600 Karyawan Google Tanda Tangani Surat Protes untuk CEO, Ini Pemicunya
CEO Google Sundar Pichai saat berjalan untuk makan siang di Konferensi Allen & Company di Sun Valley, Negara Bagian Idaho, Amerika Serikat, 9 Juli 2025. Setiap tahun, beberapa orang terkaya dunia beserta figur-figur berkuasa di media, finansial, teknologi, dan politik bertemu di acara yang berlangsung seminggu ini.(GETTY IMAGES NORTH AMERICA/KEVIN DIETSCH via AFP)
15:09
29 April 2026

600 Karyawan Google Tanda Tangani Surat Protes untuk CEO, Ini Pemicunya

- Karyawan Google ramai-ramai kompak memprotes CEO mereka, Sundar Pichai. Hal ini dipicu adanya rencana kerja sama antara Google dengan militer Amerika Serikat (AS).

Rencana tersebut berkaitan dengan penggunaan teknologi kecerdasan buatan (AI) dalam berbagai operasi rahasia militer AS.

Desakan ini disampaikan melalui surat terbuka yang ditujukan kepada Pichai pada 27 April 2026 waktu setempat AS.

Dalam surat tersebut, para karyawan menyoroti rencana kerja sama antara Google dan US Department of Defense (Pentagon), termasuk negosiasi penggunaan model AI andalan Google, Gemini AI, dalam lingkungan militer rahasia (classified).

Surat itu ditandatangani oleh lebih dari 600 pegawai dari berbagai divisi, termasuk Google DeepMind dan Google Cloud. Lebih dari 20 penandatangan berasal dari jajaran manajemen senior, mulai dari direktur hingga wakil presiden.

Baca juga: 100 Juta Pengguna Android Berpotensi Dapat Kompensasi dari Google

Kekhawatiran penyalahgunaan AI

Gedung Kementerian Pertahanan Amerika Serikat atau Pentagon, saat difoto di Washington DC pada 3 Maret 2022.AFP/JOSHUA ROBERTS Gedung Kementerian Pertahanan Amerika Serikat atau Pentagon, saat difoto di Washington DC pada 3 Maret 2022.

Dalam surat tersebut, karyawan menilai penggunaan AI dalam proyek rahasia berisiko tinggi lantaran minim transparansi.

"Beban kerja rahasia pada dasarnya tidak transparan. Saat ini tidak ada cara untuk memastikan bahwa alat kami tidak akan digunakan untuk hal-hal berbahaya atau mengikis kebebasan sipil," ujar salah satu karyawan dalam surat tersebut.

Karyawan juga mengkhawatirkan potensi penyalahgunaan teknologi, seperti profiling individu hingga penargetan warga sipil yang tidak bersalah.

Google sendiri disebut tengah bernegosasi untuk memastikan kerja sama AI dengan militer AS tetap aman melalui sejumlah klausul pembatasan.

Dalam negosiasi tersebut, Google mengajukan klausul yang melarang penggunaan AI untuk pengawasan massal domestik atau senjata otonom tanpa kendali manusia.

Namun, Pentagon menginginkan klausul yang lebih luas, yakni memperbolehkan penggunaan teknologi untuk “semua penggunaan yang sah” demi fleksibilitas operasional.

Para karyawan menilai batasan tersebut sulit ditegakkan secara teknis, apalagi kebijakan Pentagon disebut tidak mengizinkan pihak luar mengontrol penggunaan sistem AI mereka.

Mereka lanjut menegaskan bahwa perusahaan sebaiknya menolak keterlibatan dalam segala proyek militer rahasia untuk saat ini, jika manajemen serius ingin mencegah dampak buruk AI,

Saingan kontrak AI pemerintah

Ilustrasi perusahaan AI Anthropic.Shutterstock via qualcommventures Ilustrasi perusahaan AI Anthropic.

Hingga kini, Google belum memberikan komentar resmi terkait surat desakan tersebut, serta kepastian tentang penolakan kontrak AI dengan militer AS.

Namun, ini bukan pertama kalinya karyawan mendesak bos Google untuk menolak kontrak dengan Pentagon. 

Baca juga: Google Siapkan Investasi hingga Rp 670 Triliun ke Anthropic

Sebelumnya pada 2018 lalu, para karyawan meminta Google untuk menolak Project Maven, suatu program Pentagon yang menggunakan AI untuk analisis rekaman drone.

Saat itu, tekanan dari karyawan membuat Google akhirnya mundur dari proyek tersebut.

Namun dalam beberapa tahun terakhir, Google mulai kembali memperluas bisnisnya di sektor militer dan bersaing dengan raksasa cloud seperti Amazon Web Services dan Microsoft untuk mendapatkan kontrak pertahanan.

Terkait kerjasama di bidang militer, Google saat ini bersaing dengan perusahaan teknologi lain untuk menjadi penyedia utama AI bagi pemerintah AS, baik untuk kebutuhan rahasia maupun non-rahasia.

Salah satu pesaingnya adalah Anthropic, yang sebelumnya menolak penggunaan teknologinya untuk pengawasan massal atau peperangan otomatis.

Perusahaan ini bahkan sempat menggugat Pentagon setelah dikategorikan sebagai “risiko rantai pasok”, sebagaimana dirangkum KompasTekno dari Business Insider.

Tag:  #karyawan #google #tanda #tangani #surat #protes #untuk #pemicunya

KOMENTAR