Deretan Temuan KNKT Terkait Kecelakaan Kereta di Bekasi Timur...
Kereta api (KA) jarak jauh melintas di samping taksi listrik Green SM yang rusak pascakecelakaan KRL Commuter Line dan KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (28/4/2026). Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengerahkan tim investigasi untuk mengumpulkan fakta terkait kecelakaan kereta api di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4) malam. (ANTARA FOTO/Fakhri Hermansyah)
09:02
25 Mei 2026

Deretan Temuan KNKT Terkait Kecelakaan Kereta di Bekasi Timur...

- Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) akhirnya mengungkapkan sejumlah temuan terkait kecelakaan antara KRL dan KA Argo Bromo Anggrek di Bekasi Timur pada 27 April 2026 lalu.

Dalam kejadian tersebut, total terdapat 16 orang yang meninggal dunia.

Mereka merupakan penumpang yang berada di gerbong perempuan KRL atau di paling ujung.

Kecelakaan ini dipicu oleh taksi Green SM yang tertabrak KRL ketika berhenti di tengah rel, sekaligus sinyal yang tetap hijau sehingga KA Argo Bromo Anggrek tetap melaju.

Baca juga: KNKT: Taksi Tak Error, Sopir Berkali-kali Menekan Gas Saat Posisi Netral dan Parkir

Atas kelalaian yang mengakibatkan kecelakaan KRL vs KA tersebut, sopir taksi pun ditetapkan sebagai tersangka.

Lantas, apa saja fakta yang didapati KNKT atas insiden ini?

Taksi tak error, sopir injak gas saat 'N'

Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono mengatakan, berdasarkan data onboard unit kendaraan, taksi listrik yang tertemper KRL tidak mengalami gangguan sistem sebelum kecelakaan terjadi.

“Data onboard unit kendaraan B 2864 SBX tidak terdapat rekaman yang mendeteksi error pada sistem berdasarkan data satu jam sebelum kejadian,” kata Soerjanto, dalam rapat kerja bersama Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Komisi V, Kamis (21/5/2026).

KNKT justru menemukan adanya pengoperasian transmisi yang tidak sesuai sesaat sebelum mobil berhenti di tengah rel pelintasan sebidang kereta api.

Soerjanto menuturkan, kendaraan awalnya melaju normal dari sisi utara menuju selatan perlintasan sebidang Jalan Ampera dengan posisi transmisi “D” atau drive dan kecepatan sekitar 15 kilometer per jam.

Namun, beberapa saat kemudian, transmisi kendaraan berubah ke posisi “N” atau netral saat mobil berada di jalur menurun dengan kemiringan 2,9 persen.

“Kemudian, kendaraan berpindah ke posisi N dan meluncur dengan kecepatan 3 sampai 7 kilometer per jam. Ini kami tidak tahu kenapa kok di posisi netralkan,” ucap dia.

Menurut KNKT, pengemudi kemudian membiarkan kendaraan meluncur sambil melakukan pengereman ringan hingga memasuki area perlintasan kereta.

Saat berada di rel, sopir disebut mulai berupaya menginjak pedal gas hingga 25 persen.

Namun, kendaraan tidak bergerak karena transmisi masih berada di posisi netral.

“Pengemudi terus menekan gas hingga 51 persen, kendaraan tidak bergerak karena dalam posisi N,” kata Soerjanto.

KNKT juga menemukan bahwa posisi transmisi sempat diubah ke “D” atau drive pada pukul 20.46.43 WIB.

Namun, saat itu, pengemudi tidak menginjak pedal gas.

Tak lama kemudian, transmisi kembali berubah ke posisi “P” atau parkir.

Dalam kondisi tersebut, pengemudi disebut tetap berusaha menghidupkan kendaraan.

“Selanjutnya handle berposisi pada P, di mana selanjutnya pengemudi menginjak gas, menginjak rem, menginjak on-off on-off, tapi selalu dalam posisi P sehingga mobil tidak bisa bergerak,” ujar Soerjanto.

Ada gangguan sinyal dan komunikasi

Soerjanto mengungkap sejumlah dugaan faktor yang berkontribusi dalam kecelakaan kereta itu.

Menurut dia, faktor tersebut meliputi gangguan sinyal akibat distraksi lampu di sekitar jalur hingga masalah komunikasi antar-pengendali perjalanan kereta.

“Yang pertama, sinyal bantu tadi yang terdistraksi dengan lampu-lampu sekitarnya. Kalau masinis bisa melihat sinyal bantu dengan baik, itu juga bisa membantu menghindari kecelakaan tersebut," ujar Soerjanto.

Menurut Soerjanto, masinis dan asisten masinis diduga tidak dapat melihat sinyal bantu dengan jelas, karena adanya distraksi cahaya dari lingkungan sekitar jalur kereta.

“Tapi, karena ada distraction, maka si masinis dan asisten masinis tidak bisa melihat dan artinya di sini ada gangguan di sinyal UB tadi, Pak,” kata dia.

Selain persoalan sinyal, KNKT juga menyoroti adanya jeda komunikasi saat insiden terjadi.

Soerjanto menuturkan, laporan awal adanya kecelakaan KRL dengan taksi diterima oleh pengendali perjalanan wilayah selatan, sedangkan perjalanan KA Argo Bromo Anggrek berada di bawah kendali pengendali wilayah timur.

Akibatnya, informasi harus diteruskan terlebih dahulu melalui beberapa pihak sebelum masinis KA Argo Bromo Anggrek dapat dihubungi.

Baca juga: Kecelakaan Kereta Bekasi Timur, KNKT Sebut Taksi Listrik dalam Keadaan Normal

“Nah, ini yang membikin jeda agak terlalu lama karena PK (petugas pengendali perjalanan kereta) Selatan harus memberitahu kepada Chief, Chief memberitahu kepada PK Timur untuk mengontak masinisnya,” ujar Soerjanto.

Dia menilai, sistem komunikasi antar petugas pengendali perjalanan kereta (PK) perlu diperbaiki untuk mencegah kecelakaan serupa terulang.

“Jadi, salah satu penyebabnya adalah selain tadi ada beberapa masalah sinyal di Bekasi yang tidak bisa mendeteksi adanya KA 5568 di Bekasi Timur, itu juga ada satu kondisi yang unsafe condition di kondisi itu, Pak. Selain itu juga ada gangguan distraksi sinyal ulang yang ada lampu-lampu dari sekitarnya pasar dan perumahan di sekitar sinyal tersebut. Yang ketiga adalah masalah komunikasi,” tutur Soerjanto.

Meski demikian, KNKT menegaskan paparan dalam rapat kerja tersebut masih berupa data faktual awal investigasi dan belum menjadi kesimpulan akhir penyebab kecelakaan.

KA sudah coba mengerem

Soerjanto mengungkapkan, masinis KA Argo Bromo Anggrek sebenarnya sudah mulai melakukan pengereman, sekitar 1,3 kilometer sebelum lokasi tabrakan dengan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur.

“Soalnya masinis sudah mulai mengerem di 1,3 kilometer sebelum lokasi tabrakan, Pak. Dia tahunya karena diinformasikan oleh PK Timur, pengendali jalur antara Manggarai sampai Cikampek,” kata Soerjanto.

Ketua Komisi V DPR RI Lasarus kemudian mempertanyakan apakah jarak pengereman tersebut cukup untuk menghentikan laju kereta, sebelum terjadi tabrakan.

“Ini kereta benar-benar aman itu butuh berapa kilometer mengerem baru berhenti?” tanya Lasarus.

Soerjanto menjelaskan, apabila masinis melakukan pengereman maksimal, KA Argo Bromo Anggrek seharusnya bisa berhenti dalam jarak sekitar 900 meter hingga 1 kilometer.

“Kalau dia melakukan pengereman secara maksimal, itu kira-kira kurang lebih antara 900-1.000 meter,” ucap Soerjanto.

Namun, menurut dia, masinis tidak melakukan pengereman maksimum karena informasi yang diterima dari pusat kendali hanya meminta pengereman secara bertahap sambil terus membunyikan klakson.

Baca juga: KNKT Ungkap Sederet Fakta Taksi Hijau dalam Kecelakaan Kereta di Bekasi Timur

“Tapi, karena dia tahunya di komunikasi pusat kendali ada temperan di JBL85, kamu berjalan direm sedikit-sedikit dan banyak-banyak semboyan 35 artinya banyak-banyak klakson, jadi masinis tidak melakukan pengereman maksimum,” kata Soerjanto.

"Karena informasi yang diterima dari PK Timur rem sedikit-sedikit dan sambil bunyikan klakson,” lanjut dia.

Lasarus lalu menyoroti adanya selisih jarak sekitar 300 meter apabila pengereman maksimal dilakukan sejak awal.

“Padahal kalau dia mengerem benar 900-1 kilometer sudah bisa berhenti?” tanya Lasarus.

“Iya,” jawab Soerjanto.

"Masih ada space 300 meter,” kata Lasarus lagi.

“Iya,” ujar Soerjanto.

Tag:  #deretan #temuan #knkt #terkait #kecelakaan #kereta #bekasi #timur

KOMENTAR