Dihantam Krisis Energi Imbas Situasi Hormuz, Warga Eropa Ramai-ramai Borong Panel Surya
Ilustrasi panel surya atap di rumah.(PIXABAY/PHOTO MIX)
19:54
23 April 2026

Dihantam Krisis Energi Imbas Situasi Hormuz, Warga Eropa Ramai-ramai Borong Panel Surya

- Konflik Timur Tengah dan krisis Selat Hormuz telah memicu lonjakan permintaan panel surya atap di seluruh Eropa. 

Langkah ini diambil oleh ribuan warga "Benua Biru" sebagai upaya untuk melindungi diri dari lonjakan tagihan listrik di tengah gangguan energi global terburuk dalam sejarah.

Perang Iran telah mendorong harga minyak, gas, dan listrik merangkak naik secara signifikan, sebagaimana dilansir Reuters

Baca juga: Perusahaan Italia Temukan Harta Karun di Laut RI, Siap Atasi Krisis Energi

Kondisi ini memaksa sektor industri maupun rumah tangga untuk mencari alternatif energi yang lebih murah guna mengurangi ketergantungan pada pasar energi fosil yang volatil.

Berdasarkan laporan dari sejumlah penjual peralatan energi dan perusahaan energi terbarukan di Jerman, Inggris, dan Belanda, permintaan panel surya meningkat lebih dari dua kali lipat sejak perang pecah pada akhir Februari lalu.

Padahal, panel surya sempat mengalami penurunan laju instalasi baru pada tahun lalu, yang merupakan penurunan pertama dalam hampir satu dekade.

Di satu sisi, panel surya telah tumbuh signifikan dalam beberapa tahun terakhir hingga menyumbang sekitar sepertiga dari total kapasitas listrik Eropa ini

"Perang ini hanya mengungkap masalah yang sebenarnya sudah ada sejak lama: ketergantungan energi," ujar Janik Nolden, salah satu pendiri penjual peralatan surya Jerman, Solarhandel24. 

Dia juga menambahkan bahwa selama ini pemerintah negara-negara Eropa seolah berjalan masuk ke dalam jebakan.

Baca juga: Geopolitik Bergolak, Energi Terguncang: Ujian Strategis Indonesia

Ketahanan energi

Lonjakan permintaan ini tercermin jelas pada angka penjualan para pelaku industri. 

Solarhandel24 mencatat penjualan bersih pada Maret 2026 melonjak lebih dari tiga kali lipat menjadi hampir 70 juta euro (sekitar 1,4 triliun) dibandingkan tahun sebelumnya.

Tren serupa dialami oleh perusahaan energi Jerman lainnya, Enpal. 

CEO dan pendiri Enpal, Mario Kohle, mengungkapkan bahwa pesanan pada Maret naik 30 persen secara tahunan menjadi 130 juta euro (Rp 2,6 triliun).

Baca juga: Krisis Selat Hormuz Bukti Kerentanan Bahan Bakar Fosil, Transisi Energi Tak Bisa Ditunda

"Ini adalah tentang ketahanan Eropa. Kami melihat tren ini juga terjadi di sektor pertahanan. Sama seperti Eropa yang harus mampu mempertahankan diri, kita juga harus mampu menyuplai energi kita sendiri," kata Kohle.

Filip Thon dari E.ON, operator jaringan energi terbesar di Eropa, turut mengonfirmasi fenomena ini. 

Dia menyatakan bahwa permintaan pelanggan meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan tahun lalu.

"Hal ini tidak bisa dijelaskan hanya oleh faktor musiman semata," tegas Thon.

Baca juga: Israel-AS Siap Serang Iran jika Gencatan Senjata Gagal, Targetkan Fasilitas Energi

Pergeseran struktural

Ilustrasi panel surya, pemasangan Panel surya. FREEPIK.COM/SENIVPETRO Ilustrasi panel surya, pemasangan Panel surya.

Para eksekutif industri menilai bahwa fenomena ini bukan sekadar tren sesaat, melainkan sebuah pergeseran struktural. 

Ed Janvrin dari OVO Energy Inggris, menyebutkan bahwa penjualan pada April 2026 mencapai 10 kali lipat lebih tinggi dibanding setahun lalu.

"Kami memandang lonjakan permintaan ini sebagai pergeseran struktural yang dipercepat oleh peristiwa geopolitik saat ini, bukan diciptakan olehnya," jelas Janvrin.

Senada dengan itu, Jannik Schall, salah satu pendiri firma energi terbarukan 1Komma5Grad, menekankan bahwa krisis energi yang berulang menjadi pembuktian bagi sektor ini.

"Krisis energi yang terus berulang membuktikan bahwa sektor energi terbarukan berada di jalur yang benar," ungkap Schall.

Meskipun saat ini hampir 90 persen panel surya di Eropa masih dipasok dari China, para warga  mulai beralih ke sistem penuh yang menggabungkan panel surya dengan baterai penyimpanan dan wallbox kendaraan listrik. 

Wijnand van Hooff dari Holland Solar mencatat permintaan teknologi penyimpanan energi ini pun ikut terkerek naik antara 40 hingga 50 persen.

Baca juga: Jadi Bahan untuk Energi Nuklir, dari Mana Uranium Berasal?

Tag:  #dihantam #krisis #energi #imbas #situasi #hormuz #warga #eropa #ramai #ramai #borong #panel #surya

KOMENTAR