Belajar Memercayai Orang di Sekitar Setelah Pernah Terluka
Ilustrasi(FREEPIK)
21:35
26 Maret 2026

Belajar Memercayai Orang di Sekitar Setelah Pernah Terluka

- Membangun rasa percaya kembali bukanlah perkara mudah, terlebih jika kamu pernah merasakan perihnya dikhianati di masa lalu. Perasaan waspada dan cemas, bahkan meragukan niat baik orang lain adalah jejak dari rasa trauma itu.

Di satu sisi, kamu ingin membuka hati dan terhubung kembali; di sisi lain, ada ketakutan lama.

Dengan makin canggihnya modus penipuan, masyarakat kini juga cenderung lebih waspada dan jauh lebih sulit untuk menaruh kepercayaan penuh kepada orang lain.

Namun, menurut studi yang dipublikasi dalam jurnal Psychological Bulletin tahun 2025, individu yang mudah memercayai orang lain terbukti memiliki kesejahteraan hidup yang lebih tinggi.

Baca juga: Laporan Penipuan Digital di RI Tembus 1.000 Kasus per Hari

Efek sikap percaya terhadap kondisi tubuh

Dampak negatif kurang percaya pada orang lain

Studi menemukan, mereka yang memercayai orang lain, dan percaya bahwa mereka bisa mengandalkan orang lain, memiliki tingkat stres yang lebih rendah dan regulasi emosi yang jauh lebih kuat.

"Semua faktor ini mendukung tidak hanya kesehatan mental tetapi juga kesehatan fisik," jelas ahli neuropsikologi dan direktur Comprehend the Mind, Sanam Hafeez, PhD.

Ketiadaan rasa percaya akan membuat seseorang terus-menerus hidup dalam kewaspadaan berlebih dan kecemasan. Kondisi tersebut secara perlahan akan merusak pertahanan biologis di dalam tubuh manusia.

Kurangnya kepercayaan membuat seseorang rentan merasa kesepian, dan stres kronis ini pada akhirnya akan memicu peradangan, penyakit kardiovaskular, hingga penurunan fungsi kognitif.

Baca juga: 9 Tanda Pasangan Punya Masalah Kepercayaan

Dampak positif percaya pada orang lain

Sebaliknya, sikap percaya mampu menurunkan kadar hormon stres atau kortisol. Hal ini memberikan perlindungan bagi tubuh, sekaligus mendorong perilaku sehat jangka panjang, seperti menjaga koneksi sosial dan tidak ragu untuk mencari bantuan medis saat dibutuhkan.

"Kepercayaan bukan hanya emosi yang menyenangkan, tetapi juga sumber daya psikologis yang ampuh. Jika dipupuk sepanjang hidup, kepercayaan dapat berkontribusi pada ketahanan emosional dan umur panjang fisik," terang Hafeez.

Riset juga menekankan bahwa interaksi interpersonal yang melibatkan keluarga dan sahabat memiliki ikatan yang paling kuat dengan tingkat kebahagiaan seseorang.

Baca juga: Punya Sahabat yang Baik Bisa Bikin Umur Lebih Panjang

Ilustrasi perempuan dengan MBTI ISFP.UNSPLASH/FUU J Ilustrasi perempuan dengan MBTI ISFP.

"Pada klien, salah satu faktor pelindung terpenting yang dapat membantu proses penyembuhan mereka adalah memiliki akses ke sistem dukungan sosial yang kuat dan positif," kata terapis pernikahan dan keluarga berlisensi, Patrice Le Goy, PhD.

Mengingat betapa pentingnya rasa percaya bagi kesehatan jantung dan umur panjang, kamu perlu belajar untuk membuka diri kembali secara bertahap, terutama jika pernah mengalami kekecewaan mendalam.

Baca juga: Dikenal Pemberani, 5 Zodiak yang Selalu Percaya Diri di Segala Situasi

Melatih kembali rasa percaya

Memulai dari interaksi kecil sehari-hari

Membangun rasa percaya kembali bisa menjadi tantangan yang sangat berat jika kamu pernah dikhianati di masa lalu.

Profesor konseling kesehatan mental klinis di Lebanon Valley College, Cynthia Vejar, PhD, menyarankan untuk memulainya perlahan melalui interaksi sehari-hari.

Misalnya, perhatikan bahwa rekan kerja dapat diandalkan dan terpercaya dengan datang tepat waktu, menepati janji, dan bisa bekerja sama.

“Pengamatan semacam ini dapat meyakinkan dan memungkinkan orang tersebut untuk mulai membuka diri terhadap interaksi yang mendalam dan bermakna di tempat lain,” kata Vejar.

"Apakah tindakan mereka sesuai dengan kata-katanya? Apakah mereka mendengarkan tanpa menghakimi? Apakah mereka menghormati batasanmu? Kepercayaan tumbuh ketika orang menunjukkan keandalan dalam hal-hal kecil sehari-hari," tambah Hafeez.

Baca juga: Cara Cinta Laura Atasi Insecure dan Membangun Percaya Diri

Ilustrasi bahagiaFreepik Ilustrasi bahagia

Mengevaluasi trauma dan pola pikir

Selain tindakan fisik, pemulihan ini juga memerlukan keberanian untuk menengok ke belakang. Mengevaluasi luka lama menjadi kunci agar kita tidak terus-menerus memproyeksikan rasa takut pada hubungan baru yang sebenarnya aman.

Le Goy menyarankan untuk mencari tahu akar masalah mengapa kamu sulit memercayai orang lain tanpa memproyeksikan luka lama tersebut pada orang baru yang belum tentu berniat menyakitimu.

"Apakah rasa sakit di masa lalu ini pantas ada dalam hubungan saat ini? Ini memungkinkan kita untuk mempertimbangkan bahwa kita bisa aman saat ini, meskipun kita pernah merasa tidak aman di masa lalu. Ini tentang membantu kita lebih percaya pada diri sendiri," kata dia.

Baca juga: Mengantuk di Dekat Pasangan Ternyata Tanda Rasa Aman

Menyeimbangkan rasa percaya dengan kewaspadaan

Meski manfaat kesehatannya luar biasa, memercayai orang lain bukan berarti kita harus melepaskan logika sepenuhnya. Kuncinya adalah menemukan titik keseimbangan di mana bisa tetap terbuka, tetapi juga bijaksana.

Kepercayaan ibarat otot yang harus dilatih perlahan seiring berjalannya waktu. Vejar menekankan perbedaan mendasar antara sikap bijaksana dan sikap sinis dalam memandang sebuah hubungan agar kamu tidak mudah terjebak dalam pusaran kecurigaan.

"Ini bukan tentang memercayai semua orang secara sama, tetapi tentang tetap terbuka secara emosional sambil menggunakan kebijaksanaan dalam menilai orang," ucap Hafeez.

"Kepercayaan seharusnya diperoleh orang melalui tindakan mereka, bukan sesuatu yang diberikan sekaligus," pungkas dia.

Baca juga: Anak Mengalami Cemas dan Depresi? Ini Pertolongan Pertamanya

Tag:  #belajar #memercayai #orang #sekitar #setelah #pernah #terluka

KOMENTAR