Selat Hormuz Jadi Arena AS dan Iran untuk Saling Tunjukkan Pengaruh
- Kegagalan perundingan tahap kedua ditambah perpanjangan gencatan senjata Amerika Serikat (AS) dan Iran membuat konflik keduanya berada dalam ketidakpastian.
Meski demikian, Pakistan menegaskan bahwa prospek pembicaraan Washington dan Teheran di Islamabad belum sirna dan pesan-pesan positif masih terus dipertukarkan.
Sementara menunggu kepastian itu, lokasi aktivitas militer seolah telah beralih dari darat ke laut.
Pihak AS dan Iran berlomba-lomba membuktikan bahwa mereka dapat saling menekan dengan menegakkan blokade Selat Hormuz lebih efektif daripada pihak lain.
Hal ini telah menjadi bentuk diplomasi kekuatan militer yang diwujudkan di jalur perairan geopolitik terpenting di dunia, menurut laporan The Guardian, Kamis (23/4/2026).
Baca juga: Ranjau Iran Sulit Dideteksi, Pentagon Butuh Waktu 6 Bulan Bersihkan Selat Hormuz
Iran, dengan menutup, menembaki, dan menyita kapal-kapal dagang yang mencoba melewati selat tersebut, berupaya mengirim pesan bahwa mereka dapat mempertahankan cengkeramannya pada ekonomi dunia.
Di sisi lain, AS melalui blokade kapal dari/menuju pelabuhan Iran, mencoba sesuatu yang lebih mendesak.
Melalui sanksi dan aksi angkatan laut tersebut, Washington berupaya membuat ekonomi Iran runtuh karena Teheran kesulitan mengekspor minyak yang diproduksinya.
Ini seolah menjadi adu kekuatan yang mana kedua belah pihak percaya bahwa mereka memiliki kendali waktu di pihaknya.
Baca juga: Meja Makan Geopolitik di Selat Hormuz: Siapa Mengendalikan Menu Dunia?
AS dan Iran saling memberi tekanan dengan blokade Selat Hormuz
Personel Angkatan Laut Amerika Serikat saat berjaga di kapal USS Monterey (CG 61) yang sedang transit di Selat Hormuz pada 3 Juni 2021.
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, mengatakan bahwa dalam beberapa hari ke depan, “fasilitas penyimpanan di Pulau Kharg akan penuh dan sumur-sumur minyak Iran yang rapuh akan ditutup.”
“Pembatasan perdagangan maritim Iran secara langsung menargetkan jalur pendapatan utama rezim tersebut.” lanjutnya.
Argumen yang beredar adalah bahwa Iran akan kehabisan cadangan minyak pada hari Minggu, 26 April.
Hal ini sejalan dengan analisis yang diusung oleh Foundation for Defense of Democracies (FDD), lembaga kajian yang anti-rezim Iran.
Baca juga: Manuver China Saat Krisis Selat Hormuz, antara Diplomasi dan Ambisi
FDD berpendapat bahwa selat tersebut bukanlah senjata yang dapat mengubah keadaan bagi Iran, melainkan sumber kelemahan.
Mark Dubowitz, kepala eksekutif FDD, mengatakan strategi saat ini adalah gencatan senjata di satu front dan peningkatan tekanan di front lainnya, termasuk Komando Pusat AS yang meningkatkan tekanan dengan menyita kapal.
“Memaksa Iran untuk menghentikan produksi karena kurangnya penyimpanan akan berisiko menyebabkan kerusakan reservoir jangka panjang termasuk hilangnya permeabilitas, pembentukan kerucut air, dan pemadatan formasi. Ini efek yang dapat secara permanen mengurangi produksi dan arus kas di masa depan,” kata Lance B Gordon, pensiunan perwira angkatan laut.
Penghentian paksa dapat secara permanen menghilangkan produksi 300.000 hingga 500.000 barel per hari.
Baca juga: Iran Sita 2 Kapal di Selat Hormuz Usai Trump Umumkan Perpanjang Gencatan Senjata
Sementara itu, Gholamhossein Mohseni-Eje'i, kepala lembaga peradilan Iran, mengatakan: “Musuh (AS) tidak berada dalam posisi untuk menetapkan tenggat waktu bagi kita.”
Teheran bersikeras bahwa mereka memahami situasi dan dapat menggagalkan strategi AS, sebagian dengan cara menolak memulai kembali pembicaraan sampai blokade AS dicabut.
Kemudian, Iran tidak perlu mencari jauh-jauh untuk menemukan tanda-tanda bahwa blokade selat yang mereka lakukan berhasil.
Harga minyak tetap menjadi metrik kunci bagi Iran, dan berada di atas 100 dollar AS (Rp 1,7 juta) per barel.
Baca juga: 8 Jalur Laut Penting Dunia Selain Selat Hormuz, Ada 4 di Asia
Indikator lainnya adalah pembatalan 20.000 penerbangan Lufthansa karena biaya bahan bakar jet, tingkat kekosongan pemesanan hotel musim panas, tingkat cadangan minyak di pelabuhan Fujairah UEA, harga tembaga dan kondom, hingga biaya yang dikeluarkan oleh kas negara Eropa untuk mengurangi inflasi energi.
Penutupan Selat Hormuz yang dilakukan Teheran telah mengguncang perekonomian dan pasokan energi global.
Tag: #selat #hormuz #jadi #arena #iran #untuk #saling #tunjukkan #pengaruh