Gen Z Disebut Rentan Kesepian, Ini yang Perlu Orangtua Ketahui
Ilustrasi gen z. Psikiater menjelaskan bagaimana tekanan validasi digital dan FOMO membuat banyak anak muda sulit membedakan hubungan sehat dan hubungan yang melelahkan secara emosional.(Freepik/pvproductions)
20:05
27 Maret 2026

Gen Z Disebut Rentan Kesepian, Ini yang Perlu Orangtua Ketahui

– Di tengah kemudahan teknologi dan media sosial untuk terhubung dengan banyak orang, generasi muda justru disebut makin rentan mengalami kesepian.

Laporan Loneliness in America 2025 dari Cigna Group menunjukkan bahwa 67 persen Gen Z mengaku merasa kesepian, angka tersebut lebih tinggi dibandingkan generasi lain.

Chief Health Officer Crisis Text Line, Shairi Turner, menyebut kondisi ini sebagai krisis kesehatan masyarakat seiring meningkatnya penggunaan media digital.

“Koneksi tersebut (digital) bukanlah pengganti koneksi antarmanusia. Koneksi itu memberikan ilusi kedekatan, tetapi tanpa interaksi interpersonal yang nyata,” ujarnya, dikutip dari Los Angeles Times, Jumat (27/3/2026).

Baca juga: 6 Perilaku yang Menandakan Seseorang Kesepian, Apa Saja?

Teknologi dan Pandemi Jadi Faktor

Turner menjelaskan bahwa meski Gen Z terbiasa terhubung secara digital, interaksi tersebut tidak sepenuhnya menggantikan hubungan langsung atau tatap muka.

Ia menyebut bahwa koneksi melalui layar sering kali hanya memberikan rasa kedekatan semu tanpa keterlibatan emosional yang mendalam.

Selain itu, pandemi Covid-19 turut memperburuk kondisi ini karena banyak remaja melewati masa perkembangan sosial dalam situasi terbatas.

“Mereka melewati masa penting perkembangan dalam kondisi lockdown, sehingga kesempatan untuk membangun keterampilan sosial menjadi berkurang,” jelas Turner.

Perubahan dinamika keluarga, seperti meningkatnya anak yang dibesarkan dengan orangtua tunggal, juga disebut berkontribusi terhadap rasa kesepian.

Baca juga: 3 Momen Kritis yang Bikin Mahasiswa Diam-diam Merasa Kesepian, Apa Saja?

Temuan ini sejalan dengan laporan World Health Organization pada 2025 yang menyebut sekitar 1 dari 5 remaja usia 13 hingga 17 tahun mengalami tingkat kesepian yang tinggi.

Sementara itu, data dari Centers for Disease Control and Prevention menunjukkan 40 persen siswa sekolah menengah melaporkan perasaan sedih dan putus asa secara terus-menerus.

Data ini menunjukkan bahwa rasa kesepian pada remaja tidak hanya berkaitan dengan relasi sosial, tetapi juga berdampak pada kesehatan mental secara keseluruhan.

Baca juga: Kenapa Gen Z Lebih Sensitif Soal Perbedaan Usia dalam Hubungan Asmara?

Tanda-tanda Anak Mengalami Kesepian

Turner menyarankan orangtua untuk memperhatikan beberapa tanda awal.

“Apakah anak menghabiskan lebih banyak waktu dengan ponselnya daripada dengan teman-temannya?” ungkap Turner.

Ia juga menyebut tanda lain seperti anak sering pulang dalam kondisi sedih setelah berinteraksi sosial atau mulai menghindari aktivitas tatap muka.

Menurutnya, perubahan perilaku ini sering kali muncul secara bertahap dan dapat luput dari perhatian jika tidak diamati dengan saksama.

Baca juga: 9 Aktivitas Positif Saat Merasa Kesepian Menurut Pakar

Cara Membantu Gen Z Mengatasi Kesepian

1. Hadir dan dengarkan secara aktif

Untuk membantu Gen Z yang merasa kesepian, orangtua perlu memberi ruang bagi anak untuk bercerita tanpa dihakimi.

“Beri mereka ruang untuk berbagi perasaan mereka. Cukup hadir dan dengarkan,” saran Turner.

Pendekatan ini membantu anak merasa didengar dan dipahami, sehingga lebih terbuka dalam mengekspresikan emosinya.

Orangtua juga dapat berdiskusi bersama anak untuk mencari cara menghadapi situasi yang dihadapi.

Baca juga: 6 Aktivitas Ringan untuk Meredakan Stres dalam 10 Menit

2. Ajak aktivitas sosial di luar ruangan

Kegiatan santai seperti bermain di taman atau olahraga bersama dapat membantu anak membangun koneksi sosial.

Menurut Turner, aktivitas di ruang terbuka dapat mendukung kesehatan mental sekaligus mengurangi tekanan sosial.

Interaksi yang terjadi secara alami dalam aktivitas bersama juga dinilai lebih efektif dibandingkan percakapan yang terasa kaku.

3. Manfaatkan dukungan kesehatan mental

Selain itu, orangtua juga disarankan untuk mengetahui sumber bantuan seperti konselor sekolah, psikolog, atau layanan kesehatan mental di lingkungan sekitar.

Menurut Turner, memahami pilihan dukungan yang tersedia sejak awal dapat membantu orangtua bertindak lebih cepat ketika anak membutuhkan bantuan.

Langkah ini penting agar anak mendapatkan penanganan yang tepat dan tidak menghadapi masalah sendirian.

Meski menghadapi berbagai tantangan, Turner menekankan bahwa interaksi langsung tetap penting.

“Tidak pernah terlambat untuk mendorong dan memberikan contoh keterampilan sosial yang positif,” ujarnya.

Menurutnya, hubungan antarmanusia secara langsung tetap menjadi kunci dalam membangun koneksi yang lebih bermakna dan mengurangi rasa kesepian.

Baca juga: 5 Kebiasaan Sederhana dalam Hubungan Sehat, Kata Psikolog

Tag:  #disebut #rentan #kesepian #yang #perlu #orangtua #ketahui

KOMENTAR