Minyak Iran Diam-Diam Mengalir ke China lewat Perairan Asia Tenggara
Kapal-kapal melintasi Selat Hormuz pada 24 Juni 2025, saat difoto dari pesisir Khasab, Semenanjung Musandam, Oman.(AFP/GIUSEPPE CACACE)
13:12
17 April 2026

Minyak Iran Diam-Diam Mengalir ke China lewat Perairan Asia Tenggara

Perdagangan minyak bayangan Iran tetap berjalan meski konflik di Timur Tengah berlangsung dan sanksi internasional diberlakukan.

Di perairan Asia Tenggara, aktivitas pemindahan minyak antar kapal terus terjadi secara diam-diam.

Praktik ini memungkinkan Teheran menjaga ekspor minyaknya, terutama ke China.

Baca juga: Trump Ingin Kuasai Minyak Iran, Banggakan Keberhasilan AS di Venezuela

Hub strategis di Dekat Singapura

Di kawasan sekitar Malaysia dan Singapura, sekitar 100 kilometer dari Semenanjung Malaya, aktivitas ship-to-ship (STS) transfer menjadi sangat intens.

Analisis citra satelit AFP menemukan puluhan pemindahan minyak antar kapal terjadi setiap pekan di wilayah ini.

“Ini benar-benar hub utamanya,” kata Amir Handjani dari Quincy Institute for Responsible Statecraft, dikutip AFP, Kamis (16/4/2026).

Ia bahkan menggambarkan situasi STS di kawasan itu sebagai “anarki total”.

Transfer di laut lepas ini memungkinkan minyak “dicuci” dengan menyamarkan asalnya, sehingga sulit dilacak sebagai minyak Iran.

Armada “kapal hantu”

Iran mengandalkan armada kapal tua yang dikenal sebagai “ghost fleet” atau “kapal hantu” untuk menghindari sanksi Amerika Serikat, Uni Eropa, dan Inggris. Hampir 400 tanker telah dikenai sanksi terkait aktivitas ini.

Kapal-kapal tersebut beroperasi secara terselubung dengan berbagai cara, mulai dari penggunaan bendera palsu, struktur kepemilikan yang tidak transparan, hingga manipulasi data GPS. Banyak di antaranya juga beroperasi tanpa asuransi, demi menghindari pengawasan.

Menurut Elisabeth Braw dari Atlantic Council, kondisi kebijakan Amerika Serikat yang berubah-ubah turut mendorong praktik ini.

“Dengan aktivitas yang saling bertentangan dari Amerika Serikat—melonggarkan sanksi lalu memblokade pelabuhan Iran—lebih aman tetap mengekspor minyak Iran menggunakan kapal bayangan dan transfer STS daripada mencoba mengekspornya secara sah,” ujarnya.

Baca juga: AS Kini Cabut Sanksi Minyak Iran, Perang Jadi Senjata Makan Tuan?

Jalur panjang menuju China

Minyak mentah Iran biasanya dimuat dari Pulau Kharg, lalu dikirim melalui Selat Hormuz. Kapal kemudian mengitari anak benua India, melintasi Selat Malaka, dan menuju kawasan dekat Singapura dalam perjalanan dua hingga tiga minggu.

Di sana, kapal akan berlabuh menunggu pemindahan muatan ke tanker lain. Data Kpler yang dianalisis AFP menunjukkan sejak 1 Maret, sedikitnya 37 tanker terkait Iran telah memindahkan sekitar 62,3 juta barrel minyak di laut.

Tujuan akhirnya sebagian besar adalah pelabuhan di provinsi China seperti Shandong, Liaoning, dan Jiangsu.

Transfer berlapis dan jejak yang disamarkan

Dalam banyak kasus, satu kargo minyak bisa dipindahkan beberapa kali sebelum mencapai tujuan.

Misalnya, muatan dari tanker Amber dipindahkan ke Medna, lalu ke Star Pine sebelum menuju China.

Karena kapal sering mematikan sistem identifikasi otomatis (AIS), pelacakan menjadi sulit. Kpler menggunakan algoritma khusus dengan membandingkan rute dan perubahan draft kapal untuk memperkirakan pergerakan kargo.

Praktik ini diperkirakan akan terus berkembang, terutama setelah Amerika Serikat memblokade pelabuhan Iran.

“Kemungkinan besar transfer STS akan berkembang karena masih banyak minyak Iran yang tersimpan di laut sebagai penyimpanan terapung,” kata analis Kpler, Naveen Das.

Baca juga: Peringatan Keras AS, Israel Dilarang Serang Infrastruktur Minyak Iran

Tag:  #minyak #iran #diam #diam #mengalir #china #lewat #perairan #asia #tenggara

KOMENTAR