Laut Merah Milik Siapa? Iran Ancam Mau Menutupnya
Siapa pemilik Laut Merah? Pertanyaan ini kontan meluap usai Iran mengancam Amerika Serikat akan memblokir jalur perdagangan yang melewati Laut Merah, termasuk Teluk Persia dan Laut Oman.
"Angkatan bersenjata Republik Islam yang kuat tidak akan memberikan ekspor atau impor apa pun berlanjut di Teluk Persia, Laut Oman, dan Laut Merah," ujar Ali Abdollahi, Kepala Pusat Komando Militer Iran.
Amerika Serikat diketahui telah memblokade angkatan laut di pelabuhan-pelabuhan Iran sejak hari Senin. Hal ini dilakukan usai pembicaraan AS-Iran akhir pekan lalu gagal menghasilkan kesepakatan untuk mengakhiri konflik.
Meski begitu, data menunjukkan bahwa beberapa kapal yang berlayar dari berbagai pelabuhan Iran masih melintasi Selat Hormuz, yang selama ini menjadi jalur vital distribusi minyak dunia.
Siapa Pemilik Laut Merah
Secara hukum internasional, Laut Merah tidak dimiliki oleh satu negara pun.
Perairan ini termasuk wilayah laut internasional yang diatur berdasarkan Konvensi Hukum Laut PBB (UNCLOS). Artinya, Laut Merah merupakan jalur bersama yang dapat digunakan oleh berbagai negara untuk pelayaran dan perdagangan global.
Namun, Laut Merah dikelilingi oleh sejumlah negara yang memiliki wilayah pesisir dan pengaruh strategis di kawasan tersebut. Di sisi barat terdapat negara-negara Afrika seperti Mesir, Sudan, dan Eritrea.
Sementara di sisi timur, terdapat Arab Saudi dan Yaman. Negara-negara ini memiliki hak atas wilayah laut teritorial masing-masing, biasanya sejauh 12 mil laut dari garis pantai.
Di luar zona tersebut, wilayah Laut Merah masuk dalam kategori perairan internasional. Inilah yang membuat jalur ini menjadi sangat penting secara geopolitik.
Menurut berbagai analisis, termasuk dari Bloomberg dan Phenomenal World, Laut Merah adalah salah satu jalur distribusi energi paling vital di dunia karena menghubungkan Laut Mediterania melalui Terusan Suez dengan Samudra Hindia.
Selain itu, Laut Merah juga menjadi bagian dari rute utama pengiriman minyak dan barang dari Timur Tengah ke Eropa dan sebaliknya. Sekitar 10–12 persen perdagangan global melewati jalur ini, sehingga setiap gangguan di kawasan tersebut dapat berdampak langsung pada ekonomi dunia.
Karena sifatnya sebagai jalur internasional, tidak ada satu negara pun yang bisa secara sah “mengklaim” Laut Merah sepenuhnya.
Namun, negara-negara besar seperti Amerika Serikat dan kekuatan regional sering kali memiliki kehadiran militer di kawasan ini untuk mengamankan jalur perdagangan atau menunjukkan pengaruh geopolitik.
Kabar Terbaru Konflik Amerika Serikat dan Iran
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat dalam beberapa waktu terakhir, terutama setelah langkah AS yang memblokade aktivitas laut Iran di sejumlah pelabuhan strategis. Tindakan ini dilakukan setelah negosiasi kedua negara gagal mencapai kesepakatan terkait konflik yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.
Sebagai respons, Iran mengeluarkan ancaman serius untuk menutup jalur perdagangan penting, termasuk Selat Hormuz, Laut Oman, hingga Laut Merah.
Ancaman ini bukan tanpa alasan, karena Iran memiliki posisi geografis yang sangat strategis, khususnya di Selat Hormuz yang menjadi pintu keluar masuk utama minyak dari Teluk Persia.
Pernyataan dari pejabat militer Iran menunjukkan bahwa mereka siap menggunakan kekuatan untuk menghentikan aktivitas ekspor-impor jika tekanan dari Amerika Serikat terus berlanjut. Hal ini meningkatkan kekhawatiran global, mengingat jalur-jalur tersebut merupakan nadi utama distribusi energi dunia.
Meski demikian, situasi di lapangan menunjukkan dinamika yang lebih kompleks. Beberapa kapal dari Iran masih terpantau melintasi Selat Hormuz, menandakan bahwa ancaman penutupan jalur belum sepenuhnya direalisasikan. Namun, kehadiran armada militer dari kedua belah pihak meningkatkan risiko eskalasi konflik secara tiba-tiba.
Kontributor : Hillary Sekar Pawestri