Gara-gara Perang Iran, Musuh AS Kini Tau Kelemahan Militer Washington
- Perang Iran telah memberikan kesempatan langka bagi China, Rusia, dan Korea Utara untuk mempelajari kemampuan dan keterbatasan militer Amerika Serikat.
Melalui perang ini, ketiga negara yang dianggap sebagai ancaman keamanan bagi itu dapat menyaksikan langsung efektivitas senjata baru Washington, seperti rudal presisi yang dibantu kecerdasan buatan (AI).
Namun, di sisi lain, mereka juga melihat betapa cepatnya persediaan amunisi strategis AS, seperti rudal Tomahawk dan pencegat Patriot, terkuras habis dalam waktu singkat.
Pengamatan ini memberikan gambaran bagi para rival Washington mengenai apa yang harus mereka persiapkan jika suatu saat terlibat dalam konflik langsung.
Baca juga: Serangan Iran Rusak 16 Pangkalan Militer AS di 8 Negara Timur Tengah
Arena uji coba teknologi China dan Rusia
Dikutip dari The Wall Street Journal, banyak perangkat keras militer Iran merupakan hasil rekayasa balik atau bergantung pada komponen asal China.
Keberhasilan drone berbiaya rendah Iran dalam menembus pangkalan AS di Teluk menjadi data intelijen yang sangat berharga bagi Beijing, terutama dalam merancang strategi untuk potensi konflik di Taiwan.
Pakar China dari Universitas Beni Suef, Nadia Helmy menilai, Beijing sangat haus akan data operasional ini.
“Arena Iran berfungsi sebagai laboratorium hidup untuk menguji efektivitas teknologi China terhadap senjata canggih Barat,” jelasnya.
Baca juga: Trump Beri Sinyal Tolak Proposal Baru Iran, Mau Perang Lagi?
Komandan Pasukan AS di Pasifik, Laksamana Samuel Paparo juga mengakui hal senada dalam kesaksiannya di hadapan Kongres.
"Saya pikir mereka melihat kekuatan amunisi kecil dan berbiaya rendah," ujarnya.
Sementara itu, Rusia mendapatkan wawasan mendalam mengenai bagaimana senjata AS bersaing dengan teknologi drone Iran.
Pengalaman ini penting bagi Moskow, baik untuk perang di Ukraina maupun potensi bentrokan dengan NATO di masa depan.
Rusia bahkan telah mengamati kerentanan sistem pertahanan udara canggih AS seperti THAAD dan Patriot terhadap serangan kawanan drone (swarms).
“Banyak hal yang mungkin dipersiapkan Rusia untuk perang di Eropa, dapat mereka pelajari sekarang juga di Timur Tengah,” jelas ahli hubungan Rusia-Iran dari Sciences Po, Nicole Grajewski.
Baca juga: Posisi Trump Kini Disebut Jauh Lebih Buruk, Simalakama Perang Iran?
Pelajaran nuklir bagi Korut
Penampakan unit-unit roket pemusnah musuh yang dicek langsung oleh Pemimpin Tertinggi Korea Utara Kim Jong Un, di pabrik senjata yang tak disebutkan lokasinya, Jumat (26/12/2025).
Bagi Kim Jong Un, konflik Iran semakin mempertebal keyakinannya bahwa senjata nuklir adalah satu-satunya jaminan keamanan dari serangan luar.
Iran, yang tidak memiliki senjata nuklir, telah kehilangan pimpinan tertinggi dan infrastruktur vitalnya akibat serangan AS yang masif.
Kondisi ini kontras dengan posisi Pyongyang yang merasa lebih aman karena memiliki "payung nuklir".
Baca juga: Pertaruhan Berat Trump Pasca-Kebuntuan Perundingan dengan Iran
Menteri Pertahanan Pete Hegseth bahkan menggunakan Korea Utara sebagai pembenaran atas tindakan militer keras terhadap Iran.
“Korea Utara adalah pelajaran yang bisa diambil. Semua orang mengira Korea Utara seharusnya tidak memiliki senjata,” tegas Hegseth.
Di sisi lain, Kim Jong Un justru merasa keputusannya mempertahankan nuklir adalah langkah strategis yang tepat.
“Situasi saat ini jelas membuktikan betapa tepatnya pilihan negara kita dalam menolak bujukan musuh dan melanggengkan kepemilikan nuklir kita,” ujar Kim dalam pidatonya Maret lalu.
Baca juga: Reaksi Jerman Setelah AS Tarik 5.000 Tentaranya dari Berlin
Rapuhnya amunisi AS
Perisai udara Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) saat ditempatkan oleh militer Amerika Serikat di Israel pada 4 Maret 2019. Senjata ini kembali disiapkan dalam ancang-ancang serangan AS ke Iran, Januari 2026.
Salah satu fakta paling mencemaskan bagi Washington adalah rapuhnya rantai pasokan amunisi mereka.
Laporan dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) mengungkapkan, dari tujuh jenis amunisi utama yang digunakan di Iran, empat di antaranya telah terkuras lebih dari setengah stok nasional hanya dalam waktu beberapa minggu.
Padahal, penggantian penuh rudal-rudal tersebut diprediksi memakan waktu hingga enam tahun.
Salah satu penulis laporan CSIS, Chris H Park menyebut perang ini telah membuka mata banyak pihak mengenai kesiapan logistik AS.
Baca juga: Kami seperti Bajak Laut di Selat Hormuz, Ambil Minyak, Ambil Kargo
“Perang ini mengungkap banyak masalah besar bagi militer AS. Kita sangat membutuhkan banyak hal,” tuturnya.
Meskipun Pentagon mengeklaim tetap memiliki persediaan yang cukup, para analis independen memperingatkan adanya risiko besar jika AS harus menghadapi perang di tempat lain dalam waktu dekat.
Kekhawatiran ini diperparah dengan fakta bahwa musuh-musuh AS kini mulai mencari cara untuk memastikan aset komando dan kekuatan nuklir mereka dapat bertahan dari serangan pembuka AS yang sangat menghancurkan.
Peneliti senior dari Carnegie Endowment for International Peace, Ankit Panda menyimpulkan bahwa efek domino dari konflik ini baru saja dimulai.
“Perang melawan Iran akan mendorong musuh-musuh AS untuk bereaksi dengan cara-cara yang cukup menarik,” pungkasnya.
Tag: #gara #gara #perang #iran #musuh #kini #kelemahan #militer #washington