Intel Eropa Temukan Kerja Sama Terselubung China-Rusia untuk Perang di Ukraina
Ilustrasi tentara. (AFP/TATYANA MAKEYEVA)
12:48
21 Mei 2026

Intel Eropa Temukan Kerja Sama Terselubung China-Rusia untuk Perang di Ukraina

- Kerja sama militer antara Rusia dan China diduga kuat semakin intim dan terselubung. Lembaga intelijen Eropa meyakini, Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA) melatih ratusan tentara Rusia untuk diterjunkan ke medan perang Ukraina.

Dugaan tersebut mencuat berdasarkan dokumen rahasia yang dilihat oleh media Jerman, Die Welt.

Dalam laporan yang diterbitkan pada Rabu (20/5/2026), program pelatihan rahasia itu disebut berlangsung pada akhir tahun lalu di enam pangkalan militer di China dengan melibatkan beberapa ratus tentara Rusia.

Baca juga: Drone Ukraina Nyasar hingga Ditembak Jatuh F-16 NATO, Ada Campur Tangan Rusia?

Fokus utama dari pelatihan tersebut adalah pengoperasian pesawat tanpa awak (drone) serta sistem penangkal elektronik.

Setelah menyelesaikan program, banyak dari tentara Rusia tersebut langsung dikirim ke garis depan Ukraina, termasuk bergabung dengan Rubicon, unit drone garis depan elite milik Rusia.

Pelatihan timbal balik dan spionase teknologi Barat

Kerja sama ini rupanya tidak berjalan satu arah. Dokumen intel tersebut mengungkapkan, tentara China juga diam-diam menerima pelatihan di Rusia.

Sekitar 600 personel PLA diyakini sempat menghabiskan waktu di berbagai pangkalan militer Rusia sepanjang tahun lalu.

Di sana, mereka mempelajari taktik pertempuran kendaraan lapis baja, penempatan artileri, hingga pengoperasian sistem pertahanan udara.

Selain pertukaran taktik di lapangan, badan intelijen Eropa turut meyakini kedua negara saling berbagi informasi mendalam mengenai performa senjata canggih buatan Eropa dan Amerika Serikat (AS), yang saat ini digunakan oleh Ukraina.

Perhatian khusus mereka tertuju pada beberapa alutsista Barat, antara lain:

  • Sistem peluncur roket HIMARS buatan AS
  • Sistem pertahanan udara Patriot
  • Kendaraan lapis baja Marder buatan Jerman
  • Tank tempur utama Abrams milik AS

Baca juga: Ukraina Jago Tangkis Drone Rusia, tapi Nyaris Tak Berkutik Digempur Rudal

Klaim netralitas China dipertanyakan

Presiden Rusia Vladimir Putin (kanan) berjalan bersama Presiden China Xi Jinping (kiri) dalam pertemuan mereka di Beijing, China, 20 Mei 2026.SPUTNIK/MAXIM STULOV via AFP Presiden Rusia Vladimir Putin (kanan) berjalan bersama Presiden China Xi Jinping (kiri) dalam pertemuan mereka di Beijing, China, 20 Mei 2026.Selama ini, Beijing selalu mengeklaim bahwa mereka bersikap netral dalam invasi Rusia ke Ukraina.

Akan tetapi, temuan Die Welt ini dinilai memperkuat kecurigaan global bahwa Beijing sebenarnya memberikan dukungan jauh lebih besar kepada Moskwa daripada yang diakui secara terbuka.

Barat sendiri berulang kali melayangkan kritik tajam karena China terus mengekspor barang-barang penggunaan ganda (dual-use) dalam skala besar ke Rusia, seperti semikonduktor dan motor listrik kecil yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan sipil maupun militer.

Sejak Presiden Rusia Vladimir Putin melancarkan invasi penuh ke Ukraina pada 2022, hubungan bilateral kedua negara memang kian erat.

China menolak mengecam perang tersebut. Di sisi lain, Moskwa kian bergantung pada Beijing sebagai pembeli utama minyak setelah pendapatan Rusia tertekan sanksi ekonomi Barat.

Kedekatan ini kembali ditegaskan saat Presiden China Xi Jinping menyambut kunjungan resmi Putin di Beijing pada Selasa (19/5/2026).

"Kedua negara terus memperdalam kepercayaan politik timbal balik dan koordinasi strategis, dengan ketahanan yang tetap tak tergoyahkan," ujar Xi sebagaimana dikutip media Pemerintah China.

Baca juga: Usai Luncurkan 550 Drone ke Rusia, Ukraina Bersumpah Bertempur Tanpa Henti

Intelijen Jerman: Sangat masuk akal

Merespons laporan ini, Ketua Komite Pengawas Intelijen Parlemen Jerman, Marc Henrichmann, menilai informasi yang diungkap Die Welt sangat masuk akal dan sejalan dengan dinamika geopolitik beberapa tahun terakhir.

“Khususnya sejak dimulainya perang agresi Rusia, kerja sama yang semakin erat antara Moskwa dan Beijing terlihat jelas baik di bidang militer maupun ekonomi,” ujar Henrichmann kepada surat kabar Handelsblatt, seperti dikutip dari AFP.

Henrichmann juga menekankan betapa besarnya ketergantungan industri perang Rusia terhadap pasokan komponen dari Beijing saat ini.

“Sejak 2022, sebagian besar mesin perang Rusia ditenagai oleh komponen dual-use China, mulai dari kabel serat optik untuk drone dan chip, hingga mesin dan sistem pendorong untuk senjata jarak jauh,” pungkasnya.

Baca juga: Gegara Drone, Banyak Sniper Ukraina Jadi Menganggur

Tag:  #intel #eropa #temukan #kerja #sama #terselubung #china #rusia #untuk #perang #ukraina

KOMENTAR