Sederet Serangan ke Pasukan UNIFIL di Lebanon dan Kecaman Indonesia
Ilustrasi prajurit TNI yang bertugas menjadi pasukan perdamaian United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) di Lebanon.(UNITED NATIONS INTERIM FORCE LEBANON (UNIFIL))
09:22
20 April 2026

Sederet Serangan ke Pasukan UNIFIL di Lebanon dan Kecaman Indonesia

- Serangkaian serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian United Nations Interim Force in Lebanon di Lebanon dalam beberapa waktu terakhir menimbulkan korban jiwa, termasuk prajurit TNI.

Hal ini memicu kecaman keras dari pemerintah Indonesia dan perhatian internasional di tengah eskalasi konflik di wilayah tersebut.

8 TNI jadi korban

Delapan prajurit TNI yang tergabung dalam misi perdamaian United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) di Lebanon menjadi korban di tengah eskalasi konflik.

Baca juga: Mengapa Kapal Perang AS Ada di Selat Malaka?

Kementerian Pertahanan RI menyampaikan bahwa situasi keamanan di wilayah penugasan dilaporkan memburuk dalam beberapa hari terakhir.

Pada 29 Maret 2026, satu prajurit TNI gugur dan beberapa lainnya terluka akibat dampak konflik di area operasi.

Pada 30 Maret 2026, kembali terjadi insiden di Lebanon Selatan yang melibatkan personel Satgas TNI saat menjalankan tugas pengawalan untuk mendukung operasional UNIFIL.

Dalam kejadian tersebut, dua prajurit TNI gugur dan dua lainnya mengalami luka berat.

Kementerian Pertahanan RI menyebut, insiden itu seiring meningkatnya intensitas pertempuran di wilayah tersebut dan penyebabnya masih diselidiki oleh pihak UNIFIL.

Hasil penyelidikan awal

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengungkap temuan awal terkait insiden yang menewaskan tiga prajurit TNI yang tergabung dalam pasukan penjaga perdamaian di Lebanon (UNIFIL).

Berdasarkan penyelidikan awal, satu prajurit tewas akibat proyektil tank yang ditembakkan oleh militer Israel, sementara dua lainnya meninggal akibat ledakan bom rakitan atau improvised explosive device (IED) yang kemungkinan besar dipasang oleh kelompok bersenjata Hizbullah.

Baca juga: Serangan Berulang ke Pasukan Perdamaian Indonesia, Pemerintah Surati Presiden DK PBB

“Ini adalah temuan awal yang didasarkan pada bukti fisik awal,” kata juru bicara PBB, Stephane Dujarric, dalam konferensi pers, Selasa (7/4/2026), dikutip dari Reuters.

Ia menegaskan, proses investigasi masih berlangsung, termasuk dengan melibatkan pihak-pihak terkait.

Dujarric menyebut, insiden tersebut sebagai sesuatu yang “tidak dapat diterima” dan berpotensi dikategorikan sebagai kejahatan perang menurut hukum internasional.

PBB juga telah meminta agar kasus ini diselidiki lebih lanjut oleh otoritas nasional guna membawa para pelaku ke pengadilan.

Tentang Perancis tewas

Terbaru, seorang tentara Perancis tewas dan tiga lainnya terluka dalam serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian PBB (UNIFIL) di Lebanon, Sabtu (18/4/2026).

Presiden Perancis Emmanuel Macron menyebutkan, indikasi awal mengarah pada keterlibatan kelompok Hizbullah dalam insiden tersebut.

“Semuanya mengarah pada Hizbullah yang bertanggung jawab atas serangan ini,” tulis Macron di X, seraya mendesak otoritas Lebanon segera menangkap para pelaku.

Insiden ini terjadi di tengah gencatan senjata 10 hari yang disepakati Israel dan Lebanon pada Kamis (16/4/2026), untuk membuka jalan negosiasi mengakhiri perang enam minggu antara Israel dan Hizbullah, kelompok yang didukung Iran.

Baca juga: Menakar Ulang Keterlibatan Indonesia di Pasukan Perdamaian PBB (Bagian I)

Adapun korban tewas bernama Sersan Staf Florian Montorio.

Menteri Angkatan Bersenjata Perancis Catherine Vautrin mengatakan, nyawa Montorio melayang akibat tembakan langsung saat unitnya disergap ketika menuju pos terdepan UNIFIL.

Ia mengatakan, pos itu terputus aksesnya selama beberapa hari karena pertempuran di daerah tersebut.

“Penyergapan dilakukan oleh kelompok bersenjata dari jarak yang sangat dekat,” kata Vautrin, dikutip dari AFP.

Sikap Indonesia

Pemerintah Indonesia menuntut agar dilakukan investigasi secara menyeluruh penyerangan terhadap prajurit perdamaian di Lebanon.

“Kita menuntut supaya dilakukan investigasi menyeluruh karena ini adalah misi penjaga perdamaian,” kata Menteri Luar Negeri Sugiono, usai menghadiri upacara pelepasan tiga prajurit TNI yang gugur di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Sabtu (4/4/2026) malam.

Ia menyampaikan, investigasi menjadi keharusan karena tidak seharusnya pasukan perdamaian mendapat serangan.

Baca juga: MPR Minta Seluruh Pasukan Perdamaian di Lebanon Ditarik Usai 3 Prajurit TNI Gugur

Sugiono menegaskan, harus ada jaminan keamanan bagi para prajurit penjaga perdamaian.

“They are peace keeping, not peace making. Mereka tidak dilengkapi dengan kemampuan untuk membuat ataupun peace making ini,” kata Sugiono.

Ia juga menekankan para penjaga perdamaian dilengkapi dan dilatih untuk menjadi perdamaian pada situasi damai.

Untuk itu, ia meminta Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengevaluasi lagi keselamatan para prajurit penjaga perdamaian di mana pun berada, khususnya di UNIFIL.

Tag:  #sederet #serangan #pasukan #unifil #lebanon #kecaman #indonesia

KOMENTAR