Saya Nyaris Tertipu Chat WA soal Paket Hilang, Begini Modusnya
- Jenis penipuan online semakin marak. Salah satu modus yang belakangan sering terjadi adalah "paket hilang atau tertukar".
Saya juga mengalaminya baru-baru ini. Beberapa waktu lalu, saya mendadak dihubungi oleh nomor tak dikenal.
Nomor itu mengaku sebagai pihak sortir gudang. Foto profinya mencatut salah satu ekspedisi tanpa centang biru (tanda akun verifiksi di WhatsApp). Ia mengirim sebuah chat yang mengatakan bahwa paket yang saya beli di salah satu marketplace hilang.
Pesannya terdengar meyakinkan, sopan, dan terasa masuk akal, hingga nyaris membuat saya percaya.
Baca juga: Penipuan Berkedok Cinta: Belajar dari Sindikat Internasional yang Dibongkar di Tangerang
Kronologi dan modus penipuan
Isi chat modus penipuan paket hilang via WhatsApp
Nomor yang mengaku dari pihak ekspedisi menghubungi saya pada Selasa (13/01/26) via WhatsApp
Tanpa basa-basi perkenalan, pengirim langsung melampirkan tangkapan layar berisi informasi pesanan, antara lain nama penerima, alamat lengkap, nomor telepon, jasa pengiriman, hingga nomor resi.
Detail tersebut tampak sangat valid karena sesuai dengan data pengiriman yang memang sedang berjalan. Tanpa konteks lebih lanjut, pengirim langsung meminta konfirmasi singkat apakah data yang diberikan benar milik saya.
Karena memang sesuai, saya pun mengiyakan. Setelah mendapat konfirmasi, pengirim melanjutkan dengan narasi utama yaitu kabar bahwa paket dinyatakan hilang.
"Setelah kami cek dan laporan tim gudang, untuk saat ini paket pesanan tersebut dinyatakan HILANG pada saat proses pengiriman. Untuk proses dikirimkan ulang atau pengembalian dana, mohon kakak melengkapi beberapa data berikut agar kami bisa buatkan laporannya," begitu modusnya.
Pesan tersebut disusun dalam bahasa formal, menggunakan istilah teknis, dan menekankan bahwa proses ini dilakukan demi melindungi pelanggan dari kerugian.
Pengirim kemudian meminta lampiran tambahan berupa lampiran rincian paket pesanan dan lampiran tampilan akun pada aplikasi (sebagai bukti akun tersebut benar pemilik paket).
Karena curiga, saya mencoba memastikan apakah dia adalah pihak marketplace, merchant atau kurir.
Penipu pun mengaku sebagai pihak "pusat sortir gudang", dan meyakinkan korban bahwa barangnya tidak ditemukan. Agar lebih meyakinkan, pengirim kemudian memperkuat narasi dengan alasan teknis agar terdengar masuk akal.
"Untuk status pengiriman memang masih terus terupdate, kak. Tapi di sini barangnya tidak ada. Nanti di aplikasi akan muncul keterangan paket hilang saat pengantaran. Jadi sebelum estimasi waktu tiba, kami hubungi dulu kakaknya agar sebagai pelanggan tidak dirugikan. Silakan kak untuk dicek terlebih dahulu, nanti kami bantu buatkan laporannya," katanya.
Percakapan berhenti di situ. Saya tidak melanjutkan permintaan pelaku dan tidak mengirim tangkapan layar apa pun, karena yakin bahwa ini adalah modus penipuan. Terbukti bahwa paket yang disebut hilang, tiba di alamat saya dengan selamat.
Pola modus
Dari percakapan tersebut, terlihat sejumlah pola khas yang menjadi ciri modus ini, yakni:
- Menghubungi lebih dulu lewat WhatsApp, bukan melalui fitur chat atau notifikasi resmi di dalam aplikasi marketplace.
- Tidak ada perkenalan yang jelas, tapi langsung menyertakan data pesanan untuk membangun kepercayaan.
- Menggunakan istilah teknis seperti "pusat sortir", "tim gudang", dan "laporan" agar terkesan profesional.
- Berpura-pura memihak korban seolah menghubungi demi mencegah kerugian pelanggan.
- Meminta data tambahan di luar sistem resmi, termasuk tangkapan layar akun aplikasi.
- Tidak mengancam, tapi memanipulasi secara halus mendorong korban merespons cepat tanpa memicu kecurigaan.
- Kombinasi data valid, bahasa formal, dan narasi "demi melindungi pelanggan" membuat modus ini berbahaya, terutama bagi pengguna yang memang tengah menunggu paket.
Baca juga: Modus Baru Penipuan di Gmail, Saldo Rekening Bank Bisa Terkuras
Ramai di TikTok
Ternyata, pengalaman semacam ini bukan hanya milik kami. Penelusuran di TikTok menunjukkan bahwa modus penipuan "paket hilang via WhatsApp" ini cukup ramai dibahas oleh para pengguna.
Salah satunya adalah unggahan dari salah satu akun TikTok tautan berikut ini pada 25 Oktober 2025. Dalam postingan tersebut, ia membagikan tangkapan layar percakapan WhatsApp yang ia terima dari nomor asing.
Polanya hampir identik dengan yang kami alami yaitu nomor tak dikenal langsung mengirim data pesanan lengkap, termasuk nomor resi, berat barang, dan jenis kurir kemudian meminta konfirmasi kepemilikan.
Begitu korban mengonfirmasi, penipu langsung menyatakan paket dinyatakan HILANG dan meminta dua lampiran, seperti rincian paket pesanan dan tangkapan layar tampilan akun di aplikasi belanja, disertai instruksi agar segera dikonfirmasi.
Postingan ini bukan satu-satunya. Banyak pengguna lain di kolom komentar mengaku pernah dihubungi dengan metode yang sangat mirip, bahkan ada yang sudah terlanjur mengirimkan lampiran yang diminta.
Yang menarik, pola percakapannya hampir identik lintas korban yaitu dengan pembukaan dengan data pesanan, konfirmasi singkat, klaim paket hilang, lalu permintaan lampiran akun.
Hal ini mengindikasikan pelaku menggunakan skrip yang terstruktur dan kemungkinan beroperasi secara terorganisir.
Di antara banyak konten yang mengaku menjadi target modus penipuan ini, ada beberapa yang terlanjur mengirim informasi tambahan sesuai yang diminta penipu.
Namun, mereka justru menghadapi masalah lanjutan, seperti munculnya tagihan paylater atau cicilan digital yang tidak pernah mereka ajukan.
Tagihan tersebut baru disadari beberapa waktu setelah percakapan berakhir, dengan nominal bervariasi dan tercatat aktif di akun korban seolah transaksi dilakukan secara sah.
Risiko terbesar modus ini bukan sekadar kehilangan paket, melainkan penyalahgunaan data pribadi yang berdampak jangka panjang.
Ramainya konten yang mengungkap modus penipuan ini media sosial, seperti TikTok, menunjukkan bahwa modus ini masih aktif dan terus menjangkau korban baru, khususnya di kalangan pengguna muda yang akrab dengan belanja online.
Baca juga: Waspada Modus Baru Ini, Akun WhatsApp Bisa Dibajak Tanpa Perlu OTP
Bukan modus baru
Alfons Tanujaya, pengamat keamanan siber dari Vaksincom, menilai modus semacam ini bukan hal baru, tetapi tetap efektif karena menyasar titik lemah paling mendasar yaitu kelengahan korban di momen yang tidak terduga.
"Sadari bahwa pelaku ingin membuat korban lengah. Kapan korban lengah? Saat terkejut, atau saat sedang excited. Misalnya, 'loh, barang saya sudah dikirim?' kewaspadaan langsung hilang. Justru di momen seperti itulah kita harus paling berhati-hati," ujar Alfons.
Ia juga menegaskan bahwa kepercayaan pada data yang ditampilkan pelaku seharusnya tidak langsung melumpuhkan kewaspadaan.
Menurutnya, data pribadi masyarakat Indonesia, termasuk nomor telepon, alamat, hingga nomor resi sudah sangat mudah diperoleh di pasar gelap digital.
"Kita, orang Indonesia, perlu menyadari bahwa data kita sudah bocor. Kalau ada komunikasi masuk, pastikan kita berkomunikasi dengan pihak yang benar. Kalau kita yang ditelepon, hati-hati, super hati-hati. Bisa dibilang, kalau yang menghubungi tidak dikenal, 99 persen adalah penipu," kata Alfons ketika dihubungi via pesan singkat.
Baca juga: Orang Indonesia Hanya Bisa Pasrah kalau Ada Kebocoran Data
Soal dari mana pelaku mendapatkan data pesanan yang begitu lengkap dan akurat, Alfons menyebut hal ini perlu investigasi lebih lanjut dari pihak marketplace maupun ekspedisi.
Di lapangan, lanjut Alfons, standar pengelolaan data juga masih belum seragam.
"Saat pengiriman, data sudah di-masking oleh platform. Tapi ketika barang sampai di kurir, datanya (kemungkinan) terbuka, dan standar pengelolaan data di tingkat kurir inilah yang masih perlu diperbaiki," jelasnya.
"Perusahaan e-commerce yang ingin mencari mitra kurir harus memastikan kurirnya memiliki standar pengelolaan dan pengamanan data yang baik, bagaimana proses masking-nya, siapa saja yang berhak mengetahui data, dan informasi apa saja yang boleh diakses," paparnya.
Alfons juga menyoroti bahwa selama registrasi kartu prabayar masih mudah dilakukan tanpa verifikasi yang ketat, modus penipuan seperti ini akan terus berulang.
"Akar terbesarnya adalah mudahnya orang mendapatkan nomor prabayar. Setelah dipakai untuk menipu, mereka tinggal ganti dan beli lagi, bisa berulang tanpa batas," tegasnya.
Namun, kini pemerintah sudah memiliki regulasi baru soal kartu SIM prabayar, yang tertuang dalam Peraturan Menteri Komunikasi dan Digital (Permenkomdigi) Nomor 7 Tahun 2026 tentang Registrasi Pelanggan Jasa Telekomunikasi melalui Jaringan Bergerak Seluler.
Dalam aturan terbaru, registrasi kartu SIM wajib berbasis biometrik. Kartu perdana juga harus dijual dalam keadaan nonaktif, serta kepemilikan nomor dibatasi maksimal tiga per operator.
Aturan ini dirancang untuk mempersempit ruang penipuan digital, memperkuat perlindungan data, dan membangun ekosistem telekomunikasi yang lebih aman.
Alfons mengatakan, regulasi yang lebih ketat ini bisa menekan eksploitasi nomor prabayar yang sangat masif disalahgunakan untuk penipuan.
Ciri-ciri modus penipuan barang hilang
Alfons Tanujaya dari Vaksincom merinci tiga ciri utama yang bisa dikenali dari modus penipuan semacam ini. Pertama, penipu kerap menggunakan foto profil palsu.
Foto profil yang terkesan resmi, misalnya logo kurir atau ikon layanan pengiriman sering digunakan untuk membangun kesan legitimasi di awal percakapan.
Kedua, pelaku hampir selalu menggunakan nomor prabayar baru yang tidak terdaftar di kontak siapa pun. Ini memudahkan mereka berganti nomor setelah satu modus selesai dijalankan.
Ketiga, dan ini yang paling penting untuk diingat, "kalau kita sedang melakukan suatu aktivitas dan dihubungi, percayailah hanya kalau dihubungi dari platform resmi.
Kalau belanja di suatu platform, komunikasinya ya di aplikasi platform itu. Atau kalau mau menghubungi, kita yang hubungi, bukan mereka yang hubungi kita," kata Alfons.
Ia juga menambahkan satu peringatan yang kerap diabaikan adalah, jangan mencari nomor kontak layanan pelanggan melalui Google Search.
"Google sekarang sudah banyak informasi nomor kontak palsu, dan banyak forum berisi informasi palsu. Pastikan kita mengakses langsung dari aplikasi resminya, atau dari alamat website resmi yang sudah kita ketahui, jangan lewat mesin pencari," tegasnya.
Baca juga: Modus Baru Penipuan di Gmail, Saldo Rekening Bank Bisa Terkuras
Tips menghindari modus penipuan paket hilang via WhatsApp
Alfons menekankan bahwa mencegah data disalahgunakan bukan perkara mudah, karena masalahnya sudah dimulai jauh sebelum pesan penipu itu masuk. Karena itulah, kata Alfons, satu-satunya pertahanan yang tersisa adalah kewaspadaan aktif.
"Kalau ada komunikasi masuk, pastikan kita berkomunikasi dengan pihak yang memang benar. Kalau kita yang ditelpon, hati-hati super hati-hati. Jangan percaya dengan profile picture," pungkasnya.
Berikut langkah-langkah konkret yang bisa dilakukan saat menerima pesan mencurigakan:
- Jangan layani urusan pesanan lewat WhatsApp. Semua komplain, konfirmasi, atau pengembalian dana harus dilakukan melalui fitur resmi di dalam aplikasi marketplace.
- Jangan kirim tangkapan layar akun atau data pribadi apa pun kepada pihak yang menghubungi lewat nomor pribadi.
- Cek status pesanan secara mandiri langsung di aplikasi, jangan bergantung pada klaim dari pihak luar.
- Abaikan klaim "barang hilang" dari nomor yang tidak dikenal. Platform resmi tidak akan menyampaikan informasi krusial lewat WhatsApp pribadi.
- Jangan cari nomor layanan pelanggan dari Google. Gunakan aplikasi resmi atau website yang sudah kamu ketahui alamatnya langsung.
- Blokir dan laporkan nomor mencurigakan menggunakan fitur bawaan WhatsApp, dan pastikan ada tindak lanjut dari platform terkait.
Untuk keamanan akun jangka panjang:
- Aktifkan verifikasi dua langkah (2FA) di akun aplikasi belanja Anda.
- Pantau riwayat transaksi dan tagihan paylater secara berkala untuk mendeteksi aktivitas yang tidak dikenal.
- Batasi akses layanan keuangan digital yang terhubung ke akun jika tidak sedang digunakan.
- Jika sudah terlanjur berbagi data: segera ganti kata sandi, logout dari semua perangkat, dan hubungi layanan pelanggan resmi melalui kanal yang terverifikasi.
- Pengalaman ini menunjukkan bahwa penipuan online tidak selalu datang dalam bentuk tautan mencurigakan atau bahasa yang kasar. Justru yang paling berbahaya adalah modus yang terasa rapi, tenang, dan seolah membantu.
- Di tengah semakin kompleksnya layanan digital, kehati-hatian bukan lagi pilihan, melainkan keterampilan dasar.
- Memeriksa ulang informasi, membatasi data yang dibagikan, dan bertahan pada jalur resmi adalah upaya nyata melindungi diri dari risiko yang dampaknya bisa terasa jauh setelah percakapan itu berakhir.
Baca juga: FBI Keluarkan Peringatan Serius untuk Pengguna WhatsApp, Ada Modus Penipuan Baru
Dapatkan update berita teknologi dan gadget pilihan setiap hari. Mari bergabung di Kanal WhatsApp KompasTekno.
Caranya klik link https://whatsapp.com/channel/0029VaCVYKk89ine5YSjZh1a. Anda harus install aplikasi WhatsApp terlebih dulu di ponsel.
Tag: #saya #nyaris #tertipu #chat #soal #paket #hilang #begini #modusnya