Setop Jadi Manusia Pendendam, Ini Dampak Buruknya bagi Kesehatan
Ilustrasi marah(freepik.com)
10:05
29 April 2026

Setop Jadi Manusia Pendendam, Ini Dampak Buruknya bagi Kesehatan

- Menyimpan dendam terbukti tidak memberikan manfaat apa pun dalam hidup. Seiring erjalannya waktu, membiarkan amarah dan kebencian terus bersarang di pikiran justru berpotensi merusak kesehatan mental maupun fisik secara perlahan.

Dendam umumnya bermula sebagai respons terhadap ancaman, baik fisik, emosional, finansial, maupun sosial. Misalnya, pada orang asing yang menabrak tanpa meminta maaf, atau rekan kerja yang merebut hasil kerja.

"Tubuh mencoba melindungimu dari kemungkinan serangan atau ancaman lain," kata psikolog klinis dan pendiri Thrive Psychology Group, Charlynn Ruan, PhD, melansir Real Simple, Rabu (29/4/2026).

"Sayangnya, kewaspadaan berlebihan yang terus-menerus ini cenderung digeneralisasi ke orang lain," tambah dia.

Baca juga: 5 Zodiak yang Dikenal Mudah Marah, Ada Aries dan Scorpio

Memahami dan mengatasi akar dendam di dalam diri

Alasan psikologis di balik dendam

Tubuh manusia memiliki mekanisme pertahanan yang sering kali bekerja di luar kesadaran. Saat mengingat sosok yang mengkhianati kepercayaan, fisik akan merespons melalui perubahan tertentu, seperti rahang yang menegang atau telapak tangan yang mendadak berkeringat.

Kewaspadaan ini membuat kita rentan menganggap kesalahpahaman kecil sebagai ancaman serius. Akibatnya, kamu bisa saja menutup diri dari hal-hal baik yang datang akibat rasa dendam tersebut.

"Ketika kamu bersiap untuk bertahan, otakmu menyaring informasi positif dan cenderung melebih-lebihkan bahaya, ancaman, dan niat negatif," ucap Ruan.

Selain itu, emosi yang intens akan menciptakan kenangan yang melekat sangat kuat di ingatan. Sering kali, kamu lebih mudah mengingat kembali pertengkaran lama dibandingkan dengan pujian manis pada masa lalu.

Baca juga: Jangan Simpan Dendam, Ini Pentingnya Memaafkan Menurut Penelitian

"Ingatan yang sangat emosional, terutama yang dipasangkan dengan emosi negatif seperti kemarahan, kesedihan, atau ketakutan, sering kali disimpan di otak kita sebagai ingatan yang paling kuat," papar Ruan.

"Kita mungkin memiliki sejumlah besar emosi yang belum diproses, atau diproses dengan buruk yang terkait dengan dendam," sambung dia.

Melepaskan amarah terkadang terasa menakutkan karena dendam seolah telah menjadi bagian identitas diri. Hilangnya perasaan itu bisa memicu rasa hampa.

Baca juga: Memahami Tall Poppy Syndrome, Perasaan Iri Hati Saat Melihat Kesuksesan Orang Lain

Dampak buruk memelihara kebencian

Ilustrasi marah. Ilustrasi marah.

Menyimpan amarah membutuhkan energi yang sangat besar. Kondisi kewaspadaan terus-menerus ini dapat memicu keluhan fisik nyata, seperti gangguan pencernaan hingga kelelahan kronis.

Tanda bahwa dendam telah menjadi masalah serius adalah ketika kamu mulai menghindari tempat tertentu, merasa tegang saat memikirkan seseorang, atau menjadi lebih sinis.

Hal ini membuat kamu sulit membangun hubungan baru, sehingga lingkaran pertemanan menyempit.

Baca juga: Sulit Bergaul, Gen Z Mengandalkan AI untuk Ngobrol dengan Teman

Lakukan ini untuk melepas dendam

Luapkan amarah secara fisik

Amarah kerap membuat kita merasa terjebak dalam situasi yang sama. Oleh sebab itu, penting mencari cara produktif dalam menyalurkan emosi.

Salah satu yang bisa dilakukan adalah mengikuti kelas tinju atau melampiaskannya di ruang pelampiasan amarah. Menghancurkan benda secara fisik dipercaya mampu memberikan kelegaan emosional masif.

"Wanita, khususnya, tidak memiliki banyak saluran untuk melepaskan amarah dan kebencian dengan cara fisik," ujar Ruan.

Baca juga: Tak Sekadar Curhat, Ini Manfaat Journaling bagi Kesehatan Mental

Pahami apa yang bisa dan tidak bisa dikendalikan

Selanjutnya, pahami dengan baik batas kendali diri kamu. Terkadang, pihak yang bersalah tidak akan pernah mau meminta maaf atau bahkan justru menyalahkan kamu atas keretakan yang terjadi.

"Kendalikan apa yang bisa kamu kendalikan," saran Ruan.

"Hancurkan" seluruh perasaan yang membelenggu

Membentuk sebuah ritual pembebasan juga sangat dianjurkan. Kamu bisa meluapkan seluruh perasaan di secarik kertas lalu membakarnya, atau meneriakkan keluh kesah ke sebuah benda sebelum melemparnya ke danau.

Pada akhirnya, jadikan rasa sakit tersebut sebagai sarana pendewasaan diri. Menghindari masa-masa sulit adalah hal mustahil dalam kehidupan nyata.

"Mencoba menghindari hal-hal yang sulit hanya membatasi jumlah kebaikan yang kita biarkan masuk, tapi tidak benar-benar melindungi kita dari keburukan," kata Ruan.

"Orang-orang yang memiliki kehidupan yang indah, bermakna, dan kuat adalah mereka yang belajar menggunakan rasa sakit mereka untuk pertumbuhan, penyembuhan, rasa syukur, dan koneksi yang lebih dalam," tutup dia.

Baca juga: Ahli Ungkap Masalah Tumbuh Kembang Tersering akibat Gawai

Tag:  #setop #jadi #manusia #pendendam #dampak #buruknya #bagi #kesehatan

KOMENTAR