PM Singapura Akui Ekonomi Bakal Melambat Imbas Krisis Hormuz, Ajak Rakyat Bersiap
Perdana Menteri (PM) Singapura Lawrence Wong memberikan peringatan bahwa pertumbuhan ekonomi nasional diprediksi akan melambat pada tahun ini.
Hal tersebut dipicu oleh krisis Timur Tengah yang menyebabkan penutupan Selat Hormuz secara berkepanjangan.
Jalur pelayaran melalui Selat Hormuz, yang melayani seperlima kebutuhan minyak dan gas dunia, telah terhenti sejak Amerika Serikat (AS) dan Israel mulai melakukan pengeboman di Iran pada 28 Februari lalu.
Baca juga: Mojtaba Khamenei Usir” AS dari Teluk, Klaim Kelola Selat Hormuz demi Kebaikan Kawasan
Dalam pidato memperingati Hari Buruh Internasional atau May Day, Jumat (1/5/2026), Wong menyatakan bahwa konflik tersebut diperkirakan tidak akan berakhir dalam waktu dekat.
Dia juga memperingatkan bahwa gangguan rantai pasokan berpotensi memburuk dalam beberapa bulan ke depan.
"Secara global, inflasi akan naik, merambat dari energi ke pangan dan kemudian kebutuhan pokok lainnya. Beberapa negara mungkin akan terperosok ke dalam resesi, dan Singapura akan merasakan dampaknya secara langsung," ujar Wong, sebagaimana dilansir AFP..
Wong menyoroti bahwa wilayah Asia menjadi salah satu yang paling terdampak akibat ketergantungan yang tinggi terhadap pasokan energi dari kawasan Teluk.
Baca juga: AS Minta Bantuan Internasional untuk Buka Selat Hormuz, Bentuk Aliansi Khusus
"Di Asia, kita sangat terdampak karena tingginya ketergantungan kita terhadap energi dan pasokan kritis lainnya dari Teluk," paparnya.
Saat ini, beberapa negara di kawasan regional mulai menghadapi kelangkaan bahan bakar.
Sejumlah maskapai penerbangan terpaksa memangkas jadwal penerbangan, sementara sektor industri manufaktur mulai melaporkan adanya keterlambatan produksi.
Tekanan ekonomi
Meskipun Wong tidak merinci angka pertumbuhan yang baru, Kementerian Perdagangan Singapura pada Februari sempat memproyeksikan ekonomi akan tumbuh di angka 2,0 hingga 4,0 persen.
Namun, kondisi terkini memaksa pemerintah untuk lebih realistis.
Baca juga: Strategi “Mencekik” Iran, Trump Mau Perpanjang Blokade Selat Hormuz Berbulan-bulan
"Pertumbuhan kita tahun ini akan melambat, dan inflasi akan lebih tinggi, dan semua ini akan memberikan tekanan nyata bagi bisnis, pekerja, dan rumah tangga," papar Wong.
Wong meminta masyarakat untuk bersiap menghadapi periode yang lebih sulit.
Dia juga menegaskan pentingnya kesiapan mental dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi ini.
Kendati demikian, Singapura dinilai menghadapi krisis ini dari posisi yang cukup kuat.
Hal ini berkat kebijakan ketahanan energi yang telah dibangun di masa lalu, termasuk status Singapura sebagai pusat kilang minyak utama dan pusat perdagangan energi.
Baca juga: AS Tak Mau Sendirian Lagi Amankan Selat Hormuz, Ajak Dunia Gabung Koalisi Baru
Namun, Wong mengingatkan bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz nantinya tidak akan langsung mengembalikan keadaan menjadi normal seketika.
"Pelabuhan dan infrastruktur energi telah rusak. Jalur pelayaran perlu dibersihkan dari ranjau," tutur Wong.
Menurutnya, pemulihan juga bergantung pada faktor kepercayaan pasar dan keselamatan pelayaran.
"Kepercayaan harus dipulihkan bahwa jalur tersebut aman untuk dilalui kapal, asuransi bisa didapatkan, dan orang-orang siap mengambil risiko untuk melewati Selat tersebut," jelas Wong.
Baca juga: Iran Sulit Pasang Tarif di Selat Hormuz, Negara Teluk Berpihak ke AS
Tag: #singapura #akui #ekonomi #bakal #melambat #imbas #krisis #hormuz #ajak #rakyat #bersiap