Iran Latih Warga Pakai Senjata, Jaga-jaga Perang Kembali Pecah
Iran semakin gencar menampilkan senjata di ruang publik di tengah ancaman Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang menyatakan bahwa perang dapat kembali pecah jika negosiasi gagal.
Anggota Garda Revolusi Iran kini rutin memperlihatkan kepada warga Teheran cara menggunakan senapan serbu bergaya Kalashnikov.
Parade militer di ibu kota juga menampilkan kendaraan bersenjata senapan mesin era Soviet, sementara sebuah rudal balistik bahkan dipajang di atas panggung dalam acara pernikahan massal.
Baca juga: AS-Israel Beda Sikap Lagi soal Iran: Trump Mau Negosiasi, Netanyahu Ingin Lanjut Perang
Warga diminta siap gunakan senjata
Ali Mofidi, warga Teheran berusia 47 tahun yang mengikuti pelatihan senjata pada Selasa (19/5/2026) malam, mengatakan bahwa masyarakat perlu siap menghadapi kemungkinan perang.
“Ini perlu agar seluruh rakyat kami mendapatkan pelatihan karena akhir-akhir ini kami berada dalam situasi perang,” kata Mofidi, seperti dikutip South China Morning Post.
“Jika diperlukan, semua orang harus siap dan tahu cara menggunakan senjata.”
Selama berbulan-bulan, televisi pemerintah dan pesan singkat bersponsor pemerintah terus menyerukan masyarakat untuk bergabung dengan kelompok janfada, atau “orang-orang yang mengorbankan hidup mereka.”
Kelompok garis keras bahkan sempat mendorong keluarga yang memiliki anak laki-laki berusia 12 tahun untuk mengirim mereka membantu Garda Revolusi menjaga pos pemeriksaan.
Organisasi Amnesty International mengecam langkah itu dan menyebutnya sebagai kejahatan perang.
Pelatihan dasar senjata di Teheran
Seorang personel militer Iran (C) mengedukasi perempuan tentang cara menggunakan senjata di sebuah stan di Lapangan Hafte Tir, Teheran pada 17 Mei 2026.
Dalam pelatihan yang digelar di Teheran, peserta pria dan perempuan dipisahkan ke dalam kelas berbeda.
Hadi Khoosheh, anggota pasukan sukarelawan Basij di bawah Garda Revolusi Iran, memperagakan cara menggunakan senapan serbu lipat bergaya Kalashnikov.
“Di akhir pelatihan, mereka yang menyelesaikan kursus akan menerima kartu bertuliskan ‘Janfada’, yang membuktikan bahwa mereka telah menerima pelatihan dasar dan pendahuluan untuk jenis senjata ini dan mampu menggunakannya jika, semoga tidak terjadi, sesuatu menimpa negara kami,” kata Khoosheh.
Namun pelatihan tersebut dinilai masih sangat dasar. Seorang peserta bahkan terlihat kesulitan memasang magasin senjata dan sempat mengarahkan laras senapan kosong ke peserta lain, pelanggaran keselamatan mendasar dalam pelatihan senjata api.
Meski demikian, Mofidi menegaskan Iran tidak akan menyerah jika Amerika Serikat menyerang.
“Pasti kami akan melawan [Amerika] dan tidak akan menyerahkan sejengkal pun tanah kami,” ujarnya.
“Tidak peduli mereka datang dari laut atau darat, kami akan tetap berdiri bersama bendera kami.”
Baca juga: AS Ancang-ancang Mulai Perang Lagi, Iran Tetap Tak Mau Tunduk
Klaim 30 juta relawan
Pejabat pemerintah Iran mengeklaim lebih dari 30 juta warga telah mendaftarkan diri, baik melalui formulir daring maupun acara publik, untuk siap mengorbankan nyawa demi sistem pemerintahan Iran.
Namun angka tersebut tidak dapat diverifikasi secara independen. Hingga kini juga belum terlihat mobilisasi massal seperti yang terjadi di Ukraina menjelang invasi besar-besaran Rusia pada 2022.
Meski demikian, pemerintah Iran terus meningkatkan propaganda dukungan perang. Sejumlah presenter televisi pemerintah bahkan tampil membawa senjata saat siaran langsung.
Jurnalis Soheila Zarfam dalam kolom di surat kabar milik pemerintah Tehran Times menulis bahwa dirinya siap berkorban demi Iran.
“Ketika melihat kembali momen saya mendaftarkan nama, saya menyadari bahwa saat itu saya tidak benar-benar memikirkan bahaya bertempur di garis depan. Pada saat itu, seperti orang lain, pikiran saya hanya tertuju pada Iran,” tulisnya.
“Hidup saya mungkin berakhir, tetapi Iran akan tetap ada, dan itu satu-satunya hal yang benar-benar penting.”
Peraih Nobel kritik pelibatan anak-anak
Peraih Nobel Perdamaian asal Iran, Shirin Ebadi, mengkritik demonstrasi senjata yang melibatkan anak-anak muda.
“Pemandangan seperti ini mengingatkan pada penyanderaan dan persenjataan anak-anak oleh kelompok seperti Boko Haram di Nigeria, serta milisi di Sudan dan Kongo,” ujarnya.
Dalam demonstrasi yang diorganisasi pemerintah, kelompok nomaden Iran terlihat membawa berbagai jenis senjata, mulai dari senapan Lee-Enfield peninggalan era Imperium Inggris hingga senjata kuno blunderbuss yang identik dengan zaman bajak laut.
Meski demikian, sebagian besar demonstrasi senjata selama masa gencatan senjata yang rapuh justru berfokus di Teheran, bukan di daerah pedesaan yang memang memiliki tradisi menyimpan senapan di rumah.
Baca juga: Iran Janji Picu Perang hingga ke Luar Timur Tengah jika AS Kembali Menyerang
Tag: #iran #latih #warga #pakai #senjata #jaga #jaga #perang #kembali #pecah