Krisis Mengintai, PM Singapura Janji Tak Biarkan Warganya Jatuh
- Perdana Menteri Lawrence Wong berjanji, pemerintahannya akan berbuat lebih banyak untuk membantu jika krisis saat ini memburuk.
Ia juga memperingatkan warga Singapura untuk bersiap menghadapi periode yang lebih sulit di masa mendatang.
Pernyataan ini disampaikannya dalam pidato Rapat Umum Hari Buruh pada Jumat (1/5/2026).
Wong menyoroti dampak konflik di Timur Tengah yang diperkirakan akan membuat situasi sepanjang tahun ini menjadi jauh lebih berat bagi negara kota tersebut.
“Jika itu terjadi, kami akan berbuat lebih banyak untuk membantu Anda. Pemerintah Anda akan bertindak tegas dan kami akan berdiri bersama Anda di setiap langkah,” ujar PM Wong, dikutip dari Straits Times.
Baca juga: PM Singapura Akui Ekonomi Bakal Melambat Imbas Krisis Hormuz, Ajak Rakyat Bersiap
Klaim Singapura kini lebih kuat
Meski dunia dibayangi ketidakpastian, PM Wong menegaskan bahwa Singapura tidak menghadapi krisis ini dari posisi yang lemah.
Menurutnya, Singapura jauh lebih siap saat ini berkat pilihan kebijakan yang dibuat selama beberapa dekade terakhir.
“Kita tidak menghadapi krisis ini dari posisi yang lemah. Singapura lebih siap dan berada dalam posisi yang jauh lebih kuat saat ini,” ujarnya.
Wong menuturkan, pemerintah juga meningkatkan dukungan bagi warga Singapura dan bertindak sejak awal April untuk meluncurkan paket dukungan.
Hampir 1 miliar dollar AS dana dialokasikan untuk mengurangi dampak kenaikan harga bagi rumah tangga dan bisnis, serta memberikan dukungan yang lebih luas.
Baca juga: Peringatan Singapura, Selat Malaka Lebih Bahaya dari Hormuz jika AS-China Perang
Ini termasuk bantuan untuk bisnis yang paling terdampak oleh kenaikan harga energi, rabat U-Save, pembayaran tunai yang lebih tinggi, dan percepatan pencairan voucher CDC.
Wong mendorong perusahaan-perusahaan untuk melakukan apa pun yang mereka bisa untuk mendukung para pekerja dan membantu meringankan beban warga Singapura.
"Kemampuan untuk beroperasi dari posisi yang kuat ini dibangun seiring waktu," jelas dia.
"Pilihan sulit telah dibuat sejak awal, Singapura mengelola keuangannya dengan bijaksana dan membangun cadangannya," tambahnya.
Wong menuturkan, Singapura bekerja sama erat dengan negara-negara yang memiliki pandangan serupa untuk memperkuat ketahanan rantai pasokan dan memberikan dukungan timbal balik, serta mengamankan jalur pasokan untuk energi dan barang-barang penting lainnya.
Baca juga: Malaysia dan Singapura Tolak Wacana RI Pungut Tarif Kapal di Selat Malaka
Ketahanan energi jadi kunci
Ilustrasi Singapura.
Salah satu faktor utama yang membuat Singapura percaya diri adalah investasi jangka panjang pada infrastruktur energi.
Meski tidak memiliki cadangan minyak dan gas alam sendiri, Singapura berhasil membangun pusat energi global melalui reklamasi Pulau Jurong dan pembangunan fasilitas penyimpanan bawah tanah di Gua Batu Jurong (Jurong Rock Caverns).
“Kami tidak memiliki minyak, tidak ada gas alam, dan tidak ada jaminan bahwa semua ini akan berhasil. Tetapi kami terus maju dan membangun sesuatu yang sebelumnya tidak ada,” tegas dia.
Baca juga: Tak Tiru Malaysia, Singapura Enggan Negosiasi dengan Iran soal Selat Hormuz
Wong mengeklaim, Singapura kini merupakan simpul kunci dalam aliran energi global, sehingga memberikan keuntungan signifikan bagi negara.
Dengan perusahaan-perusahaan energi terkemuka dunia yang melakukan penyulingan, penyimpanan, dan perdagangan minyak di sini, Singapura terhubung ke beragam jaringan pasokan.
“Itulah keunggulan yang telah kita bangun selama beberapa dekade, bukan secara kebetulan, tetapi melalui pilihan yang disengaja, upaya berkelanjutan, dan disiplin. Kita mewujudkan ini bersama-sama,” kata Wong.
"Semua ini tidak berjalan dengan sendirinya. Di balik semua ini, ada para pekerja di sini," tambahnya.
Baca juga: Kelahiran Anjlok ke Rekor Terendah, Singapura Terancam Menyusut di 2040
Dampak jangka panjang krisis Timur Tengah
Kapal-kapal kargo dan tanker yang berlayar di Selat Hormuz, saat difoto dari kota pesisir Fujairah, Uni Emirat Arab, 25 Februari 2026. Trump Ungkap detik-detik kapal AS Tembaki Kapal Kargo Iran di Teluk Oman
Dia menegaskan kembali bahwa krisis Timur Tengah tidak akan berakhir dalam waktu dekat.
Selain gangguan pasokan yang terus berlanjut dan berpotensi memburuk, serta inflasi pada kebutuhan pokok seperti makanan dan energi yang meningkat secara global, ia memperingatkan bahwa beberapa perekonomian mungkin akan tergelincir ke dalam resesi.
Menurutnya, pertumbuhan ekonomi Singapura pada 2026 akan melambat dan inflasi bakal lebih tinggi. Semua ini akan memberi tekanan pada bisnis, pekerja, dan rumah tangga.
Ia juga memperingatkan bahwa keadaan di Selat Hormuz tidak akan langsung kembali normal karena pelabuhan dan infrastruktur energi telah rusak.
Baca juga: Bayar Tak Sampai Rp 100.000, Kereta Malaysia-Singapura Cuma 5 Menit
“Situasi ini tidak akan pulih dalam semalam. Setidaknya akan memakan waktu berbulan-bulan sebelum keadaan stabil,” jelas dia.
Saat mengakhiri pidatonya, Wong mengatakan bahwa jalan di depan yang penuh konflik, gangguan, dan perubahan teknologi yang pesat, tidak akan mudah.
“Kita adalah dan akan selalu menjadi negara kecil, rentan, mudah terekspos, dengan sedikit ruang untuk kesalahan," tuturnya.
"Tetapi yang mendefinisikan Singapura adalah kita tidak menyerah. Kita tidak saling meninggalkan,” tambahnya.
Tag: #krisis #mengintai #singapura #janji #biarkan #warganya #jatuh