Cara Rusia Ambil Dukungan Generasi Muda: Cetak Remaja Jadi Influencer Perang
– Pemerintah Rusia tengah gencar mencetak generasi baru pesohor media sosial alias influencer pro-perang melalui kamp-kamp pembuatan konten.
Dalam sebuah kamp pelatihan yang digelar awal April lalu di Moskwa, lebih dari 120 remaja yang mengenakan sweter hijau dan baret merah berkumpul untuk menerima materi.
Mereka mendapatkan kuliah dari tentara dan jurnalis media pemerintah mengenai cara memproduksi video, memanfaatkan akal imitasi (AI), hingga strategi membangun audiens di media sosial.
Baca juga: Bukan Sekadar Perang, Dubes Rusia Ungkap Bahaya Konflik Timur Tengah bagi Dunia
Mantan tentara sekaligus Kepala Staf Umum gerakan kadet Tentara Muda Rusia (Yunarmiya), Vladislav Golovin, menegaskan pentingnya program ini bagi agenda pemerintah.
"Kami telah membentuk tim besar yang terdiri dari anak-anak yang memahami cara menyebarkan nilai-nilai pemerintah dan nilai-nilai organisasi kami," ujar Golovin dalam pernyataan resmi kelompok tersebut.
Dalam sebuah video promosi acara, tampak anak-anak bersorak saat seorang kadet beradu cepat dengan Golovin dalam mengisi ulang peluru senapan runduk alias sniper.
Upaya sistematis ini dipandang sebagai bagian dari kampanye besar Kremlin, sebagaimana dilansir AFP, Jumat (17/4/2026).
Direktur Conflict Studies Research Centre Keir Giles menyebut fenomena ini sebagai upaya terpusat untuk memulihkan martabat militer Rusia.
Baca juga: Hubungan Rusia-China Makin Mesra Saat AS dan Iran Berperang
"Anak-anak berusia 14 hingga 16 tahun ini tumbuh di lingkungan yang tidak mengenal apa pun selain Putinisme. Inilah realitas mereka, jadi kita tidak perlu terkejut jika upaya baru untuk menyebarkan informasi ini mencerminkan realitas tersebut," kata Giles kepada AFP.
Langkah untuk menanamkan nilai-nilai yang disetujui Kremlin ini bermuara langsung dari instruksi tertinggi.
Pada 2023, Presiden Rusia Vladimir Putin mengutip Otto von Bismarck untuk merangkum pendekatannya terhadap pendidikan generasi muda.
"Perang tidak dimenangkan oleh jenderal, melainkan oleh guru sekolah dan pastor paroki," kata Putin dalam sebuah konferensi pers yang disiarkan televisi.
Dia menambahkan bahwa mendidik kaum muda dalam semangat patriotisme adalah hal yang sangat krusial.
Baca juga: Rusia Luncurkan Serangan Udara ke Ukraina: 3 Tewas, 10 Luka
Pegang kontrol
Sejak invasi ke Ukraina pada tahun 2022, Moskwa telah memperketat kontrol atas ruang informasi domestik.
Selain memberlakukan undang-undang sensor militer yang ketat, pemerintah juga membangkitkan kembali organisasi pemuda era Soviet seperti Yunarmiya dan Movement of the First yang kini mengklaim memiliki 14 juta anggota daring.
Pakar AI dan disinformasi dari Technological University of Berlin, Veronika Solopova, menilai algoritma media sosial sangat menguntungkan Kremlin dalam menyebarkan narasi mereka.
Konten yang disesuaikan secara personal mampu memicu respons emosional yang kuat.
"Kaum muda dikenal mudah diradikalisasi dan mudah mengambil kesimpulan atas ketidakadilan. Bagi Rusia, hal ini dengan mudah dikonversi menjadi pendaftaran tentara," tutur Solopova.
Baca juga: AS Keberatan Rusia Ingin Ambil Alih Cadangan Uranium Iran
Senada dengan hal tersebut, mantan Penasihat Senior Dewan Keamanan Nasional Georgia, Giorgi Revishvili, menyoroti efektivitas konten digital pada generasi sekarang.
"Rentang perhatian yang lebih pendek, dikombinasikan dengan kemudahan berbagi klip dan reels, menjadikan konten digital sebagai alat yang luar biasa kuat," ungkapnya.
Data dari lembaga jajak pendapat independen, Levada Centre, pada Maret menunjukkan bahwa lebih dari separuh warga Rusia berusia 18-24 tahun menjadikan media sosial sebagai sumber berita utama mereka.
Analis disinformasi dan propaganda di INVED, Dietmar Pichler, menjelaskan bahwa konten yang dihasilkan bisa bersifat langsung dan radikal, atau sangat halus.
"Tujuannya bukan sekadar menghasilkan dukungan untuk Rusia, melainkan untuk menurunkan solidaritas terhadap Ukraina," katanya.
Baca juga: Rusia Dituduh Bawa Gandum Curian ke Pelabuhan Haifa, Israel Diminta Bertindak
Tentara Rusia saat peringatan ke-80 berakhirnya pengepungan Nazi di Leningrad, (kini St Petersburg) dalam Perang Dunia II di Monumen Pembela Heroik, St Petersburg, Rusia, Rabu (18/1/2023).
Di kamp pelatihan Moskwa, para kadet Tentara Muda dengan cepat menyadari kekuatan keterampilan baru mereka.
Seorang remaja putri dalam klip promosi penyelenggara mengungkapkan kebanggaannya saat berada di balik layar.
"Saat Anda menjadi orang di balik kamera yang merekam seluruh proses dan membuat audiens senang, Anda menyadari bahwa andalah yang telah membangkitkan emosi tersebut pada orang lain," ujarnya.
"Kebenaran terletak dalam sebuah bingkai, dan kamilah yang mengoperasikan kameranya," ujar remaja tersebut.
Baca juga: Rusia Dukung Pendirian Nuklir Iran, Dorong Lanjutkan Negosiasi dengan AS
Tag: #cara #rusia #ambil #dukungan #generasi #muda #cetak #remaja #jadi #influencer #perang