China Turun Tangan di Perang Iran, Gerakkan Perusahaan Lawan Balik AS
Sebuah kapal tanker minyak mentah diarahkan ke dermaga di terminal minyak di pelabuhan Qingdao, di Provinsi Shandong, bagian timur China pada 7 Maret 2026.(AFP)
11:42
5 Mei 2026

China Turun Tangan di Perang Iran, Gerakkan Perusahaan Lawan Balik AS

- Pemerintah China menginstruksikan perusahaan-perusahaan domestiknya untuk mengabaikan sanksi Amerika Serikat (AS) terhadap kilang-kilang minyak yang terkait dengan Iran.

Langkah ini menandai perlawanan balik Beijing terhadap upaya Washington yang menjatuhkan sanksi ke Iran, sebagaimana dilansir Newsweek, Senin (4/5/2026).

Sanksi tersebut dijatuhkan "Negeri Paman Sam" guna menekan Teheran  dalam negosiasi gencatan senjata permanen. 

Baca juga: AS Klaim Tenggelamkan 6 Kapal Iran di Selat Hormuz, Teheran Bantah

Keputusan China itu muncul beberapa hari sebelum rencana kunjungan kenegaraan Presiden AS Donald Trump ke Beijing yang telah dinantikan banyak pihak.

Kementerian Perdagangan China dalam pengumumannya pada Sabtu (2/5/2026) menegaskan perintah eksplisit bagi perusahaan-perusahaan China untuk tidak mematuhi tindakan sepihak AS. 

Selama ini, Beijing memang rutin mengecam sanksi sepihak dan menyebutnya sebagai pemaksaan hukum domestik secara ekstrateritorial.

Untuk memperkuat kebijakan ini, kementerian menggunakan mekanisme pemblokiran sanksi yang diperkenalkan pada 2021. 

Baca juga: Bantu IRGC, Pasukan Iran Ini Makin Kuat Pukul AS-Israel

Alat hukum tersebut dirancang untuk melindungi perusahaan China dari aturan asing yang dianggap tidak adil.

Kementerian Perdagangan China menyatakan, langkah ini diperlukan untuk melindungi kedaulatan nasional, keamanan, dan kepentingan pembangunan China.

"Serta melindungi hak dan kepentingan sah warga negara China, badan hukum, atau organisasi lainnya," tulis Kementerian Perdagangan China.

Baca juga: Diuji Serangan Iran, Trump Bimbang: Balas atau Tahan Diri?

Tekanan dari Kementerian Keuangan AS

Keputusan Beijing merupakan respons langsung terhadap peringatan Kementerian Keuangan AS yang akan mengerahkan seluruh "alat" yang tersedia, termasuk sanksi sekunder. 

Ancaman ini ditujukan kepada entitas mana pun yang kedapatan bertransaksi dengan kilang minyak independen yang mengimpor minyak Iran.

Kilang-kilang independen ini mayoritas beroperasi di Provinsi Shandong, China. 

Fasilitas ini mengolah sebagian besar minyak mentah yang terkena sanksi dari Rusia dan Iran. Seringkali, minyak dikirim melalui armada kapal tanker "bayangan".

Baca juga: Kesulitan Ekspor akibat Blokade AS, Iran Tutup Sebagian Sumur Minyak

Sejak Maret 2025, Kantor Pengawasan Aset Asing (OFAC) Kementerian Keuangan AS telah menetapkan lima kilang dalam daftar sanksi.

Kelima kilang tersebut adalah Shandong Jincheng Petrochemical Group Co, Hebei Xinhai Chemical Group Co, Shandong Shengxing Chemical Co, Shandong Shouguang Luqing Petrochemical Co, dan Hengli Petrochemical Refining Co.

Bulan lalu, Menteri Keuangan AS Scott Bessent juga mengungkapkan bahwa pihaknya telah memberi peringatan kepada dua lembaga pembiayaan China atas peran mereka dalam perdagangan minyak Iran.

Baca juga: AS Tuduh China Danai Iran, Minta Beijing Bantu Buka Selat Hormuz

Situasi Selat Hormuz

Di sisi lain, situasi di Selat Hormuz semakin mencekam sejak AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari. 

Pejabat PBB melaporkan, lalu lintas pengiriman melambat drastis akibat serangan Iran terhadap kapal komersial dan lonjakan premi asuransi.

Kondisi ini mengakibatkan ratusan kapal terdampar dan mengguncang pasar minyak dunia.

Padahal, dalam kondisi normal, jalur air tersebut merupakan jalur bagi seperlima minyak maritim dunia. 

Baca juga: Gencatan Senjata Iran-AS di Ambang Keruntuhan, Saling Serang di Selat Hormuz

Tag:  #china #turun #tangan #perang #iran #gerakkan #perusahaan #lawan #balik

KOMENTAR