Pola Asuh Otoritatif Dinilai Paling Ideal, Begini Cara Menerapkannya pada Anak
Ilustrasi Pola Asuh Otoritatif(Pexels)
08:10
2 Juni 2026

Pola Asuh Otoritatif Dinilai Paling Ideal, Begini Cara Menerapkannya pada Anak

Pola asuh anak mengambil peranan penting dalam membentuk karakter dan bahkan menentukan masa depan anak.

Terdapat banyak pendekatan yang dapat dilakukan dalam membesarkan anak, ada orangtua yang memilih bersikap tegas dengan aturan yang ketat, ada juga yang lebih longgar menetapkan aturan demi menjaga kenyamanan dan kebebasan anak.

Meskipun demikian, para ahli menilai ada satu pendekatan yang berada di tengah-tengah keduanya. Gaya pengasuhan ini lah yang disebut sebagai pola asuh otoritatif atau authoritative parentingSimak selengkapnya berikut ini.

Baca juga: Dulu Pola Asuh Keras Dianggap Wajar, Kini Mengapa Berubah? Ini Penjelasan Psikolog

Pola Asuh Otoratif

Apa itu pola asuh otoritatif?

Konsep pola asuh otoritatif pertama kali diperkenalkan oleh psikolog perkembangan Diana Baumrind pada 1970-an. Ia membagi pola pengasuhan menjadi empat kategori utama, yaitu otoriter, permisif, otoritatif, dan mengabaikan.

Baca juga: Belajar dari Sosok Vidi Aldiano, Psikolog Ungkap Pola Asuh Turut Membentuk Anak Empatik

Dikutip dari Parents, Diana menjelaskan bahwa orangtua otoritatif bersikap tegas, tetapi tidak mengendalikan secara berlebihan atau membatasi secara kaku.

Metode disiplin orangtua otoritatif bersifat suportif, bukan menghukum, sebab poin utama pola asuh ini adalah orangtua ingin anak-anak mereka menjadi pribadi yang tegas, bertanggung jawab secara sosial, mampu mengatur diri sendiri, dan kooperatif.

Psikolog klinis Jeff Nalin memaparkan bahwa orangtua otoritatif memahami pentingnya aturan dan batasan, tetapi tidak menerapkannya secara berlebihan.

"Mereka mendorong anak-anak untuk mengekspresikan diri dan ikut mencari solusi atas masalah, tetapi tidak membebani mereka dengan terlalu banyak aturan atau ekspektasi yang tidak realistis," ujar Jeff, dilansir dari Parents.

Pola asuh ini berbeda dari pola asuh otoriter yang cenderung mengutamakan kepatuhan dan kontrol. Dalam pola asuh otoritatif, aturan tetap ada, tetapi dibarengi komunikasi dua arah, empati, dan dukungan emosional.

Baca juga: Pahami Perubahan Pola Asuh Orangtua Hadapi Anak Mulai Dewasa

1. Menanamkan tanggung jawab tanpa tekanan berlebihan

Pendekatan ini juga sejalan dengan temuan penulis dan jurnalis Jennifer Breheny Wallace dalam artikelnya untuk CNBC.

Setelah menghabiskan tujuh tahun mewawancarai ratusan siswa berprestasi dan keluarganya, Jennifer menemukan bahwa terlalu fokus pada pencapaian justru dapat menimbulkan tekanan yang tidak sehat pada anak.

Banyak anak yang ia temui merasa nilai, peringkat, dan prestasi menjadi tolok ukur utama harga diri mereka. Bahkan, sebagian mulai mempertanyakan apakah kasih sayang orangtua bergantung pada keberhasilan yang mereka raih.

Karena itu, Jennifer menyarankan agar orangtua membantu anak mengembangkan identitas yang tidak semata-mata bertumpu pada prestasi.

Baca juga: Jangan Asal Bersikap, Pola Asuh Orangtua Pengaruhi Hubungan Kakak Adik

"Ketika anak menemukan cara untuk berkontribusi yang tidak bergantung pada nilai, peringkat, atau ukuran eksternal lainnya, mereka membangun pemahaman yang lebih kokoh tentang siapa diri mereka dan peran besar apa yang bisa mereka mainkan di dunia," tulis Jennifer.

2. Membantu anak merasa dibutuhkan

Salah satu cara yang disarankan Jennifer adalah membantu anak melihat kebutuhan orang-orang di sekitarnya.

Hal-hal kecil seperti membantu tetangga, membagikan donasi kepada yang membutuhkan, atau turut terlibat dalam kegiatan sosial dapat membuat anak merasakan bahwa dirinya memiliki kontribusi yang berarti.

Jennifer menjelaskan bahwa pengalaman anak dalam membantu orang lain dapat memunculkan apa yang disebut psikolog sebagai "helper's high", yaitu perasaan bahagia yang muncul setelah melakukan kebaikan.

Baca juga: Waspada, Ini 7 Ciri Pola Asuh Orangtua Gaslighter Menurut Psikolog

Untuk menumbuhkan kebiasaan tersebut, orangtua bisa mulai melibatkan anak berdiskusi terkait aktivitas apa yang bisa dilakukan untuk berkontribusi terhadap masyarakat.

3. Anak belajar dari apa yang dilakukan orangtua

Selain melalui aturan dan nasihat, anak juga belajar dari perilaku yang mereka lihat setiap hari.

Karena itu, Jennifer menilai penting bagi orangtua untuk menjelaskan alasan di balik tindakan-tindakan sederhana yang menunjukkan kepedulian kepada orang lain.

Baca juga: Apakah Luka Batin akibat Pola Asuh Otoriter Bisa Menurun ke Anak?

Misalnya saat membantu teman yang sedang sakit atau mengecek kondisi tetangga, orangtua dianjurkan untuk menjelaskan agar anak memahami bahwa membantu sesama adalah bentuk perhatian terhadap orang lain.

Paparan terhadap internet yang membuat anak tereskpos terhadap berbagai macam pencapaian teman sebayanya dapat menempatkan anak pada posisi rentan untuk membandingkan diri dengan orang lain.

Oleh karena itu, penting bagi orangtua untuk membantu anak tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, peduli, dan mampu berkontribusi sebagai bekal untuk masa depan.

Tag:  #pola #asuh #otoritatif #dinilai #paling #ideal #begini #cara #menerapkannya #pada #anak

KOMENTAR