blokade tidak akan menyakiti Iran,” ujarnya.

Ancaman terhadap perdagangan non-minyak

Dampak blokade tidak hanya terbatas pada sektor energi. Perdagangan barang lain juga terancam terganggu karena pelabuhan Iran menjadi target pembatasan.

Ekspor utama Iran seperti petrokimia, plastik, dan produk pertanian—yang banyak dikirim ke China dan India—berisiko tersendat. Sementara itu, impor penting seperti mesin industri, elektronik, dan pangan yang berasal dari China, Uni Emirat Arab, dan Turkiye juga bisa terhambat.

Data Administrasi Bea Cukai Iran menunjukkan bahwa total perdagangan nonmigas negara itu mencapai 94 miliar dollar AS (sekitar Rp 1.612 triliun) dalam periode Maret 2025 hingga Januari, dengan impor lebih besar daripada ekspor. ‘Artinya, gangguan pada jalur perdagangan berpotensi memperburuk defisit dan menekan pasokan domestik.

Schneider memperingatkan, jika perdagangan non-hidrokarbon terganggu, dampaknya tidak hanya pada pendapatan tetapi juga ketersediaan barang.

“Jika perdagangan non-hidrokarbon terganggu, itu tidak hanya akan menjadi pukulan bagi pendapatan tetapi juga pasokan, dan akan menyebabkan meningkatnya kelangkaan dalam negeri di ekonomi yang sudah sangat tertekan oleh sanksi sebelum perang,” katanya.

Baca juga: Korsel Dapat 273 Juta Barrel Minyak dari 4 Negara yang Tak Lewati Selat Hormuz

Jalur alternatif

Ilustrasi Selat Hormuz.Wikimedia Commons/Earth Science and Remote Sensing Unit, NASA Johnson Space Center Ilustrasi Selat Hormuz.

Untuk mengurangi ketergantungan pada jalur laut seperti Selat Hormuz dan Selat Malaka, Iran bersama China mengembangkan jalur kereta lintas Asia Tengah.

Jalur ini menghubungkan China dengan Iran melalui Kazakhstan, Uzbekistan, dan Turkmenistan.

Sejak 2016, kereta barang dari China telah mencapai Iran, menandai dimulainya koneksi logistik darat antara kedua negara.

Menurut laporan lembaga konsultasi geopolitik SpecialEurasia, jalur ini “membantu mengurangi risiko intersepsi laut oleh kekuatan Barat yang menghambat perdagangan Iran, khususnya pengangkutan minyak mentah oleh kapal ‘hantu’ milik Teheran.”

Namun, penggunaan jalur darat untuk minyak menghadapi kendala besar. “Penting untuk dicatat bahwa pengangkutan hidrokarbon melalui jalur kereta menghadapi tantangan logistik yang signifikan,” tulis laporan tersebut.

Hingga kini, tidak ada bukti kredibel bahwa Iran mengangkut minyak ke China melalui jalur ini.

Efektivitas blokade juga sangat bergantung pada sikap China, yang menjadi tujuan utama hampir seluruh ekspor minyak Iran. Data menunjukkan sekitar 97,6 persen minyak Iran yang berada di laut ditujukan ke negara tersebut.

Schneider meragukan China akan tunduk pada blokade. “Sebagian besar tanker Iran menuju China, dan saya tidak melihat China akan mematuhi blokade ini,” ujarnya.

Ia juga menambahkan, “Saya juga tidak melihat Angkatan Laut AS akan menyita atau bahkan menenggelamkan kapal-kapal ini.”

Ia menilai situasi sangat dinamis dan berpotensi berubah cepat. “Sangat sulit untuk mengatakan seberapa serius AS terhadap blokade ini, berapa lama akan berlangsung, bagaimana akan berakhir, dan apa yang akan terjadi selanjutnya,” katanya.

Menurutnya, perkembangan bisa mengarah pada dua kemungkinan: meredanya konflik melalui gencatan senjata atau justru eskalasi lebih lanjut dengan serangan militer yang kembali meningkat.

Baca juga: Hubungan Memanas, Eropa Rancang Misi Amankan Selat Hormuz Tanpa Libatkan AS

Tag:  #masih #mampukah #iran #ekspor #minyak #saat #blokade #selat #hormuz

KOMENTAR