Hipotermia pada Balita Bisa Picu Hipoglikemia
ilustrasi bayi.(canva.com)
21:05
15 April 2026

Hipotermia pada Balita Bisa Picu Hipoglikemia

- Kejadian seorang bayi berusia 1,5 tahun yang mengalami hipotermia di Gunung Ungaran, Jawa Tengah, Sabtu (11/4/2026), memicu keprihatinan publik.

Kejadian ini bukan kali pertama seorang anak balita ataupun bayi berada dalam kondisi bahaya akibat kelalaian orangtua. Sebelumnya juga pernah terjadi balita mengalami hipotermia saat dibawa mendaki kedua orangtuanya.

Adapun hipotermia adalah kondisi yang perlu diwaspadai. Pasalnya, kondisi ini bisa memicu penurunan drastis kadar gula darah alias hipoglikemia.

"Saat anak kedinginan, tubuhnya bekerja lebih keras untuk tetap hangat. Nah, untuk menghasilkan panas dalam tubuhnya, dia perlu membakar energi yang lebih banyak," jelas dr. Arifin Kurniawan Kashmir, SpA., saat dihubungi Kompas.com pada Selasa (14/4/2026).

Dokter Arifin melanjutkan, salah satu sumber energi utama yang dibakar secara masif oleh tubuh saat merespons hawa dingin adalah glukosa di dalam aliran darah.

Baca juga: Apakah Ada Efek Jangka Panjang Balita Hipotermia di Gunung?

"Nah, kalau cadangan energinya sedikit, anak belum makan yang cukup, lagi sakit, atau ternyata paparan dinginnya lebih berat ya, maka gula darah bisa ikut turun," ucap dia.

Penurunan drastis inilah yang secara medis disebut sebagai kondisi hipoglikemia.

Tubuh balita: "Mesin" bertangki kecil

Dokter spesialis anak yang berpraktik di RS Sari Asih Ciledug, Tangerang ini menjelaskan bahwa anatomi dan sistem metabolisme tubuh manusia diibaratkan layaknya sebuah mesin kendaraan.

Saat dipaksa beroperasi di lingkungan bersuhu sangat rendah, mesin tersebut secara otomatis membutuhkan lebih banyak bahan bakar agar tubuh tetap hangat.

"Tubuh kayak mesin. Saat cuaca normal, mesin kerjanya biasa aja. Tapi kalau kedinginan, mesinnya harus kerja lebih keras supaya bisa nyala. Artinya, bahan bakar yang dipakai juga akan lebih cepat habis," terang dr. Arifin.

Baca juga: Kenali Gejala Hipotermia pada Balita Saat di Gunung

Kendati demikian, daya tahan balita sama sekali tidak bisa disamakan dengan orang dewasa. Kapasitas mereka dalam menyimpan energi cadangan di dalam tubuh sangatlah terbatas, sehingga mereka jauh lebih cepat tumbang saat menahan paparan dingin secara konstan.

"Nah, pada bayi dan balita, 'tangki' cadangan tenaga atau energi mereka itu lebih kecil daripada orang dewasa. Oleh karena itu, anak kecil lebih mudah kehabisan cadangan energi saat kedinginan yang terlalu lama," ucap dia.

Gejala lemas yang saling memperburuk

Menurunnya kadar gula darah inilah yang membuat kondisi fisik anak saat terserang hipotermia terlihat sangat mengkhawatirkan.

Kondisi lemas tersebut bukan murni hanya karena suhu lingkungan yang dingin membekukan kulit mereka, melainkan karena glukosa yang membantu menjaga kesadarannya telah terkuras habis.

Baca juga: Alami Hipotermia hingga Cedera Kaki, 4 Pendaki Gunung Dempo Dievakuasi

"Ini sebabnya kalau anak hipotermia bisa tampak lemas, ngantuk, pucat, enggak mau minum, atau kesadarannya turun. Nah, kondisi ini bukan karena dingin saja, tetapi karena kadar gula darahnya turun," terang dr. Arifin.

Ia juga mengingatkan bahwa kondisi kritis ini bisa berlaku dua arah layaknya lingkaran setan yang saling memperburuk.

"Jadi bukan hanya hipotermia bikin gula darah turun, tapi anak yang gula darahnya rendah juga bisa tampak seperti kedinginan, lemah, dan semakin susah untuk jaga suhu tubuhnya," tutur dr. Arifin.

Baca juga: Tanpa Disadari, Kebiasaan Orangtua Ini Bisa Melanggar Batasan Anak

Oleh karena itu, tenaga medis sangat mewaspadai ancaman hipoglikemia pada balita yang kedinginan di gunung.

"Setiap anak yang kedinginan punya risiko untuk terjadinya hipoglikeia, terutama kalau ada faktor-faktor risiko seperti anaknya belum makan, ada muntah, ada mencret, ada infeksi, ada kelelahan, atau berat badannya yang kurang, terutama kalau bayi-bayi kecil," ungkap dia.

Menilik rentetan risiko komplikasi medis yang bisa berujung fatal itu, memaksakan anak balita mendaki gunung merupakan sebuah kelalaian.

Mengedepankan ego demi ambisi mencapai puncak sama dengan mempertaruhkan nyawa buah hati.

"Bagi mereka, anak-anak kecil ini, kenangan terbaik itu bukan tentang seberapa tinggi dia sampai dibawa, tapi seberapa aman dia dijaga, dan bersama siapa dia menjalani proses perjalanan ataupun wisatanya," pungkas dr. Arifin.

Baca juga: Bukan Cuma Pintar, Ini 5 Ciri Anak Tangguh yang Bisa Diajarkan Orangtua

Tag:  #hipotermia #pada #balita #bisa #picu #hipoglikemia

KOMENTAR