Pakistan Mencekam, 40 Milisi Bermotor Serbu Tambang Emas, 10 Orang Tewas
Tentara Pakistan menjaga sebuah kereta api setelah dua bom meledak di dekat kota Much, 55 kilometer sebelah timur Quetta, ibu kota provinsi Balochistan, Pada 7 Oktober 2016. Kelompok separatis Balochistan BLA pada Jumat (23/11/2018) mengklaim dalangi serangan ke konsulat China di Karachi.(AFP/BANARAS KHAN)
15:42
23 April 2026

Pakistan Mencekam, 40 Milisi Bermotor Serbu Tambang Emas, 10 Orang Tewas

- Kelompok milisi bersenjata dilaporkan menyerbu sebuah proyek pertambangan emas dan tembaga di Provinsi Balochistan, Pakistan barat daya. 

Insiden maut yang terjadi di wilayah konflik tersebut menewaskan sedikitnya 10 orang, sebagaimana dilansir AFP, Kamis (22/4/2026).

Penyerangan ini menambah panjang daftar kekerasan di Balochistan, sebuah wilayah yang telah lama didera gerakan separatis bersenjata.

Baca juga: Pakistan Masih Tunggu AS-Iran Datang, Warga Mulai Kesal

Peristiwa ini terjadi pada Rabu (22/4/2026) waktu setempat di area Darigwan, Distrik Chagai. 

Sekitar 40 anggota milisi yang mengendarai sepeda motor dan berbagai kendaraan lainnya menyerbu lokasi proyek milik perusahaan National Resources Private Limited (NRL).

Seorang pejabat administrasi setempat, yang meminta identitasnya dirahasiakan, mengonfirmasi jumlah korban jiwa dalam serangan mendadak tersebut.

"Serangan itu menewaskan sepuluh orang, termasuk tujuh pekerja dan tiga personel keamanan," ujarnya kepada AFP.

Selain korban tewas, terdapat kekhawatiran mengenai nasib karyawan lainnya. 

"Ada laporan yang belum terkonfirmasi bahwa milisi juga menyandera beberapa karyawan," tambah pejabat tersebut.

Baca juga: Iran Siap Berunding dengan AS di Pakistan, Asalkan...

Konflik di Balochistan

Hingga saat ini, belum ada kelompok yang menyatakan bertanggung jawab atas serangan tersebut. 

Meski demikian, kecurigaan mengarah pada kelompok separatis etnis lokal yang dalam beberapa tahun terakhir kian intensif mengincar proyek-proyek pertambangan.

Balochistan merupakan provinsi termiskin di Pakistan sekaligus wilayah terluas secara geografis. 

Wilayah ini tertinggal jauh dari provinsi lain dalam berbagai indeks, mulai dari pendidikan, lapangan kerja, hingga pembangunan ekonomi.

Para separatis Balochistan menuding pemerintah Pakistan mengeksploitasi sumber daya gas alam dan mineral yang melimpah di provinsi tersebut tanpa memberikan manfaat nyata bagi penduduk lokal.

Baca juga: Trump Sebut Gencatan Senjata AS-Iran Diperpanjang atas Permintaan Pakistan

Warga Pakistan berjalan melewati perbatasan Taftan usai kembali dari Iran menuju Provinsi Balochistan, di tengah serangan Amerika Serikat-Israel pada 9 Maret 2026.AFP/BANARAS KHAN Warga Pakistan berjalan melewati perbatasan Taftan usai kembali dari Iran menuju Provinsi Balochistan, di tengah serangan Amerika Serikat-Israel pada 9 Maret 2026.

Salah satu kelompok yang paling aktif, Tentara Pembebasan Baloch (BLA), sebelumnya juga melancarkan serangkaian serangan terkoordinasi di wilayah itu pada Februari lalu yang menewaskan lebih dari 190 orang. 

Dalam aksinya, kelompok separatis sering kali menargetkan pekerja berdasarkan etnis mereka, terutama etnis Punjabi dan Sindhi, yang dianggap sebagai "orang asing" di provinsi tersebut.

Pihak NRL telah mengakui adanya serangan tersebut pada Rabu malam. Dalam pernyataan resminya, perusahaan menyebut bahwa pasukan keamanan telah merespons dengan cepat.

"Pasukan keamanan merespons dengan segera dan telah mengamankan area tersebut," tulis pernyataan NRL.

Guna menepis isu marginalisasi warga lokal, NRL juga menekankan bahwa mayoritas karyawan mereka berasal dari penduduk setempat. Perusahaan menyatakan bahwa 90 persen dari total tenaga kerja mereka adalah pekerja lokal.

Baca juga: Wapres AS Batal ke Pakistan Usai Trump Perpanjang Gencatan Senjata dengan Iran

Tag:  #pakistan #mencekam #milisi #bermotor #serbu #tambang #emas #orang #tewas

KOMENTAR