Kebanyakan Produk Perawatan Berprotein Bisa Merusak Rambut
– Protein dikenal sebagai salah satu komponen penting dalam menjaga kekuatan dan kesehatan rambut.
Berbagai produk perawatan rambut pun kini banyak mengandung protein, seperti keratin, kolagen, hingga peptida yang diklaim dapat memperbaiki kerusakan rambut. Namun, penggunaan produk berbasis protein secara berlebihan justru dapat berdampak sebaliknya.
“Seperti hal lainnya, terlalu banyak tidak selalu lebih baik,” ujar trichologist Emmanuel Mroczka, dikutip dari HuffPost, Selasa (31/3/2026).
Ia menjelaskan bahwa rambut yang mengalami kelebihan protein biasanya terasa kaku seperti, kasar meski sudah menggunakan kondisioner, serta lebih mudah patah dibandingkan elastis.
Para ahli menyebut kondisi ini sebagai protein overload (kelebihan protein), yaitu ketika rambut menerima terlalu banyak protein hingga menjadi kaku dan rentan rusak.
Baca juga: Kebiasaan Sepele yang Diam-diam Bikin Rambut Bercabang
Apa Itu Protein Overload?
Protein merupakan komponen utama rambut yang berfungsi menjaga struktur dan kekuatannya.
Menurut trichologist Caroline Ruggiero, rambut yang sehat memiliki keseimbangan antara struktur protein dan elastisitas.
“Rambut yang sehat adalah ketika matriks protein tetap utuh sehingga rambut kuat tetapi masih elastis dan berkilau,” jelasnya.
Namun, ketika produk berbasis protein digunakan terlalu sering atau dalam jumlah berlebihan, keseimbangan tersebut dapat terganggu. Akibatnya, rambut menjadi kaku, kasar, mudah kusut, dan lebih rentan patah.
Baca juga: Obat Penurun Berat Badan Sebabkan Rambut Rontok? Ini Kata Ahli
Mengapa Kelebihan Protein Bisa Terjadi?
Kelebihan protein biasanya terjadi akibat penggunaan berlapis berbagai produk perawatan rambut yang mengandung protein, seperti sampo, kondisioner, masker, hingga produk styling.
Selain itu, kondisi rambut yang sudah rusak juga dapat meningkatkan risiko penumpukan protein.
Dokter kulit Divya Shokeen menjelaskan bahwa paparan bahan kimia, seperti pewarna rambut, bleaching, atau penggunaan alat panas, dapat merusak kutikula rambut.
Ketika kutikula rusak, rambut menjadi lebih mudah menyerap produk, termasuk protein. Hal inilah yang membuat penumpukan protein lebih mudah terjadi, terutama jika penggunaan produk tidak diimbangi dengan perawatan yang tepat.
Baca juga: Jangan Sepelekan, Catokan Kotor Bisa Membuat Rambut Rusak karena Karatan
Tanda Rambut Mengalami Protein Overload
Gejala protein overload sering kali mirip dengan rambut kering sehingga tidak selalu mudah dikenali. Namun, terdapat perbedaan utama pada elastisitas rambut.
Rambut kering umumnya masih terasa lentur dan dapat kembali ke bentuk semula setelah ditarik. Sebaliknya, rambut dengan kelebihan protein cenderung terasa kaku dan mudah patah.
Mroczka menjelaskan bahwa rambut yang mengalami kondisi ini biasanya terasa kasar, sulit diatur, mudah kusut, serta mengalami banyak patahan di bagian tengah batang rambut.
Kondisi ini juga kerap disalahartikan sebagai kerontokan, padahal yang terjadi adalah rambut patah akibat kehilangan elastisitas.
Baca juga: 9 Kesalahan Perawatan Rambut Usia 50 ke atas yang Bikin Rambut Rusak
Jenis Rambut yang Paling Rentan
Tidak semua jenis rambut memiliki risiko yang sama terhadap protein overload.
Rambut yang tipis, sering mengalami proses kimia seperti pewarnaan atau pelurusan, serta rambut yang rusak akibat penggunaan alat panas cenderung lebih rentan. Selain itu, kondisi lapisan pelindung rambut juga berperan penting.
Rambut yang lapisannya sudah rusak atau terbuka lebih mudah menyerap produk, termasuk protein, sehingga berisiko mengalami penumpukan.
Sementara itu, rambut dengan lapisan yang lebih rapat cenderung membuat protein menumpuk di permukaan, yang dapat menyebabkan rambut terasa kaku dan kering.
Baca juga: Serum Penumbuh Rambut Ternyata Tak Selalu Efektif, Ini Penjelasan Dokter
Cara Mengatasi Protein Overload
Untuk mengatasi kondisi ini, langkah pertama yang disarankan adalah menghentikan sementara penggunaan produk berbasis protein.
“Langkah awal adalah menghentikan semua produk yang mengandung protein, termasuk masker dan produk styling dengan klaim memperbaiki atau memperkuat rambut,” ujar Mroczka.
Sebagai gantinya, gunakan produk yang berfokus pada hidrasi untuk membantu mengembalikan kelembapan dan elastisitas rambut.
Jika terjadi penumpukan produk, penggunaan sampo pembersih (clarifying shampoo) dapat membantu, tetapi sebaiknya tidak digunakan terlalu sering agar tidak membuat rambut makin kering.
Baca juga: 10 Warna Rambut yang Bikin Tampilan Terlihat Lebih Muda
Selain itu, disarankan untuk sementara mengurangi penggunaan alat panas dan perawatan kimia hingga kondisi rambut membaik. Setelah rambut terasa lebih lembut dan elastis, penggunaan protein dapat kembali dilakukan secara bertahap.
“Tujuannya adalah mencapai keseimbangan, bukan menghilangkan protein sepenuhnya,” tambah Mroczka.
Tag: #kebanyakan #produk #perawatan #berprotein #bisa #merusak #rambut