Iran Merasa ''di Atas Angin'' dalam Kesepakatan Potensial dengan AS
Foto dari Islamic Consultative Assembly News Agency (ICANA) ini memperlihatkan para anggota parlemen Iran berseragam Korps Garda Revolusi (IRGC) meneriakkan Matilah Amerika dalam pertemuan di Teheran, 1 Februari 2026.(ICANA NEWS AGENCY via AFP)
08:06
25 Mei 2026

Iran Merasa ''di Atas Angin'' dalam Kesepakatan Potensial dengan AS

- Sinyal berakhirnya perang mulai menguat seiring munculnya draf kesepakatan awal antara Amerika Serikat dan Iran. 

Meski "babak belur" akibat gempuran militer dan sanksi ekonomi, para pemimpin Iran justru bersiap menyambut hasil perundingan ini sebagai sebuah kemenangan strategis.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei pun mengunggah gambar relief kuno yang menunjukkan Kaisar Romawi berlutut di hadapan Raja Sassania dari Persia. 

“Dalam pandangan orang Romawi, Roma adalah pusat dunia yang tak terbantahkan. Orang Iran menghancurkan ilusi itu,” tulis Baghaei, sebuah sindiran tajam yang jelas dialamatkan kepada Washington, dikutip dari New York Times, Minggu (24/5/2026).

Baca juga: Berubah Sikap, Trump Minta AS Tak Buru-buru Capai Kesepakatan dengan Iran

Dari penyerahan tanpa syarat jadi meja kompromi

Persepsi kemenangan Iran didasarkan pada pergeseran drastis posisi politik Presiden AS Donald Trump. 

Dua bulan lalu, Trump bersumpah tidak akan ada kesepakatan kecuali Iran melakukan penyerahan tanpa syarat. 

Namun, laporan terbaru dari pejabat senior AS menunjukkan, Washington akhirnya terpaksa menerima posisi Teheran untuk mengakhiri kebuntuan lewat negosiasi, bukan pemaksaan militer.

Baca juga: Trump Redam Kecemasan Netanyahu, Janji Tak Abaikan Nuklir Iran

Berdasarkan draf kesepakatan awal, poin-poin utama yang disepakati meliputi pembukaan kembali Selat Hormuz secara penuh dan penyerahan persediaan uranium yang sangat diperkaya Iran.

Namun, pengamat mencatat banyak isu pelik yang sengaja ditunda ke negosiasi masa depan. 

AS dan Israel tampaknya gagal mencapai ambisi terbesar mereka. Sistem pemerintahan ulama di Teheran tidak runtuh meski pemimpin tertingginya terbunuh.

Sementara, draf ini sama sekali tidak membatasi kepemilikan rudal balistik Iran maupun jaringan milisi regionalnya.

Baca juga: Iran Tembak Jatuh Drone Mata-mata Israel Saat Kesepakatan Damai Hampir Tercapai

Faktor Mojtaba Khamenei

Analis dari Amwaj.media, Mohammad Ali Shabani menjelaskan, definisi kemenangan dalam konflik ini sangat timpang. 

Dibandingkan pendahulunya (Ayatollah Ali Khamenei) yang cenderung berhati-hati, generasi pemimpin baru Iran menunjukkan doktrin yang jauh lebih agresif dan sulit ditebak.

Iran terbukti berani mengambil risiko ekstrem dengan menutup Selat Hormuz dan membombardir negara Teluk sekutu AS. 

“Mereka menunjukkan bahwa Anda dapat terlibat perang dengan AS dan tidak sepenuhnya tersingkir," kata Shabani. 

Anda bisa melawan balik dan menimbulkan kerusakan besar pada ekonomi dunia, hingga memaksa mereka membuat kesepakatan,” sambungnya.

Baca juga: Iran Masih Tunggu Restu Mojtaba Khamenei, Belum Ketok Palu Damai dengan AS

Meredam krisis domestik

Perempuan Iran membawa potret Pemimpin Tertinggi Ayatollah Mojtaba Khamenei dalam kampanye mendukung dirinya di Enghelab Square, Teheran, 9 Maret 2026.AFP/ATTA KENARE Perempuan Iran membawa potret Pemimpin Tertinggi Ayatollah Mojtaba Khamenei dalam kampanye mendukung dirinya di Enghelab Square, Teheran, 9 Maret 2026.

Iran tengah dihantam krisis ekonomi parah akibat kerusakan infrastruktur industri mulai dari pabrik baja hingga petrokimia. 

Jika negosiasi ini menghasilkan pelonggaran sanksi minyak atau pencairan aset luar negeri, Iran dapat menjual narasi ini sebagai kemenangan besar kepada rakyatnya.

Farzan Sabet dari Geneva Graduate Institute menilai, efek jera yang berhasil dipertahankan Iran adalah kemampuan mereka untuk sewaktu-waktu kembali mengancam Selat Hormuz dengan drone dan roket.

Baca juga: Daftar Perusahaan Paling Diuntungkan akibat Perang Iran

Namun, pengaruh geopolitik ini diprediksi tergerus dalam jangka panjang karena negara tetangga seperti Arab Saudi dan UEA dipastikan akan mempercepat pembangunan jalur pipa darat alternatif yang memotong selat tersebut.

Pada akhirnya, tidak semua pihak sepakat menyebut ini sebagai kemenangan Iran. Ali Vaez dari International Crisis Group bersikap skeptis bahwa kedua negara bisa melangkah ke fase negosiasi subtansial berikutnya. 

Menurutnya, konflik ini telah menjadi dinamika lose-lose (sama-sama rugi), di mana tidak ada satu pihak pun yang benar-benar keluar sebagai pemenang sejati.

Tag:  #iran #merasa #atas #angin #dalam #kesepakatan #potensial #dengan

KOMENTAR