Jam Kerja ASN Saat WFH Justru Lebih Panjang, Ini Cerita Ibu Dua Anak
Ilustrasi WFH, work from home. Sosiolog UI menilai WFH Jumat untuk ASN belum tentu berdampak besar pada keseimbangan kerja, terutama jika tidak disertai budaya kerja yang jelas.(Google Gemini AI)
21:50
7 Mei 2026

Jam Kerja ASN Saat WFH Justru Lebih Panjang, Ini Cerita Ibu Dua Anak

Sistem work from home (WFH) yang dijalani sebagian aparatur sipil negara (ASN) ternyata tidak selalu membuat pekerjaan terasa lebih ringan.

Bagi Rahmi (39) dan Arisha (31), dua ibu ASN dengan dua anak, bekerja dari rumah justru membuat jam kerja terasa semakin panjang dan batas antara urusan kantor dengan kehidupan pribadi menjadi lebih tipis.

Rahmi, ASN di lingkungan Pemerintah Provinsi Jawa Timur, mengaku pekerjaan kerap masih berlanjut hingga malam hari meski dirinya bekerja dari rumah.

“Kadang malam masih melanjutkan pekerjaan kalau memang belum selesai,” ujarnya kepada Kompas.com, belum lama ini.

Rahmi yang memiliki dua anak usia sekolah dasar mengatakan, hari kerjanya tetap dipenuhi rapat daring, koordinasi dengan atasan, hingga penyelesaian laporan kantor.

Kendati begitu, ia tidak menampik bahwa pekerjaan domestik di rumahnya cukup terbantu dengan hadirnya asisten rumah tangga.

Baca juga: WFH Setiap Jumat Berisiko Sebabkan ASN Gen Z Merasa Kesepian, Psikolog Bagikan Tips Mengatasinya

WFH membuat Rahmi, ibu ASN di Jatim, merasa jam kerja makin panjang meski punya lebih banyak waktu bersama keluarga.
freepik WFH membuat Rahmi, ibu ASN di Jatim, merasa jam kerja makin panjang meski punya lebih banyak waktu bersama keluarga.

Koordinasi Kerja Justru Lebih Intens

Menurut Rahmi, salah satu hal yang paling terasa saat WFH adalah intensitas komunikasi dengan pimpinan yang justru meningkat dibanding saat bekerja di kantor.

“Kalau WFH, pimpinan jadi lebih sering menelepon atau koordinasi karena tidak bertemu langsung di kantor,” katanya.

Situasi tersebut membuat dirinya merasa harus selalu siap merespons pekerjaan meski sedang berada di rumah. Jam kerja pun terasa semakin panjang karena tidak ada batas tegas antara waktu bekerja dan waktu pribadi.

“Kalau di kantor kan jam 4 sudah pulang. Kalau di rumah kadang tidak terasa ternyata sudah lewat jam kerja,” ujarnya.

Meski demikian, Rahmi mengaku WFH tetap memberinya sisi positif, seperti lebih banyak waktu untuk keluarga dan kesempatan berolahraga di pagi hari sebelum bekerja.

Baca juga: Cara ASN Perempuan Memisahkan Urusan Rumah dan Kantor saat WFH, Ini Cerita Mereka

WFH Jumat digadang efisiensi, tapi realitanya tak selalu ringan. Dua ibu ASN ini bercerita soal kerja, rumah, dan beban multitasking.
dok. Farika Maula dan Arisha WFH Jumat digadang efisiensi, tapi realitanya tak selalu ringan. Dua ibu ASN ini bercerita soal kerja, rumah, dan beban multitasking.

Harus Multitasking Sambil Mengasuh Anak

Pengalaman berbeda dirasakan Arisha (31), ASN di salah satu kementerian pusat yang juga merupakan ibu dua anak balita.

Baginya, tantangan terbesar WFH justru datang dari tuntutan multitasking antara pekerjaan kantor dan pengasuhan anak.

“Zoom sambil jaga anak main, nyuapin anak, upload pekerjaan sambil tunggu masakan matang,” ujar Arisha.

Ia mengatakan, bekerja dari rumah tidak sepenuhnya membuat pekerjaan lebih santai. Sebaliknya, konsentrasi dan emosi justru lebih terkuras karena harus menjalankan banyak peran dalam waktu bersamaan.

“Dibilang lebih ringan sih tidak juga, karena harus lebih multitasking antara pekerjaan domestik dan pekerjaan kantor, tapi itulah hebatnay wanita semuanya tetap bisa selesai,” katanya.

Meski begitu, Arisha merasa WFH tetap membantu mengurangi kelelahan akibat perjalanan panjang dan kemacetan yang biasa dihadapi pekerja di Jakarta.

Baca juga: WFH Jumat: Peluang Slow Living atau Beban Baru bagi ASN? Ini Kata Mereka yang Menjalani

Lebih Lelah Mental daripada Fisik

Baik Rahmi maupun Arisha sama-sama merasa kelelahan saat WFH lebih banyak dirasakan secara mental dibanding fisik.

Menurut Arisha, dirinya tetap harus siaga merespons pesan atau telepon pekerjaan meski sedang berada di rumah.

“Iya banget. Kalau tidak cepat respons chat, nanti telepon bisa berkali-kali,” ujarnya.

Ia juga mengaku jam kerja menjadi lebih sulit dibatasi karena pekerjaan bisa kembali berlanjut pada sore hingga malam hari.

Meski menghadapi berbagai tantangan, keduanya menilai sistem kerja hybrid yang memadukan WFH dan work from office (WFO) masih menjadi pilihan yang cukup ideal.

Selain memberi fleksibilitas waktu, sistem tersebut juga dinilai membantu pekerja memiliki lebih banyak waktu bersama keluarga di tengah padatnya rutinitas kerja.

Tag:  #kerja #saat #justru #lebih #panjang #cerita #anak

KOMENTAR