Tak Gentar Diancam Trump, Inggris Tetap Ogah Ikut Perang Lawan Iran
Meski mendapat ancaman Presiden AS Donald Trump, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menyatakan bahwa negaranya tidak mau terlibat dalam perang melawan Iran.(AFP/MATTHEW HORWOOD)
20:42
15 April 2026

Tak Gentar Diancam Trump, Inggris Tetap Ogah Ikut Perang Lawan Iran

Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menegaskan bahwa negaranya tidak akan terseret ke dalam konflik dengan Iran, meski mendapat tekanan dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Sebelumnya, Trump mengancam akan mengubah kesepakatan dagang dengan Inggris setelah London menolak bergabung dalam operasi blokade Selat Hormuz.

Starmer menyatakan, keputusan tersebut diambil demi kepentingan nasional Inggris.

Baca juga: Masih Mampukah Iran Ekspor Minyak Saat AS Blokade Selat Hormuz?

Inggris tak mau ikut perang

Dalam pernyataannya di parlemen, Starmer menegaskan sikap pemerintah Inggris terhadap konflik yang melibatkan Iran.

“Kami tidak akan terseret ke dalam perang ini. Ini bukan perang kami,” ujarnya pada Rabu (15/4/2026), seperti dikutip AFP.

Ia juga menekankan bahwa dirinya tidak akan mengubah keputusan tersebut.

Saya tidak akan mengubah pikiran saya. Saya tidak akan menyerah. Tidak ada kepentingan nasional bagi kami untuk bergabung dalam perang ini,” tambah pemimpin Partai Buruh itu.

Ancaman Trump pada Inggris

Dalam wawancara via telepon dengan Sky News, Trump mengancam akan mengubah kesepakatan dagang yang sebelumnya dicapai dengan Inggris.

Adapun perjanjian yang disepakati tahun lalu menetapkan tarif sebesar 10 persen untuk sebagian besar barang manufaktur Inggris. Sebagai imbalannya, Inggris membuka pasar lebih luas bagi etanol dan daging sapi asal Amerika, yang sempat memicu kekhawatiran di dalam negeri.

Awalnya, kesepakatan ini dinilai menguntungkan bagi London karena mendapatkan tarif terendah dari AS.

Namun, keunggulan itu melemah setelah Mahkamah Agung AS membatalkan sebagian tarif, yang kemudian direspons Washington dengan menerapkan tarif sementara 10 persen terhadap hampir semua impor sambil menyiapkan rezim tarif baru pada Juli mendatang.

Baca juga: 24 Jam Blokade Selat Hormuz: Pelabuhan Iran Lumpuh, Negosiasi Berpeluang Lanjut

Hubungan memburuk di tengah konflik

Kombinasi foto-foto ketika Amerika Serikat menyerang Iran pada Sabtu (28/2/2026), berisi Presiden AS Donald Trump dan sejumlah pejabat di Gedung Putih mengamati Operation Epic Fury.THE WHITE HOUSE via AFP Kombinasi foto-foto ketika Amerika Serikat menyerang Iran pada Sabtu (28/2/2026), berisi Presiden AS Donald Trump dan sejumlah pejabat di Gedung Putih mengamati Operation Epic Fury.

Hubungan antara kedua negara semakin memburuk, terutama terkait sikap Inggris terhadap operasi militer AS di Iran.

Starmer sempat menolak permintaan penggunaan pangkalan militer Inggris untuk serangan awal AS bulan lalu.

Namun, ia kemudian menyetujui penggunaan dua pangkalan militer Inggris untuk “tujuan defensif yang spesifik dan terbatas”.

Trump mengkritik sikap tersebut dengan keras. “Ini adalah hubungan di mana ketika kami meminta bantuan, mereka tidak ada,” katanya.

Retorika Inggris makin keras

Pemerintahan Partai Buruh yang dipimpin Starmer, yang sebelumnya berupaya menjaga hubungan dengan Trump sejak kembali ke Gedung Putih pada Januari 2025, kini mulai mengeraskan sikapnya.

Menteri Keuangan Rachel Reeves mengecam langkah Trump yang dinilai gegabah dalam memulai perang dengan Iran. Ia menyebutnya sebagai “kebodohan” karena dilakukan “tanpa jalan keluar yang jelas.”

Sementara itu, Starmer juga mengkritik pernyataan Trump yang mengancam akan menghancurkan “peradaban” Iran.

Menteri Kesehatan Wes Streeting bahkan menyebut bahasa yang digunakan Trump sebagai “menghasut, provokatif, dan keterlaluan”.

Meski hubungan politik memanas, Starmer menegaskan bahwa ikatan historis antara Inggris dan Amerika Serikat tetap kuat. Hal ini disampaikan terkait kunjungan kenegaraan Raja Charles III ke AS bulan ini.

Ia mengatakan bahwa “ikatan lama kedua negara jauh lebih besar daripada siapa pun yang menduduki jabatan tertentu pada waktu tertentu”.

Baca juga: China Bantah Tuduhan Dukung Militer Iran, Ancam Balas Tarif AS

Tag:  #gentar #diancam #trump #inggris #tetap #ogah #ikut #perang #lawan #iran

KOMENTAR