Katanya Mau Damai, AS Kembali Serang Iran Kirim Jet Tempur
Profil jet tempur f-47, pesawat canggih milik Amerika Serikat. [Wikipedia]
13:20
27 Mei 2026

Katanya Mau Damai, AS Kembali Serang Iran Kirim Jet Tempur

Stabilitas kawasan Timur Tengah kembali berada di titik nadir setelah militer Amerika Serikat meluncurkan serangan udara terbaru ke wilayah Iran bagian selatan. Langkah agresif ini berisiko besar menghancurkan momentum diplomasi yang sedang dibangun oleh kedua belah pihak.

Fokus serangan Washington mengarah langsung pada pangkalan peluncuran rudal serta armada kapal yang diduga kuat akan digunakan untuk menyebar ranjau laut. Operasi ini menandai eskalasi serius di tengah upaya internasional meredam konflik.

Pihak Komando Pusat AS (Centcom) segera mengeluarkan pernyataan resmi terkait aksi militer tersebut. Mereka berdalih bahwa tindakan ofensif ini murni merupakan langkah preventif demi keselamatan personel mereka.

Ilustrasi - Jet Tempur F-22 milik AS. (Anadolu)Ilustrasi - Jet Tempur F-22 milik AS. (Anadolu)

"Pasukan AS melakukan serangan membela diri di Iran selatan hari ini untuk melindungi pasukan kami dari ancaman yang ditimbulkan oleh pasukan Iran," ujar juru bicara Centcom, Kapten Tim Hawkins dalam sebuah pernyataan, dikutip dari BBC, Rabu (27/5/2026).

"Komando Pusat AS terus membela pasukan kami sambil tetap menahan diri selama gencatan senjata yang berlangsung."

Serangan taktis militer Amerika Serikat ini dilaporkan menyasar kawasan strategis di dekat Bandar Abbas. Kota pelabuhan penting tersebut merupakan urat nadi bagi pangkalan angkatan laut Iran yang mengontrol langsung jalur pelayaran internasional Selat Hormuz.

Hingga saat ini, dampak riil dari bombardir Amerika terhadap masa depan perjanjian damai kedua negara masih belum bisa dipastikan. Media pemerintah Iran sendiri mengonfirmasi adanya rentetan ledakan keras yang sedang diselidiki oleh otoritas lokal di Bandar Abbas.

Ketegangan di perairan dan wilayah daratan Timur Tengah memuncak setelah militer Iran melakukan tindakan tegas terhadap kapal komersial dan kelompok oposisi. (MME)Ketegangan di perairan dan wilayah daratan Timur Tengah memuncak setelah militer Iran melakukan tindakan tegas terhadap kapal komersial dan kelompok oposisi. (MME)

Di lain pihak, Korps Pengawal Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah melakukan tindakan defensif atas pelanggaran ruang udara. Mereka menyatakan berhasil menembak jatuh sebuah pesawat tanpa awak (drone) milik AS dan mengusir jet tempur serta drone lainnya.

Teheran juga menegaskan posisi politiknya yang tidak akan tinggal diam terhadap setiap agresi militer luar negeri. Mereka menyatakan memiliki hak yang sah dan mutlak untuk membalas setiap pelanggaran gencatan senjata yang dilakukan oleh pihak Amerika Serikat.

Meskipun situasi di lapangan memanas, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio tetap menunjukkan optimisme bahwa jalan damai belum sepenuhnya tertutup. Ia merujuk pada pertemuan diplomatik tingkat tinggi yang melibatkan perwakilan Iran dan Perdana Menteri Qatar.

"Kita akan lihat apakah kita bisa membuat kemajuan. Saya pikir ada banyak pembicaraan bolak-balik yang sedang berlangsung mengenai bahasa spesifik dalam dokumen awal, jadi ini akan memakan waktu beberapa hari," kata Rubio kepada wartawan saat melakukan kunjungan resmi ke India.

Rubio juga mengungkapkan komitmen dari pucuk pimpinan tertinggi Amerika Serikat dalam merespons dinamika yang berkembang saat ini. Ia menekankan bahwa Presiden Donald Trump memiliki keinginan kuat untuk menyelesaikan kesepakatan ini secara tegas.

"Dia akan membuat kesepakatan yang bagus atau tidak ada kesepakatan sama sekali," tegas Rubio.

Saat kembali dicecar pertanyaan mengenai urgensi serangan udara pada hari Senin tersebut, Rubio mengalihkan fokus pada pentingnya menjaga stabilitas jalur perdagangan dunia. Ia menegaskan bahwa akses maritim global di wilayah tersebut tidak boleh diganggu gugat.

"Selat tersebut harus terbuka," cetus Rubio.

"Mereka akan terbuka dengan satu atau lain cara, jadi mereka harus terbuka."

"Apa yang terjadi di sana melanggar hukum, ilegal, tidak berkelanjutan bagi dunia, dan tidak dapat diterima."

Tindakan sepihak Amerika Serikat ini langsung memicu reaksi keras dari pemimpin tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei. Dalam pesan tertulisnya, ia menegaskan bahwa peta geopolitik Timur Tengah kini sudah jauh berubah.

"Timur Tengah tidak akan lagi berfungsi sebagai perisai bagi pangkalan-pangkalan AS," kecam Khamenei melalui pesan tertulis menyambut ibadah haji tahunan.

"Selain tidak lagi memiliki tempat aman untuk kejahatan dan mendirikan pangkalan militer di wilayah tersebut, Amerika bergerak menjauh dari status sebelumnya dari hari ke hari."

Ketegangan bersenjata ini sebenarnya merupakan kelanjutan dari gesekan hebat antara kapal perusak AS dan armada laut Iran di Selat Hormuz pada awal Mei lalu. Meski kedua belah pihak saling melempar tuduhan sebagai pemicu bentrokan, Presiden Donald Trump saat itu tetap bersikeras bahwa kesepakatan gencatan senjata yang dimulai sejak 8 April masih berlaku efektif.

Upaya damai yang sedang digodok saat ini kabarnya mencakup rencana perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari, pembukaan kembali Selat Hormuz secara penuh, serta penyusunan peta jalan untuk negosiasi lanjutan terkait program nuklir Teheran.

Namun, intelijen Amerika meyakini proses komunikasi terhambat karena Mojtaba Khamenei saat ini dilaporkan bersembunyi di lokasi rahasia akibat cedera dari serangan Israel yang menewaskan ayahnya tiga bulan lalu.

Persoalan krusial dalam perundingan ini mencakup desakan AS agar Iran memusnahkan atau menyerahkan cadangan uraniumnya yang telah diperkaya hingga 60 persen—ambang batas yang sangat dekat untuk menciptakan bom nuklir.

Editor: Pebriansyah Ariefana

Tag:  #katanya #damai #kembali #serang #iran #kirim #tempur

KOMENTAR