AS Serang 7 Kapal Iran, ''Project Freedom'' Trump di Selat Hormuz Dimulai
- Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan militer AS telah menyerang dan menghancurkan tujuh “perahu kecil” milik Iran.
Serangan tersebut dilakukan dalam rangka “Project Freedom”, sebuah operasi yang diklaim bertujuan membantu mengamankan jalur pelayaran dan memastikan kapal-kapal dapat keluar dari Teluk melalui Selat Hormuz.
“Kami telah menembak jatuh tujuh perahu kecil atau, seperti yang mereka sebut, perahu ‘cepat’. Itu saja yang mereka miliki,” kata Trump melalui unggahan di Truth Social, dikutip dari Anadolu Ajansi, Senin (4/5/2026).
Sebelumnya, Komandan Komando Pusat AS (CENTCOM) Laksamana Brad Cooper mengatakan bahwa enam “perahu kecil” yang diduga mengganggu pelayaran komersial di Selat Hormuz telah dilumpuhkan.
Ia menegaskan pasukan AS berhasil membuka jalur pelayaran yang aman di kawasan tersebut.
Menurut Cooper, Iran sebelumnya meluncurkan rudal jelajah, drone, dan perahu kecil ke arah kapal sipil yang berada di bawah perlindungan militer AS.
Ia juga menyebut helikopter militer AS telah menenggelamkan enam perahu kecil, dan seluruh ancaman telah berhasil dinetralisir.
“Para komandan AS di lapangan memiliki seluruh kewenangan yang diperlukan untuk melindungi unit mereka dan melindungi pelayaran komersial,” kata Cooper.
Namun, klaim tersebut dibantah oleh pejabat militer senior Iran yang menyebut laporan AS mengenai tenggelamnya kapal-kapal militer Iran di Selat Hormuz sebagai “tidak benar”.
"Tidak satu pun kapal tempur IRGC (Garda Revolusi Iran) yang terkena, penyelidikan dilakukan terhadap kebenaran klaim tersebut dari sumber-sumber lokal,” kata sumber tersebut, sebagaimana dilansir Kantor berita Tasnim.
Mengutip sumber itu, Tasnim melaporkan bahwa dua kapal kargo kecil yang terkena serangan, menewaskan lima warga sipil.
Baca juga: Trump Luncurkan “Project Freedom” untuk Bebaskan Kapal-kapal di Selat Hormuz, Ini Respons Iran
Iran serang UEA untuk pertama kalinya sejak gencatan senjata
Di sisi lain, Uni Emirat Arab (UEA), sekutu AS, melaporkan bahwa wilayahnya diserang oleh Iran pada Senin (4/5/2026).
Serangan ini menjadi yang pertama sejak gencatan senjata rapuh diberlakukan pada awal April 2026, dilansir dari AP News, Selasa (5/5/2026).
Kementerian Pertahanan UEA menyebut sistem pertahanan udara berhasil mencegat 15 rudal dan empat drone yang diluncurkan dari arah Iran.
Di wilayah Fujairah, sebuah drone dilaporkan memicu kebakaran di fasilitas minyak utama dan menyebabkan tiga warga negara India terluka.
Sementara itu, militer Inggris melaporkan adanya dua kapal kargo yang terbakar di lepas pantai UEA.
Meski demikian, Iran tidak secara langsung mengonfirmasi maupun membantah keterlibatannya dalam insiden tersebut.
Pada Selasa (5/5/2026), Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyampaikan melalui platform X bahwa baik AS maupun UEA “harus berhati-hati agar tidak terseret kembali ke dalam konflik yang lebih dalam.”
Televisi pemerintah Iran juga mengutip seorang pejabat militer anonim yang menyatakan bahwa Teheran “tidak memiliki rencana” untuk menargetkan UEA maupun ladang minyaknya.
Ia menambahkan bahwa insiden di fasilitas minyak kemungkinan dipicu oleh “petualangan militer AS untuk menciptakan jalur ilegal”.
Baca juga: Media AS Sebut Dua Kapal Perang Berhasil Melintasi Selat Hormuz di Bawah Serangan Iran
Ketegangan di Selat Hormuz masih berlanjut
Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang sangat penting bagi perdagangan energi global.
Upaya AS untuk mengamankan jalur tersebut disebut bertujuan mengurangi gangguan serta risiko terhadap ekonomi global.
Namun di sisi lain, langkah tersebut justru meningkatkan ketegangan dengan Iran.
Perusahaan pelayaran dan asuransi pun disebut masih berhati-hati dalam mengambil risiko, mengingat Iran sebelumnya beberapa kali menyerang kapal di kawasan tersebut dan menyatakan akan mempertahankan posisinya di Selat Hormuz.
Iran juga menilai langkah terbaru AS sebagai pelanggaran terhadap gencatan senjata yang masih rapuh dan telah berlangsung lebih dari tiga minggu.
Sementara itu, Trump sebelumnya juga memperingatkan bahwa setiap upaya Iran untuk mengganggu jalur pelayaran di Selat Hormuz akan “ditangani dengan kekuatan”.
Ia menggambarkan “Project Freedom” sebagai misi yang juga bersifat kemanusiaan, yakni membantu para pelaut yang terjebak di ratusan kapal akibat meningkatnya ketegangan di Teluk Persia.
Baca juga: Terjadi Penembakan di Dekat Gedung Putih AS, Secret Service Ungkap Kronologinya
Dampak ke kawasan sekitar
UEA mengecam keras serangan tersebut dan menyebutnya sebagai “agresi Iran yang kembali menjadi pengkhianatan”.
Selain itu, UEA juga menyerukan penghentian segera atas serangan yang terjadi.
Serangan Iran pada Senin memicu empat peringatan rudal yang mendesak warga untuk segera mencari tempat berlindung.
Peringatan ini menjadi yang pertama sejak gencatan senjata diberlakukan hampir satu bulan lalu.
Dampaknya, sejumlah pesawat komersial yang menuju UEA, termasuk ke pusat penerbangan global seperti Dubai dan Abu Dhabi dilaporkan berbalik arah di udara.
Meski demikian, skala pasti serangan di Fujairah masih belum sepenuhnya jelas.
Adpaun, kota ini merupakan titik penting karena menjadi ujung jalur pipa yang digunakan UEA untuk menyalurkan sebagian minyaknya tanpa melalui Selat Hormuz.
Selain itu, wilayah ini juga memiliki fasilitas penyimpanan minyak yang besar dan menjadi akses laut utama UEA di luar selat tersebut.
“Serangan-serangan ini merupakan eskalasi yang berbahaya dan pelanggaran yang tidak dapat diterima,” kata Kementerian Luar Negeri UEA dalam sebuah pernyataan.
Di Oman, pihak berwenang melaporkan sebuah bangunan tempat tinggal di dekat Selat Hormuz menjadi sasaran serangan.
Insiden tersebut menyebabkan dua pekerja asing terluka, merusak empat kendaraan, serta memecahkan jendela bangunan di sekitarnya.
Namun, laporan media pemerintah setempat tidak memberikan rincian lebih lanjut.
Di tengah situasi ini, Iran menegaskan akan mempertahankan kendalinya atas Selat Hormuz.
Komando militer Iran memperingatkan bahwa kapal-kapal yang melintasi selat tersebut harus berkoordinasi dengan pihaknya.
“Kami memperingatkan bahwa setiap kekuatan militer asing, terutama militer AS yang agresif, yang berniat mendekati atau memasuki Selat Hormuz akan menjadi sasaran,” kata Mayjen Ali Abdollahi kepada stasiun televisi pemerintah IRIB.
Tag: #serang #kapal #iran #project #freedom #trump #selat #hormuz #dimulai