Mengenal Taxi Cab Theory: Alasan Mantan Cepat Nikah usai Putus
Ilustrasi pasangan. Psikolog mengingatkan keputusan kembali menjalin hubungan hanya karena kasihan dapat memicu ketidakseimbangan dan masalah emosional dalam jangka panjang.(FREEPIK)
12:10
30 Maret 2026

Mengenal Taxi Cab Theory: Alasan Mantan Cepat Nikah usai Putus

- Hampir semua perempuan mungkin pernah mengalami situasi ini secara langsung: kamu menjalin asmara bertahun-tahun dengan pria yang menolak berkomitmen. Namun, begitu putus, si mantan tiba-tiba mantap menikahi pacar barunya.

Banyak yang percaya, seseorang ingin menikahi belahan jiwanya begitu mereka bertemu. Padahal, sebuah komitmen serius juga dipengaruhi oleh waktu yang tepat.

"Setiap orang tentu harus mencapai titik 'kesiapan psikologis' sebelum menetap dalam sebuah komitmen yang bisa berkembang menuju sebuah keluarga," terang terapis pasangan berlisensi di Florida, Amerika Serikat (AS), Nari Jeter, mengutip Self Magazine, Senin (30/3/2026).

Baca juga: Tak Cukup Modal Cinta, Ini Kesiapan Mental Sebelum Menikah Menurut Psikolog

Taxi Cab Theory dalam dunia nyata

Serial televisi "Sex and the City" memunculkan istilah Taxi Cab Theory, yang selaras dengan fenomena di atas. Teori ini mengibaratkan pria seperti taksi.

Ketika belum siap berkomitmen, “lampu tersedia” mereka seolah padam, mereka tidak akan benar-benar membuka diri, bahkan jika sudah menjalin hubungan cukup lama. Namun, saat kesiapan untuk menetap itu datang, lampu tersebut akan menyala.

Pada titik itulah, perempuan yang kebetulan hadir di waktu yang tepat, bukan semata yang paling lama bersama, berpotensi menjadi sosok yang akhirnya mereka pilih untuk dinikahi.

Baca juga: Apakah Takut Menikah itu Wajar? Ini Penjelasan Psikolog

Perbedaan kesiapan pria dan wanita dalam berkomitmen

Mencapai titik siap untuk komitmen pernikahan sering kali diartikan secara berbeda oleh pria dan wanita. Perbedaan cara pandang ini sebagian besar berakar dari norma-norma gender yang ditanamkan masyarakat.

Pria selalu didorong untuk menjadi tulang punggung keluarga dan wajib memastikan fondasi finansial mereka sudah kuat sebelum berani menikah.

Psikolog yang berbasis di Los Angeles, AS, Molly Burrets, PhD, menjelaskan, pria secara historis telah disosialisasikan untuk memprioritaskan karier dan profesi mereka.

"Mereka merasa telah menjadi 'orang dewasa seutuhnya' hanya ketika mereka mampu menafkahi dan menciptakan kehidupan yang stabil dan aman bagi diri mereka sendiri, serta keluarga mereka," tutur Burrets.

Baca juga: Tantangan Generasi Sandwich Menabung untuk Menikah di Tengah Biaya Hidup Tinggi

Ilustrasi cincin pernikahan.Dok. Shutterstock/pfluegler-photo Ilustrasi cincin pernikahan.

Di sisi lain, kaum wanita sejak dulu merasakan tuntutan sosial untuk segera menikah karena batasan waktu biologis dan pandangan budaya yang mengagungkan peran istri dan ibu.

Dinamika ini perlahan bergeser. Data dari Pew Research Center menunjukkan, wanita berpenghasilan setara atau lebih tinggi dari suami, meningkat tiga kali lipat dalam setengah abad terakhir. Namun, ekspektasi tersebut tetap kuat.

Wanita juga dinilai lebih terampil menyeimbangkan hubungan romantis dengan ambisi, ketimbang menganggap pernikahan sebagai garis finis terpisah.

Baca juga: Perempuan Mandiri Secara Finansial, Mengapa Banyak yang Menunda Punya Anak?

Fakta di balik Taxi Cab Theory

Ketika mencoba mengevaluasi kembali kisah cinta yang kandas, sangat mudah untuk mengaitkan hubungan seumur jagung dengan sebuah teori yang populer.

Namun, apa yang seolah menjadi bukti nyata dari Taxi Cab Theory, kemungkinan besar dipicu oleh berbagai faktor lain yang tidak terlihat. Apa saja?

1. Tingkat kecocokan yang memang lebih baik

Si mantan bisa saja terlihat seolah-olah mendadak membuka diri secara emosional kepada pasangan barunya. Namun, ada kemungkinan lain yang jauh lebih realistis untuk ditelaah.

"Mungkin saja ia lebih cocok dengan pasangan barunya," ujar Jeter.

Kecocokan yang dimaksud mencakup keselarasan nilai-nilai hidup, gaya komunikasi, hingga preferensi keseharian. Meskipun bagi sang mantan fakta ini ibarat pil pahit, itulah kebenaran yang kerap terjadi.

Baca juga: 5 Tanda Mantan Masih Memikirkan Kamu

2. Cara termudah merasionalisasi patah hati

Saat luka perpisahan terasa terlalu perih atau pemicu retaknya hubungan tidak jelas, mencari jalan pintas adalah hal yang wajar.

Burrets mengatakan, bersandar pada penjelasan seperti Taxi Cab Theory merupakan mekanisme koping wajar untuk mencari makna dari peristiwa yang membingungkan.

3. Godaan lembaran baru yang menyegarkan

Memutuskan menetap bersama sosok yang benar-benar baru bisa memberikan kejernihan mental yang luar biasa. Memulai babak baru sering terasa lebih ringan tanpa beban masa lalu.

"Meskipun hubungan masa lalu bisa dikenang dengan penuh kasih sayang, hubungan baru membawa janji akan peluang baru dan lebih sedikit masalah yang belum terselesaikan dan berlarut-larut," ungkap Jeter.

Kondisi ini menawarkan daya tarik bagi siapa saja yang tengah bersemangat menyambut fase hidup berikutnya.

Baca juga: 6 Rahasia Membangun Pernikahan Langgeng

4. Patah hati sebagai momen refleksi

Ironisnya, perpisahan terkadang menjadi dorongan yang membuat seseorang merenung dan menyiapkan diri menuju komitmen serius.

Fase menyendiri memberikan kesempatan untuk memoles komunikasi, mengurai ketakutan komitmen melalui terapi, dan menentukan kriteria mutlak pada hubungan berikutnya.

Saat akhirnya menggandeng pasangan baru, kesannya mereka berubah tiba-tiba. Padahal, kesiapan tersebut berakar pada proses refleksi yang mendalam.

Pada akhirnya, setiap individu memutuskan untuk "meresmikan" komitmen karena jutaan alasan yang tak terlihat. Sebagian alasan mungkin sangat logis, sementara sebagian lainnya akan selamanya menjadi misteri yang tidak dapat dijelaskan oleh siapa pun.

Baca juga: 9 Tanda Kamu Siap Menikah, Cek Sebelum Ambil Keputusan Besar

Tag:  #mengenal #taxi #theory #alasan #mantan #cepat #nikah #usai #putus

KOMENTAR