Peneliti China Bikin Armor ala Buaya, Manusia Bisa Tahan Proyektil
Ilustrasi buaya. (freepik.com)
16:36
11 Mei 2026

Peneliti China Bikin Armor ala Buaya, Manusia Bisa Tahan Proyektil

Para peneliti di China mengembangkan desain pelindung tubuh baru yang terinspirasi dari kulit buaya.

Armor berbahan keramik itu diklaim mampu membelokkan proyektil dan berpotensi menjadi alternatif murah untuk perlindungan balistik ringan bagi manusia, kendaraan tempur, hingga helikopter bersenjata.

Riset tersebut dipimpin peneliti madya Ningbo University, Zhaoxiu Jiang, dan hasilnya dipublikasikan pada 25 Maret di jurnal ilmiah China Acta Armamentarii.

Baca juga: Alasan Aneh India Kerahkan Buaya-Ular untuk Perkuat Perbatasan dengan Bangladesh

Tim peneliti meniru pola sisik buaya yang asimetris dan saling bertumpuk, yang secara alami berfungsi menjaga buaya dari predator maupun serangan sesamanya.

Terinspirasi sisik buaya

Ilustrasi buaya. naypong/freepik.com Ilustrasi buaya.

Menurut Jiang, struktur asimetris pada desain tersebut memang terbukti dapat membelokkan proyektil.

“Struktur asimetris itu memang dapat menyebabkan proyektil menyimpang, dan itu sudah terbukti secara eksperimen,” kata Jiang dalam wawancara, sebagaimana dilansir South China Morning Post.

Berbeda dari armor komposit konvensional yang biasanya menggunakan ubin keramik berbentuk heksagonal, tim peneliti membuat mosaik berbentuk berlian dari keramik alumina yang dipasang pada sudut 45 derajat. Susunan itu direkatkan menggunakan resin epoksi di atas pelat paduan aluminium.

Material keramik dipilih karena memiliki tingkat kekerasan tinggi, kekuatan tekan besar, serta massa jenis yang rendah. Armor tersebut dirancang untuk perlindungan personel, kendaraan lapis baja, dan helikopter bersenjata.

“Proyek ini sejak awal dirancang dengan mempertimbangkan kemudahan manufaktur,” ujar Jiang. “Jika sebuah struktur terlalu sulit diproses atau dirakit, maka tidak banyak makna praktis untuk membuatnya.”

Diklaim lebih efektif dari armor konvensional

Dalam pengujian, desain ala sisik buaya itu disebut secara konsisten mengungguli armor heksagonal tradisional saat menghadapi proyektil baja keras yang dirancang menyerupai peluru penembus lapis baja.

“Dengan material yang sama, jika optimalisasi struktur meningkatkan performa, maka biaya tentu bisa ditekan,” kata Jiang.

“Struktur ini relatif sederhana, sehingga produksi skala besar dapat membuatnya lebih murah.”

Baca juga: Israel Bunuh Ratusan Buaya, Takut Mereka Jadi Senjata Teroris

Proyektil uji yang digunakan terbuat dari baja martensitik berkekuatan ultra-tinggi, material yang mirip dengan penetrator kinetik.

Pada kecepatan tumbukan antara 260 hingga 1.000 meter per detik, armor model sisik buaya dinilai lebih efektif mengurangi kecepatan sisa proyektil dibandingkan desain heksagonal.

Pada kecepatan sekitar 550 meter per detik, kemiringan enam derajat disebut memperpanjang waktu tumbukan dan mempercepat pecahnya proyektil.

Massa sisa proyektil turun dari 32,17 gram menjadi 22,47 gram pada kecepatan tinggi.

Tidak ada pelat belakang yang berhasil ditembus sepenuhnya, deformasi bagian belakang juga jauh lebih rendah, sementara lapisan keramik mampu menyerap energi benturan hampir 8,8 poin persentase lebih besar.

Masih tahap laboratorium

Meski demikian, Jiang mengatakan, keunggulan armor itu paling terasa dalam rentang kecepatan tertentu.

“Jika kecepatannya terlalu tinggi, efeknya juga akan menurun,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa struktur tersebut kemungkinan efektif menghadapi beberapa jenis amunisi penembus lapis baja, walau hasil akhirnya tetap bergantung pada desain proyektil yang digunakan.

Saat ini sistem tersebut masih berada pada tahap laboratorium. Penelitian lanjutan akan difokuskan pada pengujian tembakan dari berbagai sudut, simulasi benturan berulang, dan integrasi rekayasa dalam skala besar.

Selain untuk rompi antipeluru, para peneliti meyakini desain itu dapat diterapkan pada perlindungan kendaraan dan helikopter, perisai kapal, hingga struktur ringan untuk kebutuhan dirgantara dan laut dalam yang membutuhkan ketahanan benturan.

“Kami hanya berusaha melakukan pekerjaan yang solid,” kata Jiang.

“Hal yang paling kami pedulikan adalah apakah biaya benar-benar bisa ditekan sehingga pada akhirnya dapat digunakan dalam aplikasi nyata."

Baca juga: India Pertimbangkan Sebar Buaya dan Ular Berbisa di Sepanjang Perbatasan

Tag:  #peneliti #china #bikin #armor #buaya #manusia #bisa #tahan #proyektil

KOMENTAR