Cari Dana Talangan, UEA Bisa Tinggalkan Dollar jika AS Tak Bantu Pulihkan Ekonomi
ilustrasi Abu Dhabi menjadi kota teraman di dunia tahun 2025.(canva.com)
12:24
20 April 2026

Cari Dana Talangan, UEA Bisa Tinggalkan Dollar jika AS Tak Bantu Pulihkan Ekonomi

Uni Emirat Arab (UEA) mulai menjajaki opsi dukungan keuangan dari Amerika Serikat di tengah tekanan ekonomi akibat perang dengan Iran.

Negara Teluk yang kaya minyak itu khawatir konflik berkepanjangan dapat mengganggu stabilitas ekonominya dan posisinya sebagai pusat keuangan global.

Dalam pembicaraan awal, menurut laporan The Wall Street Journal, Minggu (19/4/2026), UEA membuka kemungkinan mengakses likuiditas dollar jika situasi memburuk. Di saat yang sama, mereka juga memberi sinyal dapat mempertimbangkan mata uang lain bila pasokan dollar tertekan.

Baca juga: Trump Mau Ganti Nama Bandara Florida, Oposisi Kritik Anggaran Jutaan Dollar

Jajaki jalur dana darurat ke AS

Gubernur bank sentral UEA, Khaled Mohamed Balama, mengangkat gagasan pembentukan fasilitas currency swap line dalam pertemuan dengan Menteri Keuangan AS Scott Bessent serta pejabat Departemen Keuangan dan Federal Reserve di Washington pekan lalu, menurut pejabat AS.

Fasilitas ini akan memungkinkan bank sentral UEA memperoleh akses murah terhadap dollar untuk menopang mata uang atau memperkuat cadangan devisa jika terjadi krisis likuiditas.

Pejabat UEA menekankan bahwa sejauh ini mereka masih mampu menghindari dampak ekonomi terburuk dari konflik. Namun, mereka menilai langkah antisipatif tetap diperlukan jika tekanan meningkat.

Dampak perang tekan ekonomi

Perang dengan Iran telah menimbulkan tekanan signifikan terhadap ekonomi UEA. Infrastruktur minyak dan gas mengalami kerusakan, sementara jalur ekspor melalui Selat Hormuz terganggu, menghambat penjualan minyak dan mengurangi pemasukan dollar.

Kondisi ini juga berpotensi menggerus cadangan devisa dan memicu keluarnya investor dari pasar UEA yang sebelumnya dipandang stabil dan aman.

Sebelum gencatan senjata berlaku pada 17 April, Iran disebut menargetkan UEA dengan lebih dari 2.800 drone dan rudal, meski sebagian besar berhasil dicegat, menurut Kementerian Pertahanan UEA.

Di sisi lain, tekanan pasar seperti volatilitas saham dan risiko capital flight mulai membayangi, meskipun dirham masih dipatok terhadap dollar dan didukung cadangan devisa sekitar 270 miliar dollar AS (sekitar Rp 4.636 triliun).

Lembaga pemeringkat S&P Global dalam laporan 6 Maret menyebut bahwa “fleksibilitas fiskal, ekonomi, eksternal, dan kebijakan UEA yang besar akan menjadi penyangga efektif” terhadap dampak perang.

Namun, mereka memperingatkan bahwa “potensi gangguan berkepanjangan” terhadap ekspor minyak dan kerusakan infrastruktur “menambah risiko yang jelas terhadap proyeksi kami.”

Isyaratkan tinggalkan dollar

Ilustrasi dollar AS.PIXABAY/PASJA1000 Ilustrasi dollar AS.

Dalam pembicaraan dengan pihak AS, pejabat UEA juga menyampaikan bahwa jika pasokan dollar menipis, mereka mungkin akan menggunakan yuan China atau mata uang lain untuk transaksi minyak dan perdagangan.

Langkah ini secara implisit menantang dominasi dollar AS yang selama ini menjadi mata uang utama dalam perdagangan energi global.

Namun, opsi tersebut dipandang sebagai langkah darurat, bukan perubahan kebijakan utama. Saat ini, sistem keuangan UEA masih sangat terikat dengan dollar, termasuk kebijakan nilai tukar dirham.

Baca juga: Takut Harga Minyak 200 Dollar AS, Presiden Mesir Desak Trump Setop Perang Iran

Peluang persetujuan kecil

Meski demikian, peluang UEA mendapatkan fasilitas swap line dari Federal Reserve dinilai kecil.

Fasilitas tersebut biasanya diberikan kepada negara-negara dengan keterkaitan kuat terhadap sistem keuangan AS, seperti Inggris, Jepang, dan negara-negara Eropa.

Dalam kondisi krisis, The Fed juga pernah memperluas akses ke beberapa negara lain, namun tetap dengan pertimbangan dampaknya terhadap pasar AS.

Sebagai alternatif, Departemen Keuangan AS dapat menyediakan skema lain di luar The Fed, seperti yang pernah dilakukan terhadap Argentina melalui Exchange Stabilization Fund senilai 20 miliar dollar AS (sekitar Rp 343 triliun).

Dilema geopolitik

Perang juga mendorong perubahan sikap geopolitik UEA. Negara ini semakin mendekat ke AS dan mulai meninggalkan pendekatan sebelumnya yang mencoba menjaga hubungan dengan Iran sebagai bentuk perlindungan dari konflik kawasan.

Di sisi lain, langkah keras terhadap Iran—seperti ancaman pembekuan aset—berpotensi merusak hubungan perdagangan dan keuangan yang selama ini menguntungkan. Hal ini juga bisa memengaruhi kemampuan UEA menarik investasi dari negara lain yang memiliki sensitivitas politik tinggi.

Para pejabat keuangan global memperkirakan pemulihan kawasan tidak akan berlangsung cepat. Menteri Keuangan Arab Saudi Mohammed Al-Jadaan mengatakan, “Logistik dasar untuk menjadwalkan kapal tanker dan mengembalikannya setelah kekacauan yang kita lihat kemungkinan akan memakan waktu hingga akhir Juni.”

Ia menambahkan, “Siapa pun yang mengharapkan pemulihan cepat, bahkan jika permusuhan benar-benar berakhir, perlu menghitung ulang hal itu.”

Di tengah ketidakpastian tersebut, negara-negara Teluk juga mulai menggalang dana dari pasar utang untuk memperkuat cadangan kas.

Baca juga: Gebrakan Baru Trump, Cantumkan Tanda Tangannya di Uang Kertas Dollar AS

Tag:  #cari #dana #talangan #bisa #tinggalkan #dollar #jika #bantu #pulihkan #ekonomi

KOMENTAR