Ketika Armada Bayangan Iran Bertemu Lawan Sepadan Saat Blokade AS...
Kapal-kapal melintasi Selat Hormuz pada 24 Juni 2025, saat difoto dari pesisir Khasab, Semenanjung Musandam, Oman.(AFP/GIUSEPPE CACACE)
09:54
16 April 2026

Ketika Armada Bayangan Iran Bertemu Lawan Sepadan Saat Blokade AS...

- Kapal tanker Rich Starry, yang dikenal sebagai bagian dari armada bayangan penyokong ekonomi Iran, terpantau melakukan manuver mencurigakan setelah sempat bersembunyi dari pantauan radar selama lebih dari 10 hari.

Kapal tanker minyak dan kimia asal China tersebut mencoba meninggalkan wilayah Teluk melalui Selat Hormuz pekan ini. 

Namun, saat memasuki Teluk Oman pada Rabu (15/4/2026), kapal tersebut melakukan putar balik mendadak dan memilih berlabuh kembali di lepas pantai Iran setelah berhadapan dengan barikade angkatan laut Amerika Serikat.

Dikutip dari Wall Street Journal, Rich Starry hanyalah satu dari sekian banyak kapal di "dunia bawah" perkapalan yang dirancang untuk menghindari sanksi internasional. 

Namun, blokade ketat AS kali ini tampaknya menjadi tandingan yang sepadan bagi armada yang selama bertahun-tahun mahir meloloskan diri tersebut.

Baca juga: Lagi, Senat AS Tolak Resolusi Pembatasan Tindakan Trump terhadap Iran

Taktik manipulasi dan sinyal palsu

Dirakit oleh Iran, Rusia, dan Venezuela, kapal-kapal semacam itu menggunakan berbagai metode untuk menghindari deteksi.

Ini termasuk dengan mematikan sistem transponder yang menyiarkan identitas dan lokasi kapal atau memalsukan sinyal dengan menyiarkan informasi palsu tentang posisi mereka. 

Kapal-kapal Iran juga memindahkan minyak dari satu kapal ke kapal lain di laut untuk menyembunyikan asal muatan mereka.

“Mereka ahli dalam menghindari deteksi,” kata Bridget Diakun, analis risiko dan kepatuhan senior di Lloyd's List Intelligence, sebuah perusahaan analisis perkapalan. 

“Bukan hanya satu atau dua orang yang melakukan ini, tetapi banyak dari mereka,” sambungnya.

Baca juga: Perang Iran Kuras Senjata AS, Pentagon Minta Bantuan Pabrik Mobil

Pasukan AS mulai Senin (13/4/2026) memblokade semua kapal yang masuk atau keluar dari pelabuhan Iran untuk menekan Teheran agar membuka kembali jalur perairan Selat Hormuz.

Namun, kapal Rich Starry yang dikenai sanksi oleh Departemen Keuangan karena membawa produk-produk Iran, menunjukkan kompleksitas dalam mengidentifikasi kapal mana yang mungkin membawa barang dari Iran. 

Selama seminggu terakhir, kapal tersebut menyiarkan sinyal bahwa mereka berkeliaran di lepas pantai Uni Emirat Arab, menurut perusahaan data maritim Kpler. 

Itu adalah jejak palsu, menurut analis Lloyd's List yang meneliti data bersama dengan analitik canggih dan intelijen manusia untuk mendeteksi pemalsuan sinyal. 

Mereka menemukan, Rich Starry memalsukan sinyalnya selama lebih dari 10 hari hingga mencoba meninggalkan Teluk Persia pada Selasa, memberinya kesempatan untuk memuat produk minyak Iran selama periode tersebut.

Baca juga: Cekik Iran Jelang Negosiasi, AS Umumkan Sanksi Baru untuk Teheran

AS minta bantuan intelijen

Selat Hormuz saat dilihat dari Satelit Terra milik NASA pada 5 Februari 2025.NASA EARTH OBSERVATORY via AFP Selat Hormuz saat dilihat dari Satelit Terra milik NASA pada 5 Februari 2025.

AS harus mengandalkan intelijen, data satelit dan pelacakan, serta drone dan kontak radio dengan untuk mengidentifikasi potensi kapal yang menerobos blokade. 

AS juga telah menempatkan lebih dari 15 kapal perang untuk tujuan blokade tersebut. 

Penempatan kapal di pantai Iran dapat membuat aset AS rentan terhadap serangan, sehingga AS kemungkinan akan mencoba mencegat atau mengkarantina kapal komersial di Laut Arab.

Pada Rabu, Centcom mengeklaim, tidak ada kapal yang berhasil menembus blokade pelabuhan Iran dalam 48 jam pertama. 

Baca juga: AS Optimis Capai Kesepakatan dengan Iran, Peringatkan Tekanan Ekonomi jika Menolak

Sembilan kapal mematuhi arahan dari pasukan AS untuk berbalik arah dan memasuki kembali pelabuhan Iran di Teluk Oman.

Menurut Lloyd's, setidaknya 10 kapal melintasi selat tersebut pada Selasa, beberapa di antaranya menunjukkan ciri khas aktivitas armada bayangan, kata analis perkapalan. 

Sebuah kapal pengangkut barang curah berbendera Panama bernama Manali melintasi Teluk pada Senin, dengan mencantumkan tujuannya sebagai pelabuhan di UEA. 

Kapal tersebut memiliki riwayat memalsukan lokasinya dan oleh karena itu diklasifikasikan sebagai bagian dari armada bayangan.

Baca juga: AS Keberatan Rusia Ingin Ambil Alih Cadangan Uranium Iran

Kapal lebih mudah masuk daripada keluar

Ilustrasi Selat Hormuz.Wikimedia Commons/Earth Science and Remote Sensing Unit, NASA Johnson Space Center Ilustrasi Selat Hormuz.

Kapal-kapal yang memiliki hubungan dengan Iran sejauh ini lebih mudah masuk ke Teluk Persia daripada keluar.

Ini menunjukkan kesulitan yang mungkin dihadapi Angkatan Laut AS dalam menentukan tujuan kapal sebelum tiba. 

Kapal kontainer yang dikenai sanksi, Rayen dan Daisy berlayar masuk melalui Selat Hormuz pada Selasa dan sedang menuju pelabuhan Bandar Abbas di Iran, menurut Lloyd's List.

Baca juga: Perang Iran Kuras Senjata AS, Pentagon Minta Bantuan Pabrik Mobil

Para analis militer dan perkapalan menjelaskan, pergerakan tersebut menunjukkan bagaimana operator kapal bayangan mencoba menguji batas-batas blokade dan menyelidiki apakah AS akan mengambil tindakan untuk menegakkan penutupan tersebut.

“Saya pikir mereka mencoba mendorong batasan untuk melihat apakah AS benar-benar akan mengambil langkah sepenuhnya di sini,” kata Bryan Clark, mantan pejabat senior Angkatan Laut AS dan sekarang menjadi peneliti senior di Hudson Institute.

Armada bayangan pertama kali muncul untuk mengangkut minyak Iran setelah AS memperketat sanksi pada tahun 2012, sebelum berkembang ketika Trump memberlakukan pembatasan baru pada penjualan minyak mentah Teheran pada tahun 2018. 

Armada tersebut membengkak untuk mengakomodasi aliran minyak Rusia yang sangat besar setelah invasi Ukraina tahun 2022.

Baca juga: Trump VS Paus: Ketika Kepentingan Nasional Berbenturan dengan Kompas Moral

Ada hampir 1.500 armada bayangan

Perahu berlayar di perairan Selat Hormuz dari arah Khasab di Oman, Semenanjung Musandam, 25 Juni 2025.AFP/GIUSEPPE CACACE Perahu berlayar di perairan Selat Hormuz dari arah Khasab di Oman, Semenanjung Musandam, 25 Juni 2025.

Menurut TankerTrackers.com, terdapat hampir 1.500 kapal dalam armada bayangan di seluruh dunia. Banyak dari kapal-kapal tersebut berpindah-pindah antara pasar yang dikenai sanksi. 

Lebih dari 600 kapal tersebut telah mengangkut minyak Iran, termasuk sekitar 60 kapal tanker dalam armada negara tersebut. 

Setelah bertahun-tahun penegakan sanksi yang ketat, kapal-kapal armada bayangan yang melayani Iran sering menggunakan jejak data palsu untuk memberikan kesan bahwa mereka berlayar dari pelabuhan Irak atau Arab Saudi.

Baca juga: Iran Beri Peringatan soal Blokade Selat Hormuz, Ancam Tenggelamkan Kapal AS

Peneliti Royal United Services Institute di London, Kevin Rowlands mengatakan, dengan menggabungkan sinyal pelayaran dengan citra dari satelit dan pesawat patroli serta informasi dari pengumpulan intelijen, AS seharusnya dapat dengan cepat mengetahui apakah sebuah kapal sedang menuju keluar dari Selat Hormuz dari pelabuhan Iran.

Pertanyaan terbesar adalah ke mana Angkatan Laut AS akan mengawal kapal-kapal yang mereka naiki, tambah Rowlands. 

Pasukan AS sebelumnya menempatkan sebuah kapal tanker armada bayangan yang mereka kejar dari Venezuela di pelabuhan Inggris awal tahun ini.

Namun, ia tidak mengetahui adanya perjanjian yang memungkinkan pengaturan serupa dengan negara-negara Teluk.

Menentukan ke mana tujuan kapal yang memasuki Teluk agar dapat disita mungkin lebih sulit, terutama jika kapal tersebut mengaku menuju ke pelabuhan non-Iran.

Tag:  #ketika #armada #bayangan #iran #bertemu #lawan #sepadan #saat #blokade

KOMENTAR