Predator Mengintai Anak di Game Online, Orangtua Perlu Lakukan Ini
Ilustrasi fitur keamanan berbasis AI baru di Roblox yang akan mengubah chat kasar jadi sopan(Roblox)
09:05
10 Mei 2026

Predator Mengintai Anak di Game Online, Orangtua Perlu Lakukan Ini


- Minecraft, Roblox, dan Fortnite hanyalah sebagian kecil dari semesta digital yang kini menjadi taman bermain utama Generasi Alpha. Generasi yang lahir antara 2010 hingga 2024 ini tumbuh bersama game, bukan sekadar sebagai hiburan, melainkan bagian dari kehidupan sosial mereka sehari-hari.

Sebuah laporan menunjukkan bahwa 79 persen dari mereka bermain game setiap minggu. Dan meski Generasi Alpha diprediksi akan menjadi generasi gamer terbesar sepanjang sejarah, Generasi Z pun tak kalah lekat dengan dunia virtual: sebanyak 63 persen memilih bermain video game dibanding menonton film.

Sulit dimungkiri, game menawarkan banyak hal yang membuatnya begitu memikat. Ada kesenangan, rasa pencapaian, hingga koneksi sosial yang tercipta lewat kerja sama tim dan percakapan daring.

Baca juga: Komdigi Bakal Terapkan Rating Usia untuk Game Online dan Media Sosial

Bermain game juga kerap dikaitkan dengan peningkatan kemampuan kognitif, kreativitas, dan pemecahan masalah.

Namun di balik dunia yang penuh warna itu, tersimpan sisi gelap yang tidak selalu terlihat. Ruang digital yang ramai dan interaktif juga menjadi tempat yang mudah dimasuki predator online untuk mencari target.

Menurut laporan dari Thorn (organisasi nirlaba yang mengembangkan teknologi perlindungan anak dari kekerasan seksual) seperempat anak muda mengaku pernah mengalami pelecehan seksual di internet sebelum usia 18 tahun dengan imbalan sesuatu yang dianggap bernilai, termasuk melalui platform game.

“Sayangnya, kami melihat ancaman ini muncul di hampir semua platform,” ujar Melissa Stroebel, wakil presiden riset dan wawasan di Thorn.

Baca juga: Apa Itu Game Omori, Diduga Jadi Pemicu Siswi SD Bali Loncat dari Lantai 3 Pasar?

Menurutnya, platform game pada dasarnya adalah ruang sosial digital, dan itulah yang membuat pelaku kejahatan memanfaatkannya untuk mendekati anak-anak dan remaja.

Kekhawatiran ini muncul bahkan ketika sejumlah platform mulai memperkuat sistem perlindungan mereka. Roblox, misalnya, memperkenalkan pembaruan kontrol orang tua pada musim gugur 2024. Berbagai platform lain juga mulai mengembangkan moderasi konten yang lebih ketat, teknologi deteksi penyalahgunaan yang lebih proaktif, hingga fitur pelaporan yang lebih mudah digunakan.

Bahaya mengintai di balik game online

“Terlepas dari usaha terbaik yang dilakukan, pembuat game dan platform tidak dapat menciptakan lingkungan yang 100 persen aman dan bebas dari orang dewasa yang ingin memanfaatkan anak-anak,” kata Titania Jordan, penulis buku Parental Control dan kepala petugas orang tua di Bark Technologies, sebuah perusahaan aplikasi kontrol orang tua.

“Ini karena percakapan terjadi begitu cepat dan dapat dipindahkan ke platform lain seperti Snapchat atau pesan teks,” sambungnya.

Baca juga: Komdigi: Roblox Hilangkan Fitur Komunikasi dengan Orang Tak Dikenal

Ron Kerbs, pendiri dan CEO Kidas, perusahaan yang melindungi para gamer dari ancaman online, sangat menyadari risikonya.

Sebagai seorang ayah, ia menyoroti masalah-masalah ini khususnya untuk anak-anak penggemar game:

- Kecanduan atau waktu layar yang berlebihan yang memengaruhi tidur, pekerjaan sekolah, dan kehidupan sosial
- Paparan konten yang tidak pantas (kekerasan, ujaran kebencian, dan materi seksual)
- Penipuan dan upaya phishing, seperti item dalam game yang mencuri informasi
- Pelanggaran privasi, seperti berbagi detail pribadi tanpa menyadari risikonya

Para predator, akan meluangkan waktu untuk membangun kepercayaan dengan anak-anak agar mereka merasa cukup nyaman untuk berbagi informasi.

Baca juga: Tiru Gaya Freestyle Game Online, Bocah SD di Lombok Timur Cedera Fatal di Leher dan Meninggal

Cara orangtua melindungi gen Alpha

Orangtua memang tidak dapat mengendalikan segalanya. Namun, melakukan beberapa langkah proaktif untuk mendidik anak-anak, menetapkan batasan seputar bermain game, dan memantau konten dapat sangat membantu.

Gunakan alat pengaman
Orangtua dapat memasang aplikasi kontrol orangtua untuk membantu anak-anak tetap aman. Misalnya, aplikasi Kidas memantau komunikasi teks dan suara dalam game dan memperingatkan orang tua tentang potensi ancaman dan perilaku predator. Alat seperti ini sangat membantu karena mayoritas anak-anak tidak siap untuk menangani kontak online yang tidak pantas.

Bangun komunikasi terbuka
Mungkin akan terasa tidak nyaman untuk membahas dengan anak tentang risiko adanya ajakan seksual secara online, tetapi penting untuk bersikap jujur tentang hal itu.

Lakukan Tindakan proaktif agar anak siap dengan pemecahan masalah. Jordan menyarankan untuk mengajukan pertanyaan kepada anak seperti, "Apa yang akan kamu lakukan jika orang asing di Roblox menawarkan Robux sebagai imbalan atas foto kamu? Apakah menurutmu semua orang di aplikasi obrolan memang orang seperti yang mereka katakan?

Baca juga: Main Video Game Bisa Tingkatkan IQ Anak? Ini Penjelasannya

Bermainlah bersama anak
Singkirkan keraguan dan siapkan jempol untuk malam bermain game online. Laura Ordoñez, editor eksekutif Common Sense Media, mengatakan bermain bersama anak memberi orangtua pemahaman yang lebih baik tentang lingkungan game, dan mencatat tanda-tanda peringatan.

"Selama bermain game, Anda mungkin melihat pesan obrolan muncul dari orang asing atau undangan untuk bergabung dengan server pribadi," kata Ordoñez.

"Ini memungkinkan Anda untuk mendiskusikan interaksi ini tanpa terasa seperti interogasi dan memberi Anda wawasan tentang bagaimana anak menangani situasi ini," katanya.

Selama percakapan ini, jelaskan kepada anak bahwa mereka selalu dapat datang kepada ayah atau ibunya jika mengalami masalah.

“Jika seorang anak tahu bahwa orang tuanya tidak akan marah kepadanya, mereka jauh lebih mungkin untuk menjelaskan ketika mereka dalam bahaya. Dan ingat, ketika orang dewasa memanfaatkan seorang anak, itu bukanlah kesalahan anak tersebut,” kata Jordan.

Dengan pengawasan dan edukasi yang tepat, dunia virtual tetap bisa menjadi ruang bermain yang aman sekaligus menyenangkan bagi generasi yang tumbuh di era digital.

Baca juga: Pemerintah Resmi Batasi Akses Medsos Anak di Bawah 16 Tahun, dari YouTube hingga Roblox

Tag:  #predator #mengintai #anak #game #online #orangtua #perlu #lakukan

KOMENTAR