Mendikti Ungkap Motif Pelaku Riset Palsu: Manfaatkan ''Travel Grant'' untuk ke Luar Negeri
Menteri Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto mengungkap motif empat terduga pelaku kasus dugaan pemalsuan riset di konferensi International Society of Pneumonia and Pneumococcal Disease (ISPPD).
Berdasarkan laporan pihak Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), keempat pelaku itu memiliki motif untuk memanfaatkan travel grant ke luar negeri.
"Jadi, memang cukup kuat saat ini dugaan bahwa mereka ingin memanfaatkan travel grant ke luar negeri. Tapi tentu, ini memiliki atau sangat bermasalah dari sisi etik dan integritas," ucap Brian di Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa (2/6/2026).
Baca juga: Mendiktisaintek Akan Proses Hukum Pelaku Riset Palsu Denmark agar Jera
Brian menyebutkan, temuan ini diperoleh usai UNY melakukan koordinasi dan mendalami para terduga pelaku.
UNY dilibatkan dalam investigasi ini karena para terduga pelaku diduga alumni dari kampus itu.
"UNY juga telah berkoordinasi dengan kami, sudah mengundang langsung keempat terduga tersebut dan sudah diwawancarai, motif dan lain sebagainya," ungkap Brian.
Investigasi yang dilakukan UNY juga menunjukkan tidak ada unsur dosen atau peneliti dari kampus tersebut yang terlibat sebagai pelaku.
Baca juga: Mendikti Bentuk Tim Investigasi Riset Palsu Akademisi RI di Denmark
Oleh karena itu, Kemendikti Saintek terus mencari dan mengumpulkan data guna memproses ini agar kasus ini memberi efek jera.
"Karena data-data ini kita perlukan, mengingat yang bersangkutan atau terduga pelaku ini semuanya bukan dosen. Jadi, kita untuk tindak lanjut sebagai, Komisi Disiplin atau Komisi Etik, itu tidak bisa kita lakukan," kata Brian
"Jadi, kita akan mengumpulkan data. Kemudian, tentu kita ingin memberikan efek jera, karena ini, kita tidak ingin tindakan ini juga dianggap tidak ada punishment, gitu ya," imbuh dia.
Brian pun menegaskan bahwa kasus ini mencoreng kredibilitas penelitian di Indonesia.
Dia tidak ingin peneliti Indonesia yang betul-betul berkualitas justru terdampak hanya gara-gara tindakan oknum-oknum ini.
"Apalagi ini kan juga merugikan kredibilitas bangsa, peneliti-peneliti yang sudah benar-benar melakukan penelitian secara kerja keras dan seterusnya," ucap Brian.
Ia juga berencana memproses kasus ini lewat jalur hukum.
"Nah, kita akan mencari delik yang nanti sesuai. Kita tentu akan berkoordinasi barangkali juga kita mengundang aparat hukum begitu ya, penegak hukum, untuk kemudian kita lihat mana hal-hal yang bisa ditindaklanjuti untuk ditegakkan secara hukum," kata Brian.
Baca juga: Fakta-fakta Dugaan Skandal Riset Palsu di Denmark: Alumni LPDP, Bukan Dosen
Skandal riset palsu
Dugaan skandal riset palsu dibongkar oleh Dosen Universitas Udayana Ida Bagus Mandhara Brasika pada Selasa (26/5/2026).
Melalui akun Instagramnya, @mandharabrasika, ilmuwan iklim itu menyampaikan kecurigaannya pada seorang perempuan yang mempresentasikan risetnya di forum ISPPD, Denmark, pada 17-21 Mei 2026.
ISPPD adalah konferensi ilmiah terkemuka yang dihadiri oleh 1.300 peserta dari 86 negara pada 2026.
Kecurigaan itu muncul setelah perempuan tersebut mengubah-ubah tampilan busananya.
Baca juga: Riset Palsu, Mengapa dan Bagaimana Mereka Melakukannya?
Pelaku diduga melakukan penipuan identitas saat melakukan presentasi.
"Beberapa orang Indonesia ketahuan melakukan pemalsuan terorganisir... salah seorang peserta diduga berganti identitas saat presentasi, termasuk mengganti nama, jilbab, dan nametag," tulisnya pada Selasa (26/5/2026).
Selain itu, pelaku juga diduga menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk memalsukan data, gambar, hingga isi tulisan ilmiahnya.
Kejanggalan muncul pula dari lokasi penelitian yang dicantumkan dalam riset tersebut.
Baca juga: Kasus WNI Pemalsu Riset, Mendikti Ingatkan Etika Akademik dalam Penelitian
Disebutkan bahwa lokasi riset tersebar di berbagai belahan dunia, di antaranya Pegunungan Andes (Peru), Etiopia dan Sudan Selatan, Guatemala, Lebanon, dan Yordania, Bangladesh, Filipina, Nepal, India Utara, Kenya, hingga Malawi.
Masalahnya, seluruh tim peneliti diketahui hanya berasal dari Indonesia tanpa melibatkan kolaborator lokal dari negara-negara tersebut.
Kejanggalan lainnya adalah riset itu tidak memiliki keterangan persetujuan etik (ethical clearance). Unggahan tersebut kemudian viral di Instagram hingga Threads.
Tag: #mendikti #ungkap #motif #pelaku #riset #palsu #manfaatkan #travel #grant #untuk #luar #negeri