Rencana Netanyahu Bisa Berantakan jika AS Damai dengan Iran, Ini Sebabnya
Rencana besar Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk membentuk tatanan baru Timur Tengah terancam berantakan jika Amerika Serikat mencapai kesepakatan damai dengan Iran. (AFP/ALEX KOLOMOISKY)
04:06
26 Mei 2026

Rencana Netanyahu Bisa Berantakan jika AS Damai dengan Iran, Ini Sebabnya

Rencana besar Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk membentuk tatanan baru Timur Tengah terancam berantakan jika Amerika Serikat mencapai kesepakatan damai dengan Iran.

Sejumlah analis menilai, langkah Presiden AS Donald Trump mengejar perdamaian dengan Teheran dapat merusak strategi utama Netanyahu yang selama bertahun-tahun dibangun di atas ancaman Iran.

Situasi itu mencuat setelah Trump pada Sabtu (23/5/2026) mengungkapkan bahwa kesepakatan awal dengan Iran telah “sebagian besar dinegosiasikan”. 

Baca juga: Netanyahu Disebut Makin Tersisihkan, Tak Dilibatkan Trump dalam Negosiasi AS–Iran

Trump dinilai mulai kehilangan kepercayaan

Dilansir South China Morning Post, ilmuwan politik Ali Alfoneh menilai Netanyahu gagal memenuhi janji kemenangan cepat yang sebelumnya diyakini bisa diraih Israel dalam perang melawan Iran.

Menurut Alfoneh, Netanyahu dua kali berhasil meyakinkan Trump untuk mendukung perang Israel melawan Iran dengan janji runtuhnya rezim Teheran, kemenangan cepat, bahkan kemungkinan pecahnya Iran akibat perang sipil.

“Tidak satu pun dari tujuan itu tercapai,” kata Alfoneh, penulis Political Succession in the Islamic Republic of Iran sekaligus peneliti senior di Arab Gulf States Institute yang berbasis di Washington.

Karena itu, menurut dia, “Trump tampaknya tidak lagi mempercayai Netanyahu”, yang menjadi tantangan politik serius bagi pemimpin Israel tersebut.

Laporan Reuters juga menyebut Israel tidak dilibatkan secara penuh dalam pembicaraan awal terkait kemungkinan kesepakatan damai AS-Iran, di tengah meningkatnya perbedaan pandangan antara Trump dan Netanyahu mengenai arah perang.

Kesepakatan damai bisa jadi pukulan politik

Barbara Slavin, peneliti senior Timur Tengah di Stimson Center, mengatakan, kesepakatan AS-Iran justru akan memperkuat legitimasi pemerintah Iran dan menutup peluang perubahan rezim di Teheran.

“Jadi Netanyahu berhasil meyakinkan Trump untuk pergi berperang hanya untuk gagal mencapai semua tujuannya,” ujar Slavin.

“Sulit menyebut itu sebagai kemenangan dalam bentuk apa pun.”

Analis risiko politik Andreas Krieg menyebut kesepakatan antara AS dan Iran untuk mengakhiri perang akan menjadi “kemunduran politik serius” bagi Netanyahu, meski belum tentu mengakhiri karier politiknya.

Perang itu sendiri dimulai pada 28 Februari melalui serangan udara Israel yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei dan sejumlah komandan militer Iran.

Baca juga: AS-Israel Beda Sikap soal Iran: Trump Mau Negosiasi, Netanyahu Ingin Lanjut Perang

Menurut Krieg, Netanyahu selama ini membangun karier politiknya dengan klaim bahwa hanya dirinya yang mampu menetralisasi ancaman nuklir Iran. Karena itu, bila nota kesepahaman AS-Iran tetap berjalan dan isu nuklir hanya ditunda sementara, Netanyahu akan kesulitan menggambarkan perang tersebut sebagai keberhasilan strategis.

“Perang ini dijual sebagai konfrontasi penentu, bukan sebagai cara kembali ke kerangka sementara lainnya,” kata Krieg, profesor studi pertahanan di King’s College London.

Ia menambahkan, kerusakan politik terhadap Netanyahu akan semakin besar karena selama bertahun-tahun ia memperingatkan bahaya pendekatan seperti itu.

“Jika Trump menerima pengaturan yang memberi Iran waktu, uang, dan ruang ekspor minyak sebelum isu uranium yang diperkaya diselesaikan, maka doktrin Iran milik Netanyahu terlihat terbuka kelemahannya,” ujar Krieg.

Negara Arab tak mau terseret konflik

Ilustrasi negara Dewan Kerja Sama Teluk. Pertemuan Menteri Luar Negeri Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) di Kota Kuwait pada 1 September 2025.AFP/YASSER AL-ZAYYAT Ilustrasi negara Dewan Kerja Sama Teluk. Pertemuan Menteri Luar Negeri Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) di Kota Kuwait pada 1 September 2025.

Strategi Netanyahu membangun poros keamanan regional anti-Iran bersama negara-negara Arab juga dinilai mulai goyah.

Menurut Alfoneh, para pemimpin Israel dan pendukungnya di AS terlalu percaya bahwa Abraham Accords akan membuat negara-negara Arab otomatis mendukung agenda keamanan Israel.

Padahal, negara-negara Teluk dinilai jauh lebih realistis dan tidak ingin ikut terseret penuh dalam perang melawan Iran.

“Mereka tidak pernah berniat menjadi umpan meriam bagi Israel,” kata Alfoneh.

Analis juga menilai perang terbaru menunjukkan batas dari ambisi Netanyahu menjadikan Israel sebagai pilar keamanan utama kawasan Teluk.

Krieg mengatakan, negara-negara Teluk memang masih menginginkan kerja sama keamanan terbatas dengan Israel, terutama di bidang intelijen, pertahanan udara, siber, drone, dan pemantauan Iran. Namun mereka tidak ingin bergantung secara strategis kepada Israel.

Sebaliknya, perang justru mendorong negara-negara tersebut memperluas hubungan keamanan dengan berbagai pihak lain, termasuk AS, Eropa, Pakistan, Turkiye, hingga tetap menjaga jalur komunikasi dengan Iran.

Baca juga: Trump Redam Kecemasan Netanyahu, Janji Tak Abaikan Nuklir Iran

Tag:  #rencana #netanyahu #bisa #berantakan #jika #damai #dengan #iran #sebabnya

KOMENTAR