Eks PSM Bongkar Paspor Gate Pemain Keturunan Indonesia dan Alasan Tolak Jadi WNI
Gelandang Wiljan Pluim menunjukkan nomor punggung yang akan ia pakai bersama klub anyarnya Borneo FC. (HO-borneofc.id)
14:00
9 April 2026

Eks PSM Bongkar Paspor Gate Pemain Keturunan Indonesia dan Alasan Tolak Jadi WNI

Mantan gelandang PSM Makassar, Wiljan Pluim, akhirnya buka suara soal polemik paspor gate yang menyeret sejumlah pemain naturalisasi. Ini disampaikan sang pemain di siniar ESPN Belanda bertajuk Tekengeld.

Dalam diskusi itu, mereka mengulas kasus paspor gate yang melibatkan pemain eks Belanda yang dinaturalisasi negara lain namun masih berkarier di Negeri Kincir Angin.

Kasus ini turut menyeret beberapa nama yang kini berkaitan dengan Timnas Indonesia, seperti Dean James, Justin Hubner, Nathan Tjoe-A-On, hingga Tim Geypens, yang sempat dinonaktifkan sementara.

Dalam perbincangan tersebut, Pluim mengawali ceritanya dengan kilas balik karier panjangnya di Indonesia.

Pluim membela PSM Makassar pada 2016–2023 sebelum melanjutkan ke Borneo FC Samarinda pada 2023–2024.

Pemain PSM Makassar, Wiljan Pluim. [dok. LIB]Pemain PSM Makassar, Wiljan Pluim. [dok. LIB]

"Ya, itu benar. Kamu memang boleh, jika kamu sudah bermain selama lima tahun untuk klub yang sama, maka kamu otomatis berhak mendapatkan paspor," ujar Pluim.

"Pada saat itu juga sempat ada dorongan dari federasi apakah saya tidak ingin mengambil paspor tersebut, juga dari klub, karena dengan begitu kamu juga akan mengisi kuota pemain lokal, mengingat ada batasan jumlah pemain asing yang boleh dimiliki klub," kata Pluim.

Namun, keputusan besar itu tidak diambil secara gegabah. Pluim mempertimbangkan banyak aspek, terutama konsekuensi melepas paspor Belanda yang ia miliki.

"Namun, saya juga mendengar cerita dari pemain lain yang memiliki paspor itu, seperti bagaimana status paspor Belanda kamu?" imbuh Pluim.

"Bagaimana jadinya? Karena di Indonesia kamu hanya boleh memiliki satu paspor. Jadi, pada suatu titik saya mulai memikirkan hal itu. Apa yang saya inginkan setelah karier saya? Apakah saya ingin tetap tinggal di sana atau kembali ke Belanda? Namun, itu cukup cepat menjadi jelas, juga setelah berdiskusi dengan istri saya, bahwa kami akan kembali ke Belanda."

"Jadi, saat itu saya akhirnya memutuskan untuk tidak melakukannya, juga karena semua yang sedang terjadi sekarang. Saya sebenarnya tidak bisa mendapatkan kejelasan dari mana pun tentang situasinya," ucapnya.

Berbeda dengan Pluim, beberapa pemain memilih jalur naturalisasi, termasuk Marc Klok yang kini memperkuat Timnas Indonesia.

Selain itu, nama-nama seperti Ezra Walian, Raphael Maitimo, Stefano Lilipaly, Irfan Bachdim, dan Diego Michiels juga telah lebih dulu mengambil langkah serupa.

"Memang ada beberapa pemain yang sudah memilikinya saat itu dan mereka selalu mengatakan, 'Ya, sebenarnya tidak boleh, tetapi agak dibiarkan saja. Selama kamu membawa identitas Belanda, kamu bisa masuk ke negara itu tanpa visa', hal-hal seperti itu," ucap Pluim.

Pesepak bola PSM Makassar Willem Jan Pluim (kedua kiri) menggiring bola yang dihadang pesepak bola Lalenok United Timor Leste Francisco Minorino Savio (kiri) dan Francisco Da Costa (kedua kanan) dalam pertandingan play off AFC Cup 2020 di Stadion I Wayan Dipta, Gianyar, Bali, Rabu (22/1/2020). PSM Makassar menang atas Lalenok United, Timor Leste dengan skor 4-1. ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana/foc.Pesepak bola PSM Makassar Willem Jan Pluim (kedua kiri) menggiring bola yang dihadang pesepak bola Lalenok United Timor Leste Francisco Minorino Savio (kiri) dan Francisco Da Costa (kedua kanan) dalam pertandingan play off AFC Cup 2020 di Stadion I Wayan Dipta, Gianyar, Bali, Rabu (22/1/2020). PSM Makassar menang atas Lalenok United, Timor Leste dengan skor 4-1. ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana/foc.

"Jadi, itu tidak terasa nyaman bagi saya. Dan saya harus mengatakan bahwa saat itu juga tidak terlalu bernilai bagi saya untuk mengambil paspor Indonesia," ungkapnya.

Pluim memahami bahwa status WNI memberi keuntungan besar, termasuk peluang memperkuat tim nasional serta terbebas dari kuota pemain asing di liga.

"Ya. Mereka pada awalnya tentu melakukan itu untuk bisa bermain di tim nasional. Dan dari situ juga menjadi lebih mudah untuk akhirnya pergi ke Indonesia. Sebagai pemain asing, tidak selalu mudah untuk mendapatkan tempat," terang Pluim.

"Sekarang memang sudah lebih banyak, tetapi di masa lalu sebenarnya hanya ada tiga pemain asing yang bisa bermain per klub. Jadi, itu memang cukup menarik bagi para pemain saat itu. Dengan memiliki paspor Indonesia, kamu tentu meningkatkan nilai dirimu. Setidaknya di Indonesia, kamu langsung menjadi jauh lebih bernilai."

"Jadi, bagi sebagian pemain itu mungkin menjadi pilihan. Namun, bagi saya tidak, karena saya sudah bermain beberapa tahun dan tidak banyak lagi yang harus saya buktikan atau untuk meningkatkan nilai saya. Jadi, saya merasa lebih baik tidak mengambilnya dan pada akhirnya kembali," paparnya.

Terkait isu paspoortgate, Pluim mengaku sudah lebih dulu membicarakan potensi masalah ini dengan Anco Jansen sebelum kasusnya mencuat ke publik.

"Saya memang pernah menyinggungnya. Saya juga pernah membicarakannya, kalau tidak salah dengan Anco. Pada akhirnya memang tidak diperbolehkan, tetapi ada pemain yang tetap bermain di sini sekarang," kata Pluim.

"Saya pikir semuanya sedikit banyak merupakan kebijakan pembiaran, juga dari pihak Indonesia, bagaimana hal itu disampaikan. Dari agen yang bersangkutan, yang seperti disebutkan Anco tadi, punya peran besar dalam hal itu."

"Saya pikir semuanya berjalan dengan semacam janji-janji yang tidak sepenuhnya benar, seperti, 'Selama tidak dibicarakan maka tidak akan terlihat, tidak ada yang akan membahasnya, dan kamu bisa terus menjalani kariermu', Sampai akhirnya NAC Breda mulai waspada," ujarnya.

Menurut Pluim, situasi ini tidak sepenuhnya menjadi kesalahan pemain. Ia melihat adanya celah regulasi yang membuat kasus ini berkembang.

"Tidak, tetapi saya berpikir bahwa ini terutama terjadi karena federasi Indonesia menerapkan kebijakan pembiaran dan mereka hanya mengatakan bahwa secara normal hal ini tidak diperbolehkan," ucap Pluim.

"Sebagai negara, mereka juga tidak melakukan ini. Namun, dalam situasi ini, dengan target lolos ke Piala Dunia, mereka pada akhirnya mungkin menjanjikan hal-hal yang juga tidak mereka duga akan menimbulkan masalah di kemudian hari."

"Sulit untuk mengatakannya secara pasti, tetapi saya tidak berpikir para pemain benar-benar dijebak," pungkasnya.

Editor: Galih Prasetyo

Tag:  #bongkar #paspor #gate #pemain #keturunan #indonesia #alasan #tolak #jadi

KOMENTAR