Bukan Coding, Google Kini Bikin ''Tentara'' Nyamuk Steril
Ilustrasi pasukan nyamuk. (SHUTTERSTOCK/KWANGMOOZAA)
16:42
2 Juni 2026

Bukan Coding, Google Kini Bikin ''Tentara'' Nyamuk Steril

– Raksasa teknologi Google mengajukan permohonan kepada pemerintah Amerika Serikat (AS) untuk melepaskan hingga 32 juta nyamuk steril di negara bagian California dan Florida. 

Langkah ini merupakan bagian dari program "Debug" yang selama ini dikembangkan perusahaan untuk menekan populasi nyamuk pembawa penyakit.

Permohonan tersebut kini sedang ditinjau oleh Badan Perlindungan Lingkungan AS (EPA), sebagaimana dilansir The Guardian, Selasa (2/6/2026). 

Berdasarkan dokumen yang tercatat dalam federal register, EPA mempertimbangkan izin eksperimental untuk pelepasan hingga 16 juta nyamuk setiap tahun selama dua tahun, di kedua negara bagian itu. 

Publik diberi waktu untuk memberikan tanggapan hingga 5 Juni mendatang sebelum EPA mengambil keputusan.

Baca juga: Armada Nyamuk Iran Bikin AS Kewalahan di Selat Hormuz

Nyamuk lawan nyamuk

Nyamuk dikenal sebagai hewan paling mematikan di dunia. 

Setiap tahun, hewan ini merenggut lebih banyak nyawa dibandingkan makhluk hidup lainnya, dengan menyebarkan penyakit seperti demam berdarah dengue, virus West Nile, Zika, chikungunya, hingga malaria.

Pendekatan Google dalam program Debug berfokus pada pembiakan nyamuk jantan yang terinfeksi bakteri alami bernama wolbachia

Nyamuk jantan sendiri tidak menggigit dan tidak menularkan penyakit. 

Baca juga: Armada Nyamuk Iran, Kapal Lincah yang Jadi Ancaman Serius di Selat Hormuz

Ketika nyamuk jantan yang terinfeksi bakteri ini kawin dengan nyamuk betina liar, telur-telur betina tidak akan menetas.

"Populasinya semakin menyusut dari generasi ke generasi," tulis Google dalam sebuah unggahan blog.

Metode ini bukan hal baru di dunia ilmiah.

Teknik yang dikenal sebagai sterile insect technique ini telah diterapkan selama beberapa dekade pada berbagai serangga bermasalah. 

Eric Caragata, asisten profesor di Universitas Florida yang mengkhususkan diri dalam interaksi nyamuk dan mikroba, menyebut penggunaan bakteri wolbachia untuk sterilisasi telah berlangsung sekitar 15 tahun.

Baca juga: Nyamuk Kali Pertama Ditemukan Hidup di Islandia, Diduga akibat Perubahan Iklim

Google menyebut metode konvensional seperti penyemprotan pestisida terbukti kurang efektif seiring waktu dan berpotensi beracun bagi lingkungan. 

Selain itu, sulit untuk menemukan dan membersihkan seluruh genangan air yang menjadi sarang perkembangbiakan nyamuk.

Untuk itu, para insinyur dan ilmuwan Google mengembangkan sistem pembiakan otomatis menggunakan analitik data dan sensor. 

Akal imitasi (AI) berbasis computer vision dimanfaatkan untuk memilah nyamuk jantan dan betina secara presisi, lalu melepaskan nyamuk jantan di tempat yang tepat dan dalam jumlah yang sesuai.

Baca juga: Lawan Demam Berdarah, Brasil Bangun Pabrik Nyamuk Super untuk Tandingan

Saat ini, Google memusatkan perhatian pada satu spesies nyamuk, yaitu Aedes aegypti, yang bertanggung jawab atas sebagian besar kasus demam berdarah, Zika, demam kuning, dan chikungunya.

Program Debug sendiri berada di bawah naungan Alphabet, perusahaan induk Google. 

Program ini awalnya dijalankan oleh Verily Health, anak perusahaan Alphabet yang bergerak di bidang kesehatan dan kecerdasan buatan. 

Sejak Desember 2024, Google sepenuhnya mengakuisisi program Debug dari portofolio Verily.

Baca juga: China Ciptakan Drone Mikro Sekecil Nyamuk untuk Misi Rahasia

Keberhasilan di Singapura

Sebelum merambah AS, Google telah menguji program Debug di Singapura sebagai pusat penelitian dan pengembangan internasional pertamanya. Hasilnya dinilai menjanjikan.

Dalam unggahan blog tertanggal 11 Mei, Google mengutip data dari badan lingkungan nasional Singapura yang menyebutkan bahwa pelepasan jutaan nyamuk jantan wolbachia berhasil menekan populasi Aedes aegypti sebesar 80–90 persen. 

Lebih dari itu, kasus demam berdarah di wilayah tersebut turun lebih dari 70 persen setelah 6 hingga 12 bulan program berjalan. 

Google pun mengumumkan perluasan program di Singapura pada Mei lalu.

Kepala program Debug, Linus Upson, menyampaikan optimismenya atas capaian tersebut.

"Ketika kami pertama kali meluncurkan Debug di Singapura, tujuan kami adalah memajukan produksi dan pelepasan nyamuk melalui teknologi serta membawa Debug ke lebih banyak komunitas di Asia, di mana 70 persen beban dengue global terjadi," kata Upson. 

"Keberhasilan di Singapura memberi kami kepercayaan diri untuk berekspansi," lanjutnya.

Baca juga: Anak-anak di Gaza Tak Tahan Lagi dengan Panas, Gigitan Nyamuk, dan Gangguan Lalat...

Tag:  #bukan #coding #google #kini #bikin #tentara #nyamuk #steril

KOMENTAR