Gelas Reusable Tak Selalu Lebih Ramah Lingkungan, Ini Temuan Peneliti
Potret Gelas Reusable (Pexels/Polina Tankilevitch)
12:59
26 Mei 2026

Gelas Reusable Tak Selalu Lebih Ramah Lingkungan, Ini Temuan Peneliti

Penggunaan gelas atau botol minum reusable semakin populer di berbagai negara, termasuk Indonesia, sebagai bagian dari upaya mengurangi sampah plastik sekali pakai. Produk seperti tumbler kerap dianggap otomatis lebih ramah lingkungan dibandingkan kemasan sekali pakai. Namun, sebuah studi terbaru menunjukkan bahwa anggapan tersebut tidak selalu benar.

Penelitian yang dilakukan oleh tim dari International Degree Program in Climate Change and Sustainable Development (IPCS), National Taiwan University, mengungkapkan bahwa manfaat lingkungan dari gelas reusable sangat bergantung pada intensitas penggunaannya.

Dalam studi tersebut, peneliti menemukan bahwa gelas berbahan polypropylene (PP) baru dapat memberikan dampak lingkungan yang lebih rendah dibandingkan kemasan sekali pakai setelah digunakan sekitar 120 kali.

“Kemampuan untuk digunakan kembali saja tidak menjamin manfaat bagi lingkungan. Frekuensi penggunaan adalah faktor penentu yang sebenarnya,” ujar penulis utama penelitian, Yan-Ruei Huang, seperti dikutip dari studi tersebut bersama Prof. Yu-Kai Liao.

Temuan ini menegaskan bahwa produk reusable membutuhkan siklus penggunaan jangka panjang agar dampak lingkungan dari proses produksinya dapat “terbayar”. Sebab, produksi gelas reusable umumnya membutuhkan lebih banyak energi dan material dibandingkan produk sekali pakai.

Jika produk tersebut hanya digunakan beberapa kali sebelum rusak, hilang, atau tidak lagi digunakan, jejak karbon dari proses produksinya justru bisa lebih besar dibandingkan kemasan sekali pakai.

Penelitian itu juga menyoroti pentingnya sistem pendukung dalam penggunaan produk reusable. Faktor seperti proses pencucian, distribusi, pengumpulan kembali, hingga perilaku konsumen disebut sangat menentukan efektivitas pengurangan dampak lingkungan.

Bahkan, jika proses pencucian membutuhkan konsumsi air dan energi yang tinggi, manfaat ekologis dari penggunaan ulang dapat berkurang secara signifikan.

Di Indonesia, tren penggunaan botol dan gelas reusable terus meningkat seiring kampanye pengurangan sampah plastik. Laporan survei Jakpat 2024 mencatat sebanyak 56 persen Gen Z di Indonesia membawa botol minum sendiri sebagai bagian dari gaya hidup ramah lingkungan.

Selain itu, sejumlah pelaku usaha makanan dan minuman juga mulai memberikan insentif berupa diskon bagi pelanggan yang membawa wadah sendiri.

Namun, temuan penelitian ini menunjukkan bahwa perubahan perilaku menuju gaya hidup berkelanjutan tidak cukup hanya berhenti pada kepemilikan produk reusable. Konsistensi penggunaan dalam jangka panjang menjadi faktor kunci agar dampak lingkungannya benar-benar terasa.

Di sisi lain, persoalan sampah kemasan sekali pakai masih menjadi tantangan utama di Indonesia. Plastik, gelas minuman, dan limbah makanan masih mendominasi sampah perkotaan dan sulit untuk dikelola secara optimal.

Dengan demikian, penggunaan produk reusable tetap memiliki potensi besar dalam mengurangi sampah, selama didukung oleh kebiasaan penggunaan yang konsisten serta sistem pengelolaan yang berkelanjutan.

Editor: Bimo Aria Fundrika

Tag:  #gelas #reusable #selalu #lebih #ramah #lingkungan #temuan #peneliti

KOMENTAR