Kenapa Kepala Militer Pakistan Pimpin Negosiasi AS-Iran, Bukan PM Sharif?
Wakil Presiden AS JD Vance (tengah) berbicara dengan Kepala Angkatan Darat dan Marsekal Lapangan Syed Asim Munir (kiri) dan Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar (kanan) setelah tiba untuk pembicaraan perdamaian AS-Iran di Islamabad pada 11 April 2026. (JACQUELYN MARTIN)
15:36
20 April 2026

Kenapa Kepala Militer Pakistan Pimpin Negosiasi AS-Iran, Bukan PM Sharif?

Pakistan memainkan peran penting dalam mendorong perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran.

Dalam beberapa hari terakhir, aktivitas diplomatik intens memperlihatkan pembagian peran yang tidak biasa antara militer dan pemerintah sipil.

Kepala militer Pakistan, Asim Munir, justru berada di garis depan negosiasi sensitif ini. Di saat yang sama, Perdana Menteri Shehbaz Sharif menjalankan diplomasi paralel ke negara-negara sekutu kawasan.

Baca juga: Iran Masih Enggan Negosiasi, meski Delegasi AS Sudah Bertolak ke Pakistan

Diplomasi “dua jalur” Pakistan

Dalam apa yang kerap disebut sebagai “rezim hibrida”, Pakistan memperlihatkan koordinasi erat antara militer dan sipil.

Pada Rabu (15/4/2026), Munir melakukan kunjungan tiga hari ke Teheran dengan membawa proposal Amerika Serikat untuk putaran kedua perundingan, sementara Sharif bersama menteri luar negerinya melakukan tur ke Arab Saudi, Qatar, dan Turkiye.

Direktur eksekutif National Dialogue Forum di Islamabad, Sheharyar Khan, menilai pola ini efektif.

Ia mengatakan, “Sinergi yang sedang berlangsung saat ini membuahkan hasil, dan untuk melanjutkan momentum ini, semua sinergi tersebut akan dibutuhkan.”

Kenapa kepala militer yang memimpin negosiasi?

Dilansir AFP, seorang pejabat Pakistan yang enggan disebut namanya menegaskan bahwa keputusan dalam situasi seperti ini berada di tangan militer.

Ia mengatakan, “Bukan kepemimpinan politik yang mengambil keputusan dalam situasi seperti ini, melainkan kepemimpinan militer.”

Pejabat tersebut juga menekankan peran personal Munir dalam membangun kepercayaan dengan Iran.

Ia menyebut, “Kesepakatan hampir selesai. Dia adalah satu-satunya orang yang bisa meyakinkan pihak Iran untuk mencapai kesepakatan—itu karena tingkat kepercayaan yang ada.”

Selain itu, Munir memiliki hubungan dekat dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

Adam Weinstein dari Quincy Institute mengatakan, “Munir fokus pada Iran karena itu adalah pemangku kepentingan utama dan dia dipandang memiliki hubungan paling dekat dengan Trump.”

Ia menambahkan, “...sementara perdana menteri fokus pada negara-negara kawasan dengan birokrasi kebijakan luar negeri yang lebih tradisional, yang dukungannya penting, tetapi tidak sepenting itu.”

Baca juga: JD Vance Batal Pimpin AS Temui Iran di Pakistan, Trump Ungkap Alasannya

Peran militer yang dominan

Munir sebelumnya juga menjadi salah satu mediator dalam perundingan langsung antara Amerika Serikat dan Iran di Islamabad pada 11 April—kontak tingkat tinggi pertama dalam beberapa dekade.

Kenaikan perannya di panggung global terjadi bersamaan dengan menguatnya posisi militer di dalam negeri. Ia bahkan memperoleh kekebalan hukum yang belum pernah terjadi sebelumnya serta perpanjangan masa jabatan.

Meski menuai kritik dari oposisi yang menilai hal ini melemahkan demokrasi, militer Pakistan membantah campur tangan dalam urusan sipil—meskipun secara historis pernah berkuasa melalui kudeta sejak 1947.

Sosok kunci di balik negosiasi

Ilustrasi bendera Pakistan, Iran, dan Amerika Serikat.Chat GPT Ilustrasi bendera Pakistan, Iran, dan Amerika Serikat.

Sheharyar Khan menilai bahwa dalam sistem saat ini, Munir adalah figur yang paling menentukan arah.

Ia mengatakan, “Siapa orang yang bisa memberikan hasil? Siapa orang kuat? Siapa yang mengendalikan? Siapa yang memimpin? Itu jelas Asim Munir.”

Purnawirawan jenderal Pakistan, Muhammad Saeed, juga mengungkapkan bahwa Munir memiliki komunikasi langsung dengan kepemimpinan Amerika Serikat untuk menjembatani perbedaan dengan Iran.

“Keberadaannya membawa kedua pihak menuju titik temu,” ujarnya.

Baca juga: Delegasi AS Tiba di Pakistan Senin untuk Negosiasi Lagi dengan Iran

Tag:  #kenapa #kepala #militer #pakistan #pimpin #negosiasi #iran #bukan #sharif

KOMENTAR