Khawatir Krisis Perang Iran, Trump Adakan Rapat dengan Bos-bos Minyak
- Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan para pembantu utamanya mengadakan pertemuan dengan para eksekutif minyak dan gas di Gedung Putih, Selasa (28/4/2026) waktu setempat atau Rabu WIB.
Pertemuan tersebut bertujuan untuk membahas dampak energi dari perang Iran dan topik-topik lainnya, demikian laporan media AS Axios.
Baca juga: Demokrat Pertimbangkan Gugat Trump Terkait Perang Iran, Ini Alasannya
Sebagaimana diketahui, krisis energi akibat perang di Timur Tengah mendorong kenaikan harga komoditas dan menghadirkan peluang sekaligus bahaya bagi industri ini.
Turut hadir Kepala Staf Gedung Putih Susie Wiles, Menteri Keuangan Scott Bessent, dan utusan Steve Witkoff serta Jared Kushner, menurut sumber yang mengetahui pertemuan itu.
Dan di antara para petinggi perusahaan yang hadir adalah CEO Chevron, Mike Wirth, demikian konfirmasi dari juru bicara perusahaan.
Baca juga: Trump Marah Negosiasi Tak Kunjung Deal: Iran Tak Becus
Pertemuan membahas soal minyak dan gas
Seorang pejabat Gedung Putih mengatakan, topik yang dibahas meliputi produksi dalam negeri, kemajuan di Venezuela, harga minyak berjangka, gas alam, dan perkapalan.
"Presiden sering bertemu dengan para eksekutif energi untuk mendapatkan masukan mereka tentang pasar energi domestik dan internasional," kata pejabat itu kepada Axios.
Saat ini, Trump dan anggota Partai Republik di Capitol Hill bersiap menghadapi dampak politik dari tingginya harga bensin di AS.
Itu terkait erat dengan harga minyak mentah di pasar global yang kini menghadapi penurunan pasokan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Baca juga: Trump Ngamuk Usai Jerman Sebut AS Dipermalukan Iran
Kondisi saat ini membebani perusahaan, dan jika harga tetap tinggi dalam waktu yang cukup lama, hal itu akan mengurangi permintaan minyak di AS dan luar negeri.
Penutupan Selat Hormuz secara de facto, yang menangani sekitar seperempat dari minyak dunia yang diangkut melalui laut, telah mendorong harga ke level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Namun, pasokan yang terhambat dari kawasan tersebut juga ikut mendorong pasar ekspor minyak dan gas alam cair AS.
Baca juga: Trump Minta AS Siap-siap Hadapi Blokade Iran Berkepanjangan
Lalu lintas Selat Hormuz masih terkunci
Kapal-kapal melintasi Selat Hormuz pada 24 Juni 2025, saat difoto dari pesisir Khasab, Semenanjung Musandam, Oman.
Seperti diketahui, Iran masih menutup dan memegang kendali atas lalu lintas di Selat Hormuz, yang merupakan jalur utama dari seperlima pasokan minyak dunia.
Di sisi lain, Militer AS juga memberlakukan blokade terhadap kapal-kapal yang menuju atau dari pelabuhan Iran di kawasan tersebut.
Situasi tersebut ini yang menyebabkan pasokan energi global masih belum pulih. Ditambah belum ada tanda-tanda kesepakatan damai antara Washington dan Teheran dalam waktu dekat.
Baca juga: Krisis Selat Hormuz: Babak Baru AS-China Rebutan Energi Masa Depan
Iran sendiri telah mengusulkan proposal baru ke AS terkait Selat Hormuz sambil menyerahkan pertanyaan tentang program nuklirnya untuk negosiasi selanjutnya.
Iran menyampaikan pesan tertulis kepada Washington melalui Pakistan, yang menjelaskan garis merahnya dalam negosiasi, termasuk masalah nuklir dan Selat Hormuz.
Gedung Putih mengatakan mereka sedang meneliti proposal terbaru Iran untuk membuka blokade Selat Hormuz, menurut AFP, Selasa (28/4/2026).
Namun, Trump mengisyaratkan pada Senin (27/4/2026) bahwa ia kemungkinan besar tidak akan menerima proposal terbaru Iran untuk mengakhiri konflik.
Tag: #khawatir #krisis #perang #iran #trump #adakan #rapat #dengan #minyak