Hubungan Rusia-China Makin Mesra Saat AS dan Iran Berperang
Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden China Xi Jinping bersulang setelah pembicaraan mereka di Kremlin, Moskwa, 21 Maret 2023. (SPUTNIK/PAVEL BYRKIN via AFP)
12:00
16 April 2026

Hubungan Rusia-China Makin Mesra Saat AS dan Iran Berperang

- Di tengah memanansnya konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, hubungan Rusia dan China terlihat semakin erat.

Moskwa siap membantu menutupi kekurangan energi bagi China dan negara-negara lain di tengah krisis yang dipicu oleh perang di Iran, kata Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov, Rabu (15/4/2026).

"Rusia tentu dapat mengisi kesenjangan sumber daya yang muncul di China dan negara-negara lain yang tertarik untuk bekerja sama dengan kami atas dasar kesetaraan dan saling menguntungkan," kata Lavrov setelah bertemu Presiden China Xi Jinping, menurut The Moscow Times dilansir Newsweek, Rabu (5/4/2026).

Baca juga: AS Keberatan Rusia Ingin Ambil Alih Cadangan Uranium Iran


Lavrov melakukan kunjungan ke China pada 14-15 April 2026 untuk membicarakan berbagai isu penting dalam hubungan China-Rusia.

Termasuk dampak krisis energi akibat kenaikan tajam harga minyak dan gas di seluruh dunia dalam hampir tujuh minggu sejak perang Iran dimulai.

Kondisi ini diperparah oleh penutupan Selat Hormuz oleh Teheran dan serangan balasan terhadap infrastruktur energi di seluruh wilayah tersebut.

China sendiri mengimpor sekitar 40 persen minyaknya melalui Selat Hormuz, yang sebagian besar telah diblokade sejak konflik AS-Iran meningkat.

Baca juga: Trump Pastikan China Tidak Akan Kirim Bantuan Senjata ke Iran

China dan Rusia akan memperkuat koordinasi

President China Xi Jinping (Dok: Bloomberg). China kembali melawan tarif impor 104 persen yang dikenakan Trump dengan menerapkan tarif 84 persen kepada barang-barang asal AS.
Bloomberg President China Xi Jinping (Dok: Bloomberg). China kembali melawan tarif impor 104 persen yang dikenakan Trump dengan menerapkan tarif 84 persen kepada barang-barang asal AS.

Xi Jinping mengatakan, China dan Rusia harus memperkuat koordinasi strategis untuk membela kepentingan bersama dan kepentingan negara-negara berkembang.

Ia juga menyerukan kedua negara untuk menunjukkan tanggung jawab sebagai kekuatan besar dan anggota tetap Dewan Keamanan PBB.

Meskipun China relatif terlindungi dari guncangan energi berkat impor yang terdiversifikasi, cadangan strategis yang besar, dan investasi bidang energi terbarukan, krisis berkepanjangan dapat mendorongnya untuk lebih bergantung pada pasokan dari Rusia.

Baca juga: Rusia Dukung Pendirian Nuklir Iran, Dorong Lanjutkan Negosiasi dengan AS

Hal ini memperkuat posisi Presiden Rusia Vladimir Putin dalam negosiasi terkait proyek-proyek yang telah lama tertunda.

Salah satunya adalah proyek pipa gas Power of Siberia 2, yang diklaim dapat mengirimkan hingga 50 miliar meter kubik gas setiap tahunnya ke China.

Para analis mengatakan bahwa gangguan pasokan energi global yang terjadi saat ini juga menguntungkan Moskwa.

"Ini adalah keuntungan ganda, karena harga pasar minyak dan gas jauh lebih tinggi, dan Rusia tidak perlu menawarkan diskon kepada pembeli Asia yang khawatir tentang sanksi dan risiko tarif," ujar Chris Weafer, kepala eksekutif perusahaan konsultan Macro-Advisory kepada Newsweek.

Tag:  #hubungan #rusia #china #makin #mesra #saat #iran #berperang

KOMENTAR