Iran Bantah Klaim Trump soal Keretakan Kepemimpinan
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali menggulirkan narasi adanya keretakan besar di internal kepemimpinan Iran.
Di tengah spekulasi perpecahan internal, sejumlah pejabat tinggi Iran serempak menyampaikan pesan yang sama.
Sebagaimana dilansir dari Al Jazeera, Kamis (23/4/2026) waktu setempat, mereka menekankan apa yang disebut dengan persatuan kokoh antara rakyat dan pemerintah.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian, Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, serta Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf secara terbuka mengeluarkan pernyataan yang menolak tudingan presiden AS tersebut.
Baca juga: Gencatan dengan AS-Israel, Mojtaba Khamenei Klaim “Kemenangan Akhir”
Tepisan pejabat tinggi Iran
Spekulasi keretakan kepemimpinan yang digulirkan Trump segera dipatahkan oleh beberapa pejabat Iran.
Seraya menolak, beberapa sosok tersebut menegaskan bahwa negara mereka tetap solid dan bersatu.
Pezeshkian dan Ghalibaf, bersama Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, bahkan mengunggah pesan yang sama melalui platform X.
Salah satu penekanan mereka adalah di Iran, tidak ada istilah kelompok radikal atau moderat.
“Kami semua adalah ‘Iran’ dan ‘revolusioner’. Dengan persatuan kokoh antara rakyat dan pemerintah, serta ketaatan penuh kepada Pemimpin Tertinggi Revolusi, kami akan membuat pelaku agresi kriminal menyesali perbuatannya," bunyi pernyataan tersebut.
Wakil Presiden Pertama Iran, Mohammad Reza Aref juga memberi penegasan bahwa Iran bukanlah negeri yang terpecah-pecah.
“Iran bukanlah negeri yang terpecah, melainkan benteng persatuan,” kata Aref.
Menurutnya, keberagaman yang ada dalam politik Iran adalah bentuk demokrasi.
"Namun dalam masa bahaya, kami menjadi ‘satu tangan’ di bawah satu bendera. Untuk melindungi tanah air dan martabat kami, kami melampaui semua label. Kami satu jiwa, satu bangsa," tegas Aref.
Di sisi lain, pada Kamis, Araghchi juga mematahkan anggapan adanya perselisihan antara militer Iran dengan kepemimpinan politik.
“Kegagalan pembunuhan yang dilakukan Israel tercermin dari bagaimana institusi negara Iran tetap bertindak dengan persatuan, tujuan yang jelas, dan disiplin,” tulisnya di X.
“Medan perang dan diplomasi adalah dua front yang sepenuhnya terkoordinasi dalam perang yang sama. Rakyat Iran kini semakin bersatu, lebih dari sebelumnya," lanjutnya.
Baca juga: Statement Pertama Mojtaba Khamenei: Ini Beberapa Pesannya
Kondisi Mojtaba Khamenei yang masih jadi tanda tanya
Membahas kepemimpinan Iran, sosok Mojtaba Khamenei tak lepas dari pusat perhatian sekaligus tanda tanya dalam eskalasi konflik di Timur Tengah.
Sudah lebih dari enam minggu, Mojtaba Khamenei ditunjuk sebagai Pemimpin Tertinggi Iran yang baru.
Ia resmi menggantikan pemimpin tertinggi sebelumnya Ayatollah Ali Khamenei yang tewas dalam serangan Amerika Serikat-Israel pada 28 Februari 2026.
Namun, hingga sekarang ini Mojtaba Khamenei dilaporkan belum muncul di hadapan publik sejak menggantikan ayahnya, Ali Khamenei.
Pejabat AS menyebut bahwa Khamenei yang lebih muda mengalami luka dan “cacat fisik” imbas serangan yang juga menewaskan ayahnya.
Namun ada pula kabar bahwa Khamenei tetap terlibat dalam roda pemerintahan Iran.
Laporan The New York Times pada Kamis, mengutip pejabat Iran yang tidak disebutkan namanya, menyebut bahwa Khamenei mengalami luka serius namun tetap tajam secara mental.
Baca juga: Trump Tak Senang Mojtaba Khamenei Jadi Pemimpin Tertinggi Iran, Apa Katanya?
Klaim Trump soal perpecahan kepemimpinan Iran
Masih melansir dari Al Jazeera, Trump dan orang-orang di lingkar pemerintahannya menggulirkan klaim ada perbedaan besar di antara para pemimpin Iran. Klaim disebut berulang sepanjang sepekan terakhir.
Bahkan, Trump mengeklaim tentang kebingungan rakyat Iran atas siapa yang memegang kendali pemerintahan mereka.
"Rakyat Iran kesulitan menentukan siapa pemimpin mereka”, katanya.
Trump juga menuding adanya pertikaian internal yang “gila” antara kelompok “moderat” dan “garis keras” di Teheran.
Pernyataan Trump yang menyoroti dugaan perpecahan tersebut dinilai dapat menjadi alasan untuk memperpanjang gencatan senjata, sekaligus mengalihkan kesalahan atas mandeknya diplomasi kepada Iran.
Sementara itu, Teheran membantah tegas klaim tersebut. Mereka juga kembali menekankan bahwa gagalnya dialog di Pakistan (putaran lanjutan) disebabkan oleh blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Baca juga: Mojtaba Khamenei Jadi Pemimpin Tertinggi Iran, Siapa yang Dukung dan Siapa yang Kecam?
Kesepakatan yang belum temui titik terang
Konflik yang belum temui titik tengah masih berlangsung antara AS dan Iran.
Trump menegaskan bahwa posisinya yang tidak terburu-buru untuk segera mengakhiri ketegangan.
Ia bakal tetap memblokade pelabuhan Iran untuk memberikan tekanan ekonomi tanpa melanjutkan perang atau terburu-buru mencapai kesepakatan akhir.
“Angkatan Laut Iran berada di dasar laut, Angkatan Udara mereka hancur, sistem pertahanan udara dan radar mereka lenyap, para pemimpin mereka sudah tidak ada, dan blokade ini sangat ketat serta kuat dan dari situ, situasinya hanya akan semakin buruk. Waktu tidak berpihak pada mereka!” kata Trump melalui media sosial pada Kamis.
Menurutnya, kesepakatan hanya akan dibuat jika waktunya tepat dan menguntungkan Amerika Serikat, sekutunya, dan ia menyebut pada akhirnya, dunia.
Kerapuhan situasi ini pun kian nyata saat sistem pertahanan udara Teheran sempat teraktivasi pada Kamis, meski belum ada verifikasi mengenai serangan langsung.
Sebelumnya pada hari yang sama, Trump juga menyatakan bahwa militer AS akan menembak dan membunuh pihak Iran yang memasang ranjau di Selat Hormuz.
Imbasnya, pasar energi global kembali bergejolak dengan kenaikan harga minyak akibat blokade ganda di Teluk.
Di antaranya penutupan Selat Hormuz oleh Iran dan pengepungan laut oleh AS terhadap pelabuhan Iran.
Di sisi lain, Israel juga tampak bersiap untuk kembali terlibat dalam konflik.
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz mengatakan negaranya menunggu lampu hijau dari Trump untuk mengembalikan Iran ke “zaman kegelapan”.
“Israel siap melanjutkan perang melawan Iran. Militer siap untuk bertahan dan menyerang, dan target-target sudah ditentukan,” kata Katz, dilansir dari surat kabar Times of Israel.
Baca juga: Ratusan Napi Dipindah ke Nusakambangan, Ini Provinsi Penyumbang Terbanyak
Tag: #iran #bantah #klaim #trump #soal #keretakan #kepemimpinan