Harga Minyak Dunia Anjlok 6 Persen Usai Ketegangan AS-Iran di Selat Hormuz Mereda
Blokade Selat Hormuz oleh AS (freepik)
11:44
7 Mei 2026

Harga Minyak Dunia Anjlok 6 Persen Usai Ketegangan AS-Iran di Selat Hormuz Mereda

Harga minyak mentah dunia anjlok lebih dari 6 persen pada perdagangan Rabu waktu setempat setelah muncul harapan baru terkait kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran.

Penurunan dipicu keputusan Presiden Donald Trump yang menghentikan sementara operasi militer di Selat Hormuz setelah Teheran menjamin keamanan pelayaran di kawasan tersebut.

Pasar energi global mulai merespons positif meredanya ketegangan geopolitik yang sebelumnya mengancam pasokan minyak dunia.

Harga Brent dan WTI Merosot Tajam

Kontrak berjangka minyak Brent untuk pengiriman Juli turun 6,8 persen menjadi 102,45 dolar AS per barel, bahkan sempat menyentuh level di bawah 100 dolar AS.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melemah 6,4 persen ke level 95,69 dolar AS per barel.

Penurunan ini berbanding terbalik dengan tren beberapa pekan terakhir saat harga minyak melonjak akibat konflik dan blokade di Timur Tengah.

Laporan Axios menyebut Gedung Putih tengah mendekati kesepakatan dengan Teheran melalui nota kesepahaman satu halaman guna menghentikan konflik bersenjata.

Dokumen tersebut disebut memuat kerangka kerja awal, termasuk kemungkinan moratorium pengayaan nuklir Iran sebagai imbalan pencabutan sebagian sanksi ekonomi AS.

Trump Hentikan Operasi Militer

AS disebut bakal mencairkan dana Iran yang selama ini dibekukan sebagai bagian dari normalisasi jalur energi di Selat Hormuz.

Wall Street Journal melaporkan adanya rencana 14 poin yang memberi waktu satu bulan bagi kedua negara untuk merampungkan pembicaraan damai.

Trump melalui media sosialnya menyatakan operasi “Project Freedom” ditangguhkan atas permintaan Pakistan dan sejumlah negara lain.

“Dengan asumsi Iran setuju memberikan apa yang telah disepakati, Epic Fury akan berakhir dan Selat Hormuz dibuka kembali untuk semua,” tulis Trump.

Meski begitu, Trump tetap memperingatkan bahwa operasi militer bisa dilanjutkan jika Iran menolak poin-poin kesepakatan tersebut.

Respons Iran dan Situasi Selat Hormuz

Di sisi lain, Iran menyatakan masih meninjau proposal tersebut melalui mediator Pakistan.

Kantor berita ISNA menegaskan isu nuklir bukan fokus utama dalam negosiasi darurat saat ini. Pemerintah Iran menekankan prioritas mereka adalah penghentian perang.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menyebut isu nuklir tidak dibahas dalam tahap negosiasi saat ini.

Sementara itu, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) memastikan jalur pelayaran di Selat Hormuz kini aman.

“Kami berterima kasih kepada kapten dan pemilik kapal di Teluk Persia atas kepatuhan terhadap aturan Selat Hormuz dan kontribusi terhadap keamanan maritim regional,” tulis pernyataan resmi IRGC.

Pasokan Minyak AS Meningkat

Data dari Energy Information Administration menunjukkan stok minyak mentah komersial AS turun 2,3 juta barel menjadi 457,2 juta barel pekan lalu.

Laporan itu juga mencatat ekspor produk minyak AS mencapai rekor 8,22 juta barel per hari di tengah terganggunya pasokan dari Timur Tengah.

Situasi tersebut membuat AS sempat menjadi pemasok utama minyak global ketika Selat Hormuz berada dalam pengawasan ketat Iran.

Analis ING menilai normalisasi pelayaran di Selat Hormuz sangat penting untuk menjaga stabilitas pasokan energi dunia di tengah menipisnya cadangan minyak global.

Krisis Energi Global Mulai Mereda

Blokade di Selat Hormuz sebelumnya mengganggu distribusi sekitar 13 juta barel minyak per hari dan memicu volatilitas harga energi global.

Iran berulang kali menegaskan bahwa penghentian perang dan pencabutan blokade laut menjadi syarat utama terciptanya stabilitas di kawasan.

Meski harga minyak mulai turun, pasar global masih mewaspadai potensi gejolak baru jika proses negosiasi damai kembali menemui jalan buntu.

Editor: Arief Apriadi

Tag:  #harga #minyak #dunia #anjlok #persen #usai #ketegangan #iran #selat #hormuz #mereda

KOMENTAR