Tri Tito Karnavian Ajak Masyarakat Hargai Batik sebagai Karya Seni
Ketua Umum Solidaritas Perempuan untuk Indonesia (Seruni) Kabinet Merah Putih, Tri Tito Karnavian, berharap kesadaran masyarakat untuk lebih menghargai batik sebagai karya seni bernilai tinggi bisa lebih ditingkatkan.
Tri menegaskan, batik bukan sekadar kain yang digunakan dalam keseharian, melainkan bagian dari identitas budaya bangsa yang harus terus dijaga keberlangsungannya.
Menurut dia, masih banyak masyarakat yang belum sepenuhnya memahami proses panjang pembuatan batik. Di balik keindahan motif dan warna dalam lembaran-lembaran batik dibutuhkan keterampilan, ketekunan, dan waktu pengerjaan yang tidak singkat.
Baca juga: Harga Jutaan Batik Tulis Peranakan Itu Masuk Akal
Proses membatik yang sarat nilai seni
Tri menilai, minimnya penghargaan terhadap batik saat ini menjadi tantangan tersendiri bagi upaya pelestarian budaya.
Perkembangan industri tekstil modern menghadirkan berbagai pilihan bahan kain yang lebih praktis dan terjangkau.
Kondisi ini, menurutnya, membuat sebagian masyarakat mulai mengesampingkan nilai artistik dan filosofis yang terkandung dalam batik tulis maupun batik tradisional.
“Hal ini karena digantikan oleh bahan-bahan kain lainnya yang lebih praktis dan lebih murah juga. Ini jadi tantangan kita bersama agar warisan keahlian membatik bisa terus dijaga dan jangan sampai hilang,” kata Tri dalam Pameran Akulturasi Batik Peranakan, di Menara Kompas, Jakarta Pusat, Rabu (13/5/2026).
Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa pelestarian batik tidak hanya menjadi tanggung jawab pengrajin atau pemerintah, tetapi juga seluruh lapisan masyarakat sebagai pengguna dan penikmat karya budaya.
Baca juga: Makna Mendalam Batik Jaga Rawat Bumi Karya Dave Tjoa, Suarakan Krisis Lingkungan
Ketua Umum Solidaritas Perempuan untuk Indonesia (Seruni) Kabinet Merah Putih, Tri Tito Karnavian saat mengunjungi Pameran Akulturasi Batik Peranakan, di Menara Kompas, Jakarta Pusat, Rabu (13/5/2026).
Kebiasaan menawar batik jadi refleksi bersama
Tri juga menyoroti kebiasaan masyarakat yang kerap memandang batik sebatas produk sandang tanpa mempertimbangkan proses panjang di balik pembuatannya.
Ia menilai, kebiasaan menawar harga serendah mungkin saat membeli batik dapat menjadi cerminan bahwa apresiasi terhadap kerja para perajin masih perlu ditingkatkan.
“Kita sehari-hari itu sering pakai batik, bahkan kalau beli batik itu menawar-nawar semurah mungkin. Melihat prosesnya yang tidak mudah, hal ini jadi menyadarkan kita semua,” ungkapnya.
Baca juga: Pesona Akulturasi Budaya Tionghoa dan Jawa dalam Batik Peranakan
Tri menilai, memahami proses membatik secara langsung dapat membuka perspektif baru tentang betapa rumitnya pengerjaan setiap motif yang dihasilkan.
Mulai dari menggambar pola, mencanting, pewarnaan, hingga tahap akhir, seluruh proses menuntut ketelitian tinggi dan kesabaran.
Oleh karenanya, ia mengajak masyarakat untuk mulai memandang batik sebagai karya seni tangan yang memiliki nilai lebih dari sekadar harga jual di pasaran.
“Kita harus benar-benar menghargai batik sebagai karya seni, karya tangan dari para pengrajin yang luar biasa,” imbau Tri.
Batik sebagai identitas bangsa
Lebih jauh, Tri berharap penggunaan batik di tengah masyarakat tidak hanya menjadi rutinitas formal semata, melainkan tumbuh sebagai bentuk kebanggaan terhadap identitas nasional.
“Semoga semua masyarakat makin gencar, makin sadar untuk tetap memakai batik sebagai identitas kita,” tandasnya.
Pelestarian batik dapat dimulai dari langkah sederhana, yaitu dengan mengenakannya secara sadar dan menghargai proses kreatif para pembuatnya.
Dengan apresiasi yang lebih besar, keberlangsungan tradisi membatik diharapkan tetap terjaga dan terus diwariskan kepada generasi mendatang sebagai salah satu kekayaan budaya Indonesia yang tak ternilai.
Baca juga: Tak Perlu Rumit, Melestarikan Batik Bisa Dimulai dari Rumah dengan Cara Sederhana
Tag: #tito #karnavian #ajak #masyarakat #hargai #batik #sebagai #karya #seni