Rusia Perbesar Pabrik Drone Bergaya Shahed, Pasok Senjata ke Iran
Drone Shahed-136 buatan Iran yang digunakan Rusia dalam perang di Ukraina, pada 27 Desember 2025. Drone murah ini dipakai Teheran untuk menguras stok rudal mahal Amerika Serikat.(AFP/SERGEI SUPINSKY)
17:54
13 Mei 2026

Rusia Perbesar Pabrik Drone Bergaya Shahed, Pasok Senjata ke Iran

Rusia dilaporkan tengah memperluas pabrik drone bergaya Shahed terbesar di dunia.

Perluasan fasilitas itu terjadi ketika Kremlin disebut mempercepat produksi drone kamikaze Shahed sekaligus mengirim komponen persenjataan untuk membantu memperkuat kembali kemampuan militer Teheran.

Dilansir The Telegraph, Senin (11/5/2026), citra satelit menunjukkan Rusia memperluas kawasan ekonomi khusus Alabuga (Alabuga Special Economic Zone/SEZ), pusat produksi drone Geran-2 berbasis desain Shahed, hingga 340 hektare dalam setahun terakhir.

Baca juga: Drone Serat Optik Hizbullah Bikin Israel Kelabakan di Lebanon

Hanggar-hanggar baru terlihat membentang di sektor utara kawasan tersebut, sementara fasilitas produksi dan area permukiman pekerja juga diperluas di kompleks utama.

Selain itu, terdapat lokasi konstruksi baru seluas 450 hektare di sebelah selatan kawasan SEZ. Fungsi area tersebut belum diketahui, namun sebuah jalan tengah dibangun untuk menghubungkannya dengan zona industri Alabuga.

Rusia genjot produksi drone bergaya Shahed

Pabrik Alabuga menjadi pusat produksi drone bergaya Shahed jarak jauh yang biaya pembuatannya berkisar antara 15.000 hingga 50.000 poundsterling (sekitar Rp 345 hingga Rp 1,1 miliar) per unit.

Fasilitas itu juga menjadi sorotan karena mempekerjakan pekerja remaja, bahkan disebut ada pekerja berusia 15 tahun.

Panglima tertinggi Ukraina, Oleksandr Syrskyi, mengatakan pada Januari lalu bahwa Rusia berencana menggandakan produksi “drone bunuh diri” hingga mencapai 1.000 unit per hari.

Rusia mulai menggunakan drone Shahed rancangan Iran yang dipasangi bahan peledak untuk menyerang Ukraina sejak 2022. Saat itu, drone-drone tersebut diimpor langsung dari Iran melalui Laut Kaspia.

Sejak Juli 2023, Moskwa mulai memproduksi sendiri varian drone Shahed di dalam negeri dengan nama Geran-2. Saat ini, sekitar 90 hingga 95 persen drone tersebut diproduksi di Rusia, terutama di fasilitas Alabuga di wilayah Tatarstan, sekitar 600 mil di timur Moskwa.

Jalur Laut Kaspia dipakai kirim komponen ke Iran

Laut Kaspia dari Kota BabolsarWikimedia Commons/Arashk rp2 Laut Kaspia dari Kota Babolsar

Pejabat Amerika Serikat mengatakan kepada The New York Times bahwa Kremlin mengirim komponen drone ke Iran melalui Laut Kaspia guna membantu membangun kembali kemampuan militer Teheran selama masa gencatan senjata saat ini.

Jalur laut tersebut selama ini memang dikenal sebagai rute pengiriman barang-barang militer antara Iran dan Rusia.

Dalam perang sebelumnya, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) sempat menyerang pelabuhan Bandar Anzali di Iran untuk mengganggu pengiriman perlengkapan militer Rusia, termasuk drone Shahed dan amunisi artileri.

Meski komponen yang dikirim lewat Laut Kaspia tidak diketahui secara pasti, langkah itu disebut mencerminkan semakin eratnya kerja sama militer kedua negara.

Majalah The Economist melaporkan Kremlin menawarkan pengiriman 5.000 drone jarak pendek antijamming kepada Iran, ditambah sejumlah drone satelit jarak jauh dan pelatihan pengoperasiannya.

Baca juga: Balas Dendam, AS Gempur Fasilitas Peluncur Rudal dan Drone Iran

Sementara itu, The Wall Street Journal mengatakan, Rusia sebelumnya juga memberikan teknologi kepada Iran untuk menyempurnakan desain drone Shahed. Pengembangan tersebut disebut bertujuan meningkatkan kemampuan komunikasi, navigasi, dan penargetan berdasarkan pengalaman perang di Ukraina.

Rusia disebut beri intelijen satelit ke Iran

Moskwa juga disebut memberikan intelijen dari satelit pengintainya kepada Teheran. Informasi itu mencakup lokasi dan pergerakan pasukan, kapal, serta pesawat Amerika Serikat.

Sejumlah pihak berspekulasi bahwa Kremlin memandang kerja sama militer dan intelijen dengan Iran sebagai cara untuk memperpanjang konflik di Timur Tengah.

Kondisi itu dinilai dapat menguntungkan Rusia melalui kenaikan pendapatan minyak sekaligus mengalihkan perhatian internasional dari perang di Ukraina.

Sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan gelombang serangan pertama pada akhir Februari, Iran disebut berupaya membanjiri sistem pertahanan udara di Timur Tengah menggunakan gelombang serangan drone Shahed.

Pada Maret lalu, enam tentara AS dilaporkan tewas dalam serangan drone di Kuwait.

Pabrik Alabuga kerap jadi sasaran Ukraina

Rusia juga terus meningkatkan kemampuan drone Shahed berdasarkan pengalaman di medan perang.

Modifikasi dilakukan untuk meningkatkan ketahanan terhadap perang elektronik, mempercepat laju drone hingga tiga kali lipat dalam beberapa kasus, hingga memasang peluncur rudal udara-ke-udara R-60.

Pada April lalu, Kremlin meluncurkan rekor 6.600 drone jarak jauh jenis Shahed, Gerbera, dan Italmas ke Ukraina. Sekitar 90 persen di antaranya diklaim berhasil dicegat.

Pabrik Alabuga sendiri kerap menjadi sasaran serangan Ukraina. Hingga Februari, sedikitnya 19 menara pertahanan udara telah dibangun di sekitar kawasan tersebut.

Menurut Radio Svoboda, menara-menara itu diyakini dilengkapi sistem rudal permukaan-ke-udara Pantsir dan senapan mesin kaliber besar.

Baca juga: Militer Iran Ancam Serang Pangkalan AS, Rudal dan Drone Sudah Kunci Sasaran

Tag:  #rusia #perbesar #pabrik #drone #bergaya #shahed #pasok #senjata #iran

KOMENTAR