Libatkan Praktisi dan Akademisi, BUMN Peternakan Kebut Proyek Hilirisasi Ayam
Pelaksanaan forum group discussion (FGD) yang PT Berdikari, Jumat (8/5/2026)(Dokumentasi PT Berdikari )
11:24
10 Mei 2026

Libatkan Praktisi dan Akademisi, BUMN Peternakan Kebut Proyek Hilirisasi Ayam

Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di sektor peternakan, PT Berdikari, mulai membahas proyek hilirisasi ayam terintegrasi (HAT), yang disiapkan untuk menguatkan rantai pasok pangan nasional.

Program HAT merupakan proyek prioritas dari Presiden Prabowo Subianto melalui Kementerian Pertanian (Kementan).

Langkah PT Berdikari diawali dengan pelaksanaan forum group discussion (FGD) dengan melibatkan pemerintah, akademisi, badan riset, hingga praktisi peternakan. Forum tersebut digelar di Jakarta, Jumat (8/5/2026).

Baca juga: Harga Ayam Hidup Anjlok: Peternak Mandiri Tertekan, Suplai Berlebih Jadi Sebab

FGD dipandang sebagai ruang konsolidasi pemerintah, akademisi, badan riset, dan praktisi peternakan untuk merumuskan gagasan strategis.

Direktur Utama PT Berdikari, Maryadi, mengatakan perusahaan membuka ruang kolaborasi dengan akademisi dan lembaga riset dalam mendesain proyek hilirisasi ayam terintegrasi.

“Kami membuka inovasi kolaborasi untuk membuat atau mendesain proyek Hilirisasi Ayam Terintegrasi agar tercipta seperti harapan kita semua,” ujar Maryadi lewat keterangan pers, Minggu (10/5/2026).

Menurutnya, sinergi lintas sektor menjadi kunci menuju kemandirian pangan nasional. “Kami selaku korporasi senang bisa membantu masyarakat, khususnya peternak rakyat maupun negara nanti bisa saling kolaborasi dengan semua stakeholder yang ada,” paparnya.

Forum tersebut dihadiri Tenaga Ahli Menteri Pertanian Ali Agus, Direktur Pembibitan dan Produksi Ternak Kementerian Pertanian Harry Suhada, Dekan Fakultas Peternakan UGM Budi Guntoro, serta Kepala Pusat Riset Zoologi Terapan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Delicia Yunita Rahman, serat akademisi dan para ahli di bidang peternakan nasional.

Baca juga: Kementan Cari Cara Simpan Kelebihan Stok Pangan Nasional, Ada Beras, Jagung, dan Daging Ayam

Untuk diketahui produksi telur ayam ras melimpah, terutama di Kabupaten Magetan. Hal itu memicu kekhawatiran peternak terhadap potensi anjloknya harga di tingkat kandang.

Hal itu diakui oleh Presidium PINSAR Petelur Nasional, Yudianto Yosgiarso. Ia mencatat bahwa, produksi telur ayam nasional mencapai sekitar 18.000 ton atau setara 280 juta butir per hari.

Tingginya produksi telur disebut tidak diimbangi dengan serapan pasar yang cukup, terutama saat melemahnya daya beli masyarakat.

Harga telur di tingkat kandang kini turun dari sekitar Rp 26.500 per kilogram menjadi Rp 21.000 per kilogram. Angka tersebut diklaim sudah berada di bawah biaya operasional peternak.

Merespons kondisi tersebut, pemerintah lewat Kementerian Pertanian memastikan surplus produksi telur dikelola secara cepat dan terukur agar tidak menekan harga di tingkat peternak.

Berbagai percepatan penyerapan, distribusi, dan penguatan konsumsi terus didorong untuk menjaga stabilitas subsektor perunggasan nasional.

Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Makmun, mengatakan pemerintah terus memperkuat hilirisasi dan perluasan pasar hasil peternakan agar produksi peternak rakyat terserap optimal.

“Pemerintah terus memperkuat hilirisasi, distribusi, dan perluasan pasar agar hasil produksi peternak dapat terserap lebih optimal. Fokus utama kami adalah menjaga keberlanjutan usaha peternak rakyat sekaligus memastikan kebutuhan pangan masyarakat tetap terpenuhi,” ucap Makmun.

Kementan juga meminta pemerintah daerah ikut mengatur dan menertibkan pedagang maupun peternak yang menjual telur jauh di bawah Harga Acuan Penjualan (HAP).

Pemerintah menilai perlu ada pengendalian di tingkat daerah agar harga jual telur tetap dalam rentang HAP sehingga peternak tetap memperoleh keuntungan dan terus meningkatkan produksi.

Tag:  #libatkan #praktisi #akademisi #bumn #peternakan #kebut #proyek #hilirisasi #ayam

KOMENTAR